Indikator Perdagangan Bunga, NGOBROL EKONOMI Saat Indikator Perekonomian Membaik, Tak Perlu Gigit

Peringkat broker opsi biner:

NGOBROL EKONOMI: Saat Indikator Perekonomian Membaik, Tak Perlu Gigit Jari

Kalau pergerakan ekonomi bisa dianalogikan dengan perubahan cuaca, hari-hari ini agaknya cuaca Indonesia mulai agak cerah.

Lihat saja pergerakan nilai tukar rupiah. Selama bulan Januari, nilai tukar rupiah telah menguat 2,8%. Dari Rp14.380 per dolar AS di awal Januari menjadi Rp13.972 per dolar AS pada 31 Januari.

Bahkan, rupiah sempat mencapai Rp13.887 per dolar AS pada 6 Februari. Hari-hari pekan kedua Februari ini, rupiah bergerak di kisaran Rp13.900 hingga Rp14.000-an per dolar AS.

Jika dibandingkan dengan posisi terendah sepanjang 2020, penguatan nilai tukar rupiah ini cukup signifikan. Dengan posisi Rp13.972 per dolar AS pada akhir Januari, berarti rupiah telah menguat 8,5% dibandingkan dengan level terendah rupiah Rp15.270 per dolar AS pada 11 Oktober 2020.

Tentu, ini adalah kabar baik. Pasalnya, tidak hanya rupiah, indeks harga saham di Bursa Efek Indonesia pun terus menguat.

Pada penutupan perdagangan 31 Januari 2020, IHSG naik 68,78 poin atau 1,06% ke level 6.532,97. Sepanjang Januari tahun ini, IHSG naik 5,6% dibandingkan penutupan perdagangan saham pada 2 Januari. Saat itu, IHSG berada di posisi 6.185,06.

Kenaikan IHSG sepanjang Januari ini memberikan optimisme tersendiri. Arus modal mulai kembali mengalir ke emerging markets. Para pemilik uang yang tadinya berharap ekonomi Amerika lebih menjanjikan, sepertinya mulai berpikir ulang.

Apa tanda-tandanya? Para pembuat kebijakan di bank sentral Amerika, The Fed, mulai ragu untuk terus menaikkan suku bunga. Tren kenaikan suku bunga yang tadinya diduga berlangsung agak lama, mulai menunjukkan sinyal kendor. Tak lagi gaspol.

Beberapa indikator menunjukkan, mulai terjadi aliran dana masuk lumayan deras ke pasar Indonesia selama sebulan terakhir. Bahkan, investor ditengarai membeli instrumen investasi jangka panjang.

Biasanya, perilaku investor mengindikasikan banyak hal lain. Kalau banyak dana mengalir masuk ke instrumen investasi jangka panjang, ada pertanda bahwa perekonomian negara tujuan aliran dana itu memberikan harapan lebih menjanjikan dalam jangka panjang. Kalau mau diringkas, hal itu mengindikasikan kepercayaan terhadap Indonesia menanjak kembali.

Peringkat broker opsi biner:

Moga-moga saja, itu bukan prediksi yang ngoyoworo, apalagi wishfull thinking.

***

Coba deh buka ulang memori sejak awal tahun lalu, saat nilai tukar rupiah menunjukkan tren melemah Rp14.000 per dolar AS, lalu menembus Rp15.000 per dolar AS menjelang akhir tahun.

Isu mengenai defisit transaksi berjalan rame disoroti sebagai biang keladi pelemahan nilai tukar rupiah. Isu lainnya adalah kebijakan The Fed yang cenderung menaikkan suku bunga, serta perang dagang yang dilemparkan Presiden Donald Trump melawan China.

Para politisi rame berteriak bahwa ekonomi memburuk. Sebagian ekonom pun tak kurang menyuarakan hal yang sama. Banyak saran disampaikan, termasuk menghentikan proyek infrastruktur yang ditengarai sebagai biang kerok impor bahan baku dan barang modal.

IHSG yang jadi tolok ukur aliran modal portofolio, yang mudah digerakkan oleh sentimen sesaat pelaku pasar, juga turut terkapar. Banyak kabar buruk beredar. Itu tahun lalu.

Namun, cerita tentang rupiah hari ini begitu lain. Padahal, tidak banyak sebenarnya perubahan fundamental di dalam negeri, yang dapat menjelaskan mengapa rupiah menguat. Bahkan, kondisi transaksi berjalan juga masih defisit. Kisarannya masih berada di angka US$8 miliar. Sebuah angka yang besar.

Apalagi kalau melihat defisit neraca perdagangan yang mengenaskan. Defisit perdagangan tahun 2020 lalu mencapai US$8,6 miliar. Angka itu membuat banyak pihak gusar.

Namun saya percaya, ekonomi pada dasarnya adalah asumsi. Itu berarti, tidak seluruh asumsi yang dipakai untuk menjelaskan pelemahan rupiah tahun lalu cukup valid. Kalau boleh meminjam istilah hukum, hal itu dapat dijelaskan dengan dalil “pembuktian terbalik”.

Belakangan ini, di saat tidak terjadi perbaikan atau perubahan fundamental ekonomi yang cukup berarti, rupiah ternyata menguat relatif cepat dan signifikan.

Penjelasannya, lalu diasumsikan, akibat perubahan kebijakan moneter di Amerika Serikat. Dolar Amerika Serikat melemah atas banyak mata uang dunia, terutama emerging markets, setelah The Fed bertahan tidak menaikkan suku bunga.

The Fed, pada Rabu malam (30/1) waktu Jakarta, mempertahankan tingkat bunga di kisaran 2,25% hingga 2,5%. Komite Kebijakan The Fed yang dikenal dengan sebutan FOMC atau Federal Open Market Committee, mesti bersabar mengantisipasi pelambatan ekonomi global.

Akibatnya, dolar AS terus melemah, dan mata uang dunia yang lain, sebaliknya, terus menguat. Menutup bulan Januari, bahkan rupiah menjadi mata uang yang menguat paling besar di Asia. Di belakang rupiah, penguatan terbesar dialami Yen yang naik 0,39% dan Won yang terapresiasi 0,33%.

Tahun lalu, saat rupiah menuju Rp15.000 per dolar AS, banyak sekali meme bully-an yang beredar cepat di grup-grup aplikasi pesan. Isinya hujatan. Namun, hari ini, saat rupiah berbalik menguat signifikan, tak ada pesta bersulang. Sepi apresiasi, apalagi kampai.

***

Terus terang, saya ingin mengapresiasi tim ekonomi pemerintah atas perbaikan berbagai indikator ekonomi akhir-akhir ini.

Memang tidak ada hubungan langsung antara apresiasi rupiah dan tim ekonomi. Namun, pergerakan harga di pasar finansial adalah indikator kepercayaan. Kalau terjadi kecenderungan harga turun, itu indikator kepercayaan yang menipis. Sebaliknya, kalau kecenderungan harga naik, itu berarti kepercayaan menebal. Simpel saja. Nggak usah terlalu njlimet.

Jika rupiah menguat lebih besar dibandingkan dengan mata uang negara lain di Asia, artinya juga simpel: indikasi bahwa pemilik modal dari Amerika menaruh kepercayaan lebih tebal terhadap Indonesia.

Begitu pula sebaliknya. Bisa soal stabilitas, prospek ekonomi, proyeksi risiko dan prospek return atas modal yang ditanamkan.

Untuk ini, ada penjelasannya. Soal moneter, jelas, bahwa Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo kian solid menjaga kebijakan berbasis stabilitas.

Bahkan, Bank Indonesia cenderung akan membiarkan rupiah menguat lebih lanjut, karena level saat ini masih undervalued. Karena itu, Bank Indonesia berupaya sekuat tenaga menjaga kepercayaan investor terhadap rupiah, agar terus menguat.

Lalu soal fiskal, Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati juga membukukan kinerja mengesankan. Tak gamang oleh berbagai serangan, Menkeu Sri Mulyani konsisten dengan keyakinan atas pilihan kebijakan fiskal yang ditempuhnya.

Faktanya, Menkeu berhasil meletakkan landasan fiskal yang semakin kokoh. Salah satu indikatornya, dalam 3 tahun terakhir, Menkeu berhasil membalik tren defisit keseimbangan primer menuju ke arah positif.

Bayangkan saja, sejak tahun 2020, defisit keseimbangan primer dalam APBN pemerintah terus membengkak secara konsisten hingga tahun 2020. Puncak defisit keseimbangan primer terjadi pada tahun 2020. Tren tersebut berhasil dihentikan, sehingga berbalik mulai berkurang pada tahun 2020 dan 2020.

Bahkan pada tahun 2020, sudah hampir tidak ada lagi defisit keseimbangan primer dalam APBN Indonesia. Diproyeksikan keseimbangan primer dalam APBN tahun ini akan berbalik surplus. Ini capaian yang sangat tidak mudah, di tengah berbagai disrupsi dalam kegiatan ekonomi, dan dinamika global yang sangat kompleks yang memengaruhi kinerja APBN.

Lantas apa makna surplus keseimbangan primer? Kira-kira begini: di luar keperluan untuk membayar beban pokok dan bunga pinjaman yang telah terakumulasi dari tahun ke tahun, APBN tahun ini sudah tidak lagi membutuhkan pembiayaan defisit. Di atas kertas, tidak perlu utang lagi untuk membiayai operasional APBN. Artinya, secara teoritis profil APBN sehat sekali.

Saya kira, itu adalah berkat tangan dingin Sri Mulyani Indrawati.

Sebenarnya akan lebih sempurna, apabila penerimaan perpajakan juga dapat terus ditingkatkan. Jika hal itu dapat dilakukan, surplus keseimbangan primer akan terus membesar, sehingga secara perlahan akan mengurangi ketergantungan terhadap utang. Di sinilah titik yang perlu diperbaiki: Menkeu perlu menginjak gas lebih dalam untuk memacu reformasi perpajakan.

Di luar indikator moneter dan fiskal, terlalu gegabah bila dibilang catatan ekonomi Indonesia buruk. Tahun lalu, ekonomi Indonesia mampu tumbuh 5,17%. Ini disertai stabilitas harga-harga, yang ditandai dengan laju inflasi rendah, di kisaran 3,5%.

Itu tentu bukan sekadar angka statistik. Stabilitas ekonomi itu telah berdampak positif kepada pembangunan manusia secara keseluruhan. Banyak indikator pembangunan ekonomi yang, pinjam istilah Sri Mulyani, “truly matters to the people.”

Sebut saja angka kemiskinan terus menurun menjadi 9,66% dan gini rasio yang kian membaik. Akan lebih panjang kalau dibuat daftar, seperti pemerataan infrastruktur sampai ke desa-desa dengan dana desa, perbaikan logistik nasional, kemudahan berbisnis dan lainnya.

Puncaknya, pada pekan pertama Februari ini, BPS mengumumkan pertumbuhan ekonomi 2020 mencapai 5,18%, terbaik sejak 2020. Setelah itu, PDB per kapita Indonesia dinyatakan memasuki kawasan kelas menengah atas, bukan lagi kelas menengah bawah.

Sekali lagi, tentu masih banyak pula catatan perbaikan yang diperlukan di banyak area pembangunan ekonomi.

Saya sih, cukup happy dengan berbagai indikator itu. Ada tanda-tanda gairah kemajuan, yang memberikan harapan perbaikan kehidupan masyarakat kita ke depan.

Namun, jangan-jangan, berbagai kecenderungan perbaikan indikator ekonomi ini malah bikin banyak pihak gigit jari. Bukan senang, justru malah tidak hepi, karena kehilangan peluru untuk mengolok-olok negeri sendiri.

Nah, bagaimana menurut Anda? (*)

  • Sumber: disunting dari rubrik Beranda Bisnis Indonesia edisi 1 Februari 2020. Judul asli: “Penguatan Rupiah yang Bikin Gigit Jari”

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

Jendela

Time – Palembang

Content

  • ►2020 (1)
    • ►Maret (1)
  • ►2020 (3)
    • ►Desember (1)
    • ►Oktober (2)
  • ►2020 (2)
    • ►Maret (2)
  • ►2020 (1)
    • ►Oktober (1)
  • ►2020 (6)
    • ►September (1)
    • ►Februari (1)
    • ►Januari (4)
  • ►2020 (27)
    • ►September (2)
    • ►Agustus (9)
    • ►Mei (2)
    • ►April (4)
    • ►Maret (2)
    • ►Februari (2)
    • ►Januari (6)
  • ►2020 (118)
    • ►Desember (4)
    • ►November (5)
    • ►Oktober (12)
    • ►September (4)
    • ►Agustus (2)
    • ►Juli (2)
    • ►Juni (3)
    • ►Mei (11)
    • ►April (11)
    • ►Maret (25)
    • ►Februari (28)
    • ►Januari (11)
  • ►2020 (139)
    • ►Desember (36)
    • ►November (22)
    • ►Oktober (10)
    • ►September (19)
    • ►Agustus (28)
    • ►Juli (13)
    • ►Juni (1)
    • ►Mei (2)
    • ►Maret (1)
    • ►Februari (3)
    • ►Januari (4)
  • ►2020 (79)
    • ►November (8)
    • ►Oktober (5)
    • ►September (4)
    • ►Agustus (7)
    • ►Juli (1)
    • ►Juni (2)
    • ►Mei (8)
    • ►April (24)
    • ►Maret (7)

    • ►Februari (5)
    • ►Januari (8)
  • ►2009 (317)
    • ►Desember (8)
    • ►November (51)
    • ►Oktober (31)
    • ►September (27)
    • ►Agustus (33)
    • ►Juli (53)
    • ►Juni (29)
    • ►Mei (26)
    • ►April (26)
    • ►Maret (16)
    • ►Februari (12)
    • ►Januari (5)
  • ▼2008 (55)
    • ▼Desember (13)
      • Untuk Direnungkan
      • Ekonomi Ponzi vs Ekonomi Nurani
      • Tahun-Tahun Kegagalan Kapitalisme?
      • Catatan Akhir Tahun
      • Berani Berubah, Mengubah Dan Diubah
      • Di Zaman Yang Meleset
      • Empati
      • Mengapa Sulit Melihat ke Dalam Diri?
      • Untuk Para Orang Tua, mudah-mudahan bermanfaat:
      • Ayam dan Bebek
      • Dua Pemancing Yang Hebat
      • Antara Kopi dan Cangkir
      • Kartu Nama
    • ►November (24)
      • Menyelamatkan Burung-Burung Dengan Kebijaksanaan
      • Keheningan Dan Kata-Kata
      • Antisipasi Menangkal Resesi
      • Madu & Racun atau Air & Pupuk?
      • Perasaan Bahagia Baik Bagi Kesehatan
    • ►Oktober (18)

Populer

Visitor

Total Tayangan Halaman

Rabu, 31 Desember 2008

Untuk Direnungkan

Hidup di dunia tidak dapat diramalkan dan dipastikan,
Kehidupan ini singkat dan penuh penderitaan,
Ada kelahiran, usia tua, sakit dan kematian,
Inilah sifat dunia dan sifat segala hal!

Ketika buah telah masak dapat terjatuh kapan saja,
Demikian pula sesuatu yang terlahir dapat mati setiap saat.
Bagaikan sebuah periuk akan berakhir pecah,
Begitu juga kehidupan dari semua yang terlahirkan.

Baik muda maupun tua, bodoh maupun bijaksana,
Semuanya akan berakhir dengan kematian.
Orang tua kita pun tidak bisa menolong dalam hal ini,
Semua akan melanjutkan perjalanan ke dunia lain.

Lihatlah! Dengan disaksikan oleh sanak keluarga,
Disertai dengan airmata, manusia dibawa satu persatu,
Bagaikan sapi menuju ke penyembelihan.

Kehidupan dan kematian adalah hal yang alami di dunia ini,
Orang bijaksana tidak akan berduka cita melihat sifat dunia!

Sutta Nipata 574 s/d 581

Ekonomi Ponzi vs Ekonomi Nurani

PROF. HENDRAWAN SUPRATIKNO PH.D*
Guru Besar FE UKSW, Salatiga
Alumnus Tinbergen Institute, Belanda

Tahun-Tahun Kegagalan Kapitalisme?

Mungkin tidak banyak yang menyangka bahwa kondisi ekonomi berubah begitu cepat pada 2008, ketika pada malam pergantian tahun banyak pihak yang merasa begitu optimistis tren booming perekonomian tahun 2007 akan berlanjut.

Terutama untuk perekonomian yang masuk dalam kategori emerging market seperti Indonesia. Para pelaku usaha di bidang perkebunan dan pertambangan umum menikmati masa jaya mereka dengan harga komoditas yang terus melambung dan permintaan dunia yang terus melaju kencang.

Pola pertumbuhan ekonomi Indonesia pada 2007 jelas ditopang oleh ekspor komoditas tersebut, selain oleh konsumsi masyarakat yang menikmati daya beli cukup kuat. Surplus neraca perdagangan juga tercipta, sekaligus menyumbang untuk cadangan devisa yang terus menguat.

Ketika optimisme tersebut masih memuncak, tiba-tiba muncul kejutan dari kenaikan harga minyak bumi internasional yang perlahan tapi pasti menciptakan rekor baru harga komoditas tersebut.

Di saat banyak pihak masih berdebat apakah harga minyak bumi sekitar USD60-70 per barel, wajar atau tidak, harga tahu-tahu sudah mendekati USD100 per barel yang dianggap sebagai batas psikologis. Di atas itu dikhawatirkan harga akan lepas kendali dan bisa mencapai berapa saja. Ternyata batas psikologis itu pun dengan mudahnya dilewati dan akhirnya mencapai tingkat harga tertinggi, USD150.

Pada saat itu, dunia berspekulasi bahwa harga mungkin saja mencapai USD200. Tren kenaikan harga minyak di luar kebiasaan tersebut tentu sangat menguntungkan pelaku bisnis minyak terutama negara penghasil dan perusahaan yang terlibat. Indonesia juga punya potensi diuntungkan, tapi lenyap begitu saja karena ternyata bukan lagi negara pengekspor bersih minyak bumi, tapi sudah berubah menjadi negara pengimpor bersih. Jumlah impor minyak Indonesia sudah berada di atas ekspor.

Untuk negara seperti Indonesia yang tergolong kecil dalam konteks perdagangan internasional, kondisi 2008 terasa menyesakkan. Di satu sisi ada berkah dari ekspor komoditas yang kuat dan makin kuat lagi dengan tren kenaikan harga minyak yang juga menaikkan harga ekspor komoditas utama Indonesia seperti batu bara dan kelapa sawit.

Di sisi lain, Indonesia harus menyesuaikan harga bahan bakar minyak (BBM) dalam negeri yang akan menurunkan daya beli masyarakat. Kebijakan yang sangat tidak populer tapi perlu, yaitu menaikkan harga BBM, akhirnya dilakukan pemerintah dan -seperti biasa- menuai protes yang tidak sedikit. Inflasi dengan sendirinya melambung karena kenaikan harga BBM tersebut hingga menembus batas psikologis 10 persen.
Tingginya inflasi membuat pertumbuhan ekonomi tahun 2008 yang sebenarnya meneruskan tren 2007, yaitu sekitar 6 persen, menjadi tergerus maknanya dengan berkurangnya daya beli masyarakat secara relatif.

Semangat yang muncul bahwa tahun 2008 adalah dimulainya kebangkitan ekonomi Indonesia, seperti yang diharapkan dari peringatan 100 Tahun Kebangkitan Nasional, pupus sudah dan berganti dengan kekhawatiran terhadap kelangsungan ekonomi Indonesia maupun dunia.

Pada saat yang sama,di belahan dunia lain yang merupakan perekonomian adidaya dunia, yaitu Amerika Serikat, muncul bibit krisis yang ternyata jauh lebih serius dari yang muncul di permukaan. Krisis kredit perumahan (subprime mortgage) yang tadinya diperkirakan mempunyai dampak terbatas dan dianggap hampir selesai pada 2007 ternyata masih mempunyai kelanjutan dan memunculkan sisi gelap dari kapitalisme serta globalisasi yang tidak pernah diperkirakan sebelumnya.

Para pelaku sektor keuangan di AS ternyata mempraktikkan kapitalisme yang kebablasan dengan konsep dasar “money creates more money” atau menjadikan uang sebagai komoditas untuk menghasilkan keuntungan sebesar-besarnya. Dengan berbagai produk derivatif yang seolah-olah kreatif dan inovatif, tapi sebenarnya sangat berisiko, kredit macet perumahan tersebut telah menyebar ke berbagai institusi keuangan terkemuka.

Tidak hanya di AS, tetapi juga di Eropa dan Asia. Kegagalan menuntaskan kredit macet perumahan tersebut akhirnya menumbangkan para pelaku keuangan besar di negara-negara tersebut. Pada saat yang sama sebenarnya AS dan Eropa sudah berada di ambang resesi ekonomi.

Kebangkrutan salah satu bank investasi terkemuka di AS,Lehman Brothers,menjadi pemicu awal krisis keuangan global yang kemudian memunculkan borok utama sistem kapitalisme, yaitu ketamakan yang tidak terkendali, bahkan oleh sistem pengawasan yang canggih sebagaimana dimiliki AS.

Karena sistem kapitalisme di AS sangat bergantung pada kegiatan sektor keuangan, runtuhnya sektor tersebut sama artinya dengan runtuhnya perekonomian AS yang sebenarnya dikenal sebagai perekonomian yang boros, konsumtif, dan mulai kehilangan daya saing. Kemungkinan resesi perekonomian AS berarti kemungkinan perlambatan pertumbuhan ekonomi dunia yang tidak hanya mengakibatkan turunnya daya beli masyarakat AS,tetapi juga berdampak pada seluruh masyarakat dunia.

Globalisasi yang selama ini diagung- agungkan akan menularkan kemakmuran dari negara maju ke negara sedang berkembang,malah menularkan masalah yang harus diselesaikan dan dihadapi pemerintahan masing-masing negara tanpa kecuali. Yang amat sulit diprediksi adalah kapan krisis ini berakhir alias kapan perekonomian AS akan mengalami pemulihan.
Pendapat yang banyak muncul akhir-akhir ini adalah 2020 sebagai masa pemulihan krisis di AS yang artinya sepanjang tahun 2009 adalah tahun resesi atau tahun perlambatan ekonomi di berbagai penjuru dunia. Indonesia tentu bukan pengecualian dan kita semua harus segera menyiapkan jurus-jurus menangkal dampak terburuk dari krisis.

Di satu sisi, tampaknya segala elemen bangsa sepakat bahwa memperkuat dan melindungi pasar atau perekonomian domestik adalah langkah utama menangkal dampak krisis, memanfaatkan ukuran pasar domestik Indonesia yang sangat besar. Di sisi lain, belum ada kesepakatan tentang langkah luar biasa untuk dapat menciptakan pertumbuhan yang cukup lumayan (di atas 5 persen) pada 2009.

Di saat berbagai negara mengeluarkan paket stimulus perekonomian, Indonesia tampaknya masih kelihatan “tenang”. Belum terlihat keluar paket yang jelas, kecuali berbagai insentif pajak untuk beberapa komoditas, wacana tentang percepatan pembangunan infrastruktur, serta alokasi APBN untuk mengurangi kemiskinan dan dampak pengangguran.

Sayangnya hal-hal di atas masih tercerai berai dan sukar untuk menjawab apakah Indonesia sudah punya paket stimulus perekonomian dan berapa besarnya. Di dalam arena perebutan modal yang sangat kompetitif dan terkadang kejam, Indonesia harus lebih proaktif dan berani. Kalau pihak lain sudah menawarkan penjaminan penuh dana simpanan masyarakat dan pinjaman antarbank, sudah selayaknya Indonesia tidak berbeda dengan mereka sekaligus memperkuat instrumen pengawasan untuk mencegah moral hazard.

Di saat pihak lain menciptakan stimulus untuk mencegah pertumbuhan lebih rendah, Indonesia juga tidak boleh ketinggalan karena pasar modal dan pasar uang juga akan sangat terpengaruh dengan kesiapan pemerintah mendorong pertumbuhan tahun 2009.

Bagi masyarakat, paket stimulus akan menumbuhkan kepercayaan terhadap pemerintah yang dianggapnya peduli dengan kemungkinan terburuk yang dapat menimpa mereka, dan berusaha dengan segala cara agar krisis tidak terlalu menghancurkan perekonomian rumah tangga masyarakat.

Satu hal yang pasti, tahun 2009 adalah masa introspeksi bagi semua pelaku perekonomian Indonesia untuk bertindak lebih bijaksana dan tidak terbawa ambisi berlebihan atau ketamakan yang menjadi penyakit utama kapitalisme. Good governance yang akhir-akhir ini banyak digembar- gemborkan harus dilaksanakan dengan baik dan prinsip dasar etika dalam berbisnis dan melakukan kegiatan ekonomi.

Misalnya ditunjukkan oleh prinsip ekonomi Islam,akan sangat membantu menjauhkan para pelaku dari kegiatan derivatif yang cenderung menciptakan bahaya apabila tidak dilindungi sistem pengawasan yang kuat. Tahun 2009 masih memberikan harapan bagi perekonomian Indonesia dengan pertumbuhan di atas 5 persen dan inflasi sekitar 6 persen.
Namun, bila itu ingin diwujudkan, harus ada kegesitan pemerintah menghadapi dampak krisis dan kesungguhan pelaku ekonomi untuk tidak memanfaatkan kesempatan dalam kesempitan. Lalu, menciptakan peluang dari krisis hendaknya dijadikan motivasi utama para pelaku bisnis di Indonesia sehingga dunia usaha terus bergerak dan PHK bisa dihindarkan. (*)

Bambang PS Brodjonegoro
Guru Besar dan Dekan FEUI

Peringkat broker opsi biner:
Opsi biner dan forex
Tinggalkan Balasan

;-) :| :x :twisted: :smile: :shock: :sad: :roll: :razz: :oops: :o :mrgreen: :lol: :idea: :grin: :evil: :cry: :cool: :arrow: :???: :?: :!: