Instrumen Keuangan Kas Dan Piutang INSTRUMEN KEUANGAN, KAS DAN PIUTANG – ppt download

Peringkat broker opsi biner:

Samhan Blog

Apa Itu Instrumen Keuangan? Kas? dan Piutang?

  • Dapatkan link
  • Facebook
  • Twitter
  • Pinterest
  • Email
  • Aplikasi Lainnya

  • Dapatkan link
  • Facebook
  • Twitter
  • Pinterest
  • Email
  • Aplikasi Lainnya

Komentar

Thanks ya, sangat membantu. Kunjungi juga ya makalah instrumen keuangan

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Ayat-ayat Kematian Dalam Al-Qur’an

Kematian adalah hal penting. Tak kurang dari 145 ayat dalam Al Qur’an yang menyebut atau membahas masalah kematian. Tentang waktu kematian adalah rahasia Allah semata. Tidak ada yang tahu kapan, di mana dan bagaimana seseorang akan mati. Karena kematian menyangkut terpisahnya ruh dengan badan. Dan tidak ada yang tahu banyak tentang soal ruh kecuali Allah.
Pengetahuan Allah terhadap ruh: “Dan mereka bertanya kepadamu (Muhammad) tentang ruh” Katakanlah, “Ruh itu urusan Tuhan-ku, sedangkan kamu diberi pengetahuan hanya sedikit.” QS. Al-Israa’ (17), Ayat 85

Takdir Allah, setiap mahluk hidup akan mati:
”Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati. Dan sesungguhnya pada hari kiamat sajalah disempurnakan pahalamu. Barang siapa dijauhkan dari neraka dan dimasukkan ke dalam surga, maka sungguh ia telah beruntung. Kehidupan dunia itu tidak lain hanyalah kesenangan yang memperdayakan.“
QS. Al-Imran (3), Ayat 185

“Tiap-tiap yang berjiwa pasti akan merasakan mati. Kami a…

Instrumen keuangan,kas,dan piutang

Rahmatia Azzindani

Published on Mar 12, 2020

  • 2 Comments
  • 18 Likes
  • Statistics
  • Notes
  1. 1. INSTRUMEN KEUANGAN, KAS DAN PIUTANG  Instrumen Keuangan 1. Pengertian Instrumen Keuangan adalah suatu kontrak yang menambah nilai asset atau liabilitas keuangan, terdiri dari kas dan piutang. Berikut adalah standar akuntansi yang mengatur instrument keuangan: a. PSAK 50 Instrumen Keuangan. b. PSAK 55 Instrumen Keuangan. c. PSAK 60 Instrumen Keuangan. Tidak ada pengaturan untuk industry tertentu,karena standar lebih menekankan pada substansi transaksi dan komponen yang dilaporkan bukan pada jenis industry entitas. Standar akuntansi IFRS menggunakan dasar penilaian wajar. 2. Bentuk Instrumen Keuangan Aset Keuangan Terdiri Atas : a. Kas. b. Instrument entitas yang diterbitkan entitas lain. c. Hak Kontraktual 1) Untuk menerima kas atau asset keuangan lainnya dari entitas lain. 2) Untuk mempertukarkan asset keuangan dengan entitas lain dengan kondisi berpotensi untung. d. Kontrak yang akan atau mungkin diselesaikan engan menggunakan instrument ekuitas yang diterbitkan oleh entitas dan merupakan : 1) Non derivatif dimana entitas harus atau mungkin diwajibkan untuk menerima sejumlah yang bervariasi dari instrument yang diterbitkan entitas. 2) Derivatif yang akan atau mungkin diselesaikan selain dengan mempertukarkan kas dalam jumlah tertentu atau asset keuangan lain dengan jumlah tertentu dengan instrument ekuitas yang diterbitkan entitas. Liabilitas Keuangan Terdiri Atas : a. Liabilitas Kontraktual
  2. 2. 1) Unuk menyerahkan kas atau asset keuangan lain kepada entitas lain. 2) Untuk mempertukarkan asset keuangan dengan entitas lain dengan kondisi berpotensi tidak menguntungkan entitas. b. Kontrak yang akan atau mungkin diselesaikan dengan menggunakan instrument ekuitas yang diterbitkan entitas dan merupakan suatu : 1) Nonderivatif dimana entitas harus atau mungkin diwajibkan untuk menyerahkan sejumlah yang bervariasi dari instrument ekuitas yang diterbitkan entitas. 2) Derivatif yang akan atau mungkin diselesaikan selain dengan mempertukarkan kas dalam jumlah tertentu atau asset keuangan lain dengan jumlah tertentu dengan instrument ekuitas yang diterbitkan entitas. Instrumen Ekuitas adalah setiap kontrak yang memberikan hak residual atas asset suatu entitas setelah dikurangi dengan seluruh liabilitasnya. 3. Konsep Pengakuan dan Pengukuran Instrumen Keuangan Saat kontrak tersebut mengindikasikan adanya suatu aliran manfaat ekonomi diterima atau diserahkan dimasa mendatang dan diukur dengan andal, maka kontrak tersebut akan dicatat sebagai asset atau liabilitas keuangan. Pengukuran Aset atau Liabilitas keuangan dapat dibedakan menjadi 2, yaitu : a. Untuk asset dan liabilitas keuangan yang pengukuran setelah pengakuan awal menggunakan nilai wajar, biaya transaksinya diklasifikasikan sebagai beban periode berjalan. b. Untuk asset dan liabilitas keuangan yang pengukuran setelah pengakuan awal tidak menggunakan nilai wajar, biaya transaksinya dikapitalisasi menambah nilai aseet atau liabilitas keuangan Asset keuangan mengalamin penurunan nilai jika nilai tercatat asset lebih tinggi dibandingkan nilai yang dapat diperoleh kembali. Jika terjadi penutunan kembali, maka harus dilakukan estimasi nilai yang dapat diperoleh kembali dan mengakui kerugian penurunan nilai. HTM dan AFS dapat dilakukan jika memenuhi kriteria. 4. Penyajian dan Pengungkapan PSAK 50 (revisi 2020) Instrumen Keuangan : prinsip penyajian instrument keuangan sebagai liabilitas atau ekuitas dan saling hapus asset keuangan dan liabilitas keuangan. Prinsip keuangan ini berlaku terhadap kategori instrument keuangan dari perpektif penerbit,dalam asset keuangan, liabilitas keuangan, dan instrument ekuitas, pengategorian yang terkait dengan
  3. 3. suku bunga, dividen, kerugian dan keuntungan, serta keadaan asset keuangan dan liabilitas akan saling hapus. PSAK 60 instrumen keuangan: pengungkapan dalam laporan keuangan yang memungkinkan pengguna mengevaluasi signifikan instrument keuangan atas posisi dan knerja keuangan entitas serta jenis dan besarnya risiko yang timbul dan bagaimana entitas mengelola risiko tersebut.  Aset Keuangan 1. Klasifikasi Aset Keuangan a. Aset Keuangan Diukur Dengan Nilai Wajar Melalui Laba Rugi Asset keuangan diukur dengan nilai wajar melalui laba rugi (fair value to profit and loss atau FVPL) adalah asset keuangan yang dimaksudkan untuk tujuan dijual dan dibeli kembali dalam waktu dekat (surat berharga diperdagangkan). Asset keuangan diklasifikasikan sebagai FVPL jika memenuhi salah satu dari kondisi berikut : 1) Diklasifikasikan dalam kelompok diperdagangkan. 2) Pada saat pengakuan awal telah diukur pada nilai wajar melalui laba rugi. FVPL dinilai pada pengakuan awal sebesar nilai wajar, yaitu nilai perolehan investasi+biaya transaksi yang dibebankan. Pemisahan biaya transaksi dalam komponen beban periode berjalan akan membuat perbandingan antara nilai wajar saat transaksi dengan nilai wajar pada pengukuran setelah pengakuan awal lebih mudah dilakukan. Setelah pengakuan awal, FVPL diukur dengan nilai wajar pada tanggal pelaporan. Selisih antara nilai tercatat dengan nilai wajar pada tanggal pelaporan akan dilaporkan sebagai keutungan atau kerugian yang dilaporkan dalam laporan laba rugi komprehensif (belum direalisasi). b. Investasi Dipegang Hingga Jatuh Tempo Investasi dipegang hingga jatuh tempo adalah asset nonkeuangan nonderivatif dengan pembayaran tetap atau telah ditentukan dan jatuh temponya telah ditetapkan secara entitas mempunyai intensi positif dan kemampuan untuk memiliki asset keuangan tersebut hingga jatuh tempo. Entitas harus menghitung tingkat suku bunga efektif untuk investasi ini. Bunga efektif tidak selalu sama dengan bunga yang dibayarkan. Jika bunga memiliki nilai rendah
  4. 4. dibandingkan nilai nominalnya,sehingga akan muncul diskon. Jika sebaliknya akan muncul premium. Setelah pengakuan awal, asset akan diukur sebesar nilai amortisasi. Amortisasi diskon akan menambah pendapatan bunga.. dan amortisasi premium akan mengurangi pendapatan bunga. c. Pinjaman yang Diberikan atau Piutang (loans or receivable – LR) Adalah aset keuangan nonderivatif dengan pembayaran yang telah ditentukan dan tidak mempunyai kuotasi pasar aktif, kecuali yang termasuk dalam tiga kategori aset keuangan yang lain. Kelompok aset yang bukan pinjaman yang diberikan atau piutang misalnya kepemilikan atas reksa dana, tidak dapat dikasifikasikan sebagai pinjaman. Pada awalnya, pinjaman yang diberikan dan piutang diakui sebesar harga perolehan + biaya transaksi yang dapat diatribusikan langsung dengan perolehan piutang dan pinjaman. Setelah itu, pinjaman dan piutang ini akan diukur pada biaya perolehan diamortasasi dengan menggunakan metode suku bunga efektif. d. Aset Keuangan Tersedia untuk Dijual (available to sale – AFS) Adalah aset keuangan nonderivatif yang ditetapkan tersedia untuk dijual atau tidak diklasifikasikan sebagai FVPL, HTM, dan LR. Jika tidak termasuk ketiga kategori tersebut akan diklasifikasikan sebagai AFS. e. Reklasifikasi Aset Keuangan Pada saat awal, AFS diakui sebesar nilai wajar. Biaya transaksi yang dapat diatribusikan secara langsung untuk perolehan investasi AFS dikapitalisasi menambah nilai AFS. Setelah pengakuan awal, AFS dengan pembayaran tetap atau telah ditentukan diukur pada biaya perolehan setelah diamortisasi dengan menggunakan metode suku bunga efektif. Selisih nilai wajar dengan nilai tercatat akan diakui sebagai keuntungan dan kerugian dalam ekuitas dan dilaporkan sebagai pendapatan komprehensif. 2. Reklasifikasi FVPL, dapat direklasifikasi ke LR dalam situasi yang sangat langka. Larangan rekalsifikasi FVPL dimaksud agar entitas tidak memiliki moral hazard menggunakan reklasifikasi untuk manjamen laba. Aset keuangan diukur nilai wajar melalui laba rugi dapat dierklasifikasi ke pinjaman yang diberikan dan piutang (LR). Jika memenuhi ketentuan LR terdapat intensi dan kemampuan untuk memliliki sampai jatuh tempo.
  5. 5. Aset keuangan tersedia untuk dijual keuntungan dan kerugian yang telah diakui dalam laba komprehensif diamortisasikan untuk aset keuangan yang memiliki jatuh tempo yang tetap. Untuk aset yang memilliki jatuh tempo yang tetap, keuntungan atau kerugian dalm laba komprehensif akan diakui pada laporan laba rugi pada aset tersebut dijual. Jika terjadi perubahan intensi manajemen mereklasifikasi atau menjual investasi HTM, maka investasi harus direklasifikasi dalam AFS. Suatu entitas tidak boleh memiliki investasi HTM jika dalam tahun berjalan atau dalam kurun waktu dua tahun sebelumnya telah menjual atau mereklasifikasikan investasi HTM dalam jumlah yang lebih dari tidak signifikan (tainting rule). Pengecualian untuk tainting rule ini terjadi jika : a. Mendekati jatuh tempo atau tanggal pembelian kembali (contohnya, kurang dari tiga bulan sebelum jatuh tempo); b. Setelah entitas telah memperoleh secara substansial seluruh jumlah pokok aset keuangan sesuai jadwal pembayaran atau entitas telah memperoleh pelunasan dipecepat; atau c. Terkait dengan kejadian tertentu yang berada di luar kendali entitas, tidak berulang, dan tidak dapat diantisipasi secara wajar oleh entitas. 3. Penurunan Nilai Aset keuangan yang diukur dengan harga perolehan diamortisasikan serta aset keuangan tersedia untuk dijual dapat mengalami penurunan nilai. Sedangkan untuk aset keuangan yang dinilai dengan nilai wajar melalui laba rugi secara otomatis akan menurun nilainya mengikuti harga pasarnya, sehingga tidak perlu ada evaluasi penurunan nilai. Kelompok aset keuangan mengalami penurunan nilai apabila nilai tercatat atau biaya perolehan diamortisasikan lebih tinggi daripada nilai yang dapat diperoleh kembali. Bukti objektif penurunan nilai harus dilakukan pada setiap tanggal laporan keuangan. Bukti objektif dapat dilihat dari beberapa indikasi berikut: a. Kesulitan keuangan signifikan yang alami penerbit atau peminjam b. Pelanggarn kontrak c. Restrukturisasi atau keringanan akibat pihak peminjam mengalami kesulitan d. Peminjam akan dinyatakan pailit atau melakukan reorganisasi keuangan lainnya e. Hilangnya pasar aktif dari aset keuangan akibat kesulitan keuangan f. Kemungkinan besar bangkrut
  6. 6. Pengaruh penurunan nilai dapat diidentifikasikan terhadap aset keuangan secara individu maupun kelompok aset. Jumlah kerugian penurunan diakui sebesar selisih nilai tercatat dengan nilai diperoleh kembali. Nilai tersebut diukur dari nilai kini estimasi arus kas masa depan yang didiskontokan menggunakan suku bunga efektif awal dari aset keuangan tersebut. Jumlah kerugian penurunan nilai diakui pada laporan laba rugi komprehensif. Evaluasi penurunan nilai dilakukan dengan prosedur berikut : a. Aset keuangan yang secara individu signifikan dilakukan pengujian penurunan nilai secara individu. b. Jika aset keuangan yang secara individu signifikan, pada saat pengujian individual tidak mengalami penurunan nilai, maka harus dinilai dalam kelompok aset keuangan yang memiliki karakteristik resiko kredit yang sama. c. Penilaian kelompok dilakukan untuk aset yang secara individual tidak signifikan dan aset keuangan yang secara individual signifikan tetapi tidak mengalami penurunan nilai. Untuk aset yang dinilai dari amortisasi, jika pada periode berikutnya, jumlah kerugian penurunan nilai berkurang, maka kerugian penurunan nilai yang belum diakui harus dipulihkan. Untuk aset keuangan yang dinilai dengan harga perolehan, jumlah kerugian penurunan nilai diukur berdasarkan selisih antara nilai tercatat aset keuangan dengan nilai kini dari estimasi arus kas masa depan yang didiskontokan pada tingkat pengenbalian yang berlaku dipasar untuk aset keuangan serupa. Untuk aset keuangan tersedia untuk dijual, penurunan nilai telah diakui secara langsung dalam ekuitas. 4. Penghentian Pengakuan Pada saat kontrak berakhir, aset keuangan tidak lagi diakui dalam laporan keuangan. Standar menjelaskan bahwa entitas menghentikan pengakuan aset keuangan, jika hanya jika : a. Hak kontraktual atau arus kas yang berasal dari aset keuangan tersebut berakhir b. Entitas mentransfer aset keuangan yang memenuhi kriteria penghentian pengakuan  Kas 1. Definisi Kas merupakan aset yang paling likuid karena dapat digunakan untuk membayar kewajiban perusahaan.
  7. 7. Kas adalah keuangan yang digunakan untuk kegiatan operasional perusahaan. Kas termasuk instrumen keuangan dalam klasifikasi aset keuangan. kas merupakan alat pembayaran yang siap dan bebas digunakan untuk membiayai kegiatan entitas. Kas tediri dari uang kartal yag disimpan entitas, uang tersimpan dalam rekening bank, dan setara kas. kas yang dicadangkan dengan penggunaan khusus tidak boleh dikategorikan sebagai kas, tetapi diklasifikasikan sebagai cadangan. Jika digunakan untuk memenuhi kewajiban kurang dai satu tahun dana cadangan ini dikalsifikasikan sebagai aset lancar. Setara kas termasuk kategori instruman keuangan. Setara kas adalah investasi jangka pendek yang sangat likuid. Agar dapat diklasifikasikan setara kas harus memenuhi karakteristik dapat konversi menjadi kas pada jumlah tertentu tanpa resiko perubahan nilai dan jatuh temponya sangat dekat Entitas sering kali melakukan perjanjian dengan bank terkait dengan kredit atau pinjaman. Pinjaman yang diberikan tidak semua dapat diambil, namun harus menyisakan saldo minimum (compensating balance). Dalam laporan keuangan, compensating balance disajikan secara terpisah dapat sebagai aset lancar atau aset tadak lancar tergantung jangka waktu perjanjian pinjaman. Jika pinjamannya dalam jangka panjang, akan disajikan dalam aset tidak lancar. Sebuah entitas dapat mengalami bank overdraft yaitu kondisi dimana jumlah cek ditarik dalam rekening melebihi saldo kas dan diklasifikasikan sebagai utang dagang 2. Pengendalian Kas Beberapa bentuk pengendalian terhadap kas adalah : a. Terdapat pemisahan tugas antara pihak yang melakukan otoritas dengan pembayaran, pihak yang melakuan pengelolaan kas dan pencacatan, pihak pengguna dan pihak pembayar. b. Penggunaan lemari besi untuk menyimpan kas atau di ruang tertutup dengan akses terbatas c. Penerimaan dan pengeluaran kas menggunakan rekening yang berbeda d. Pengeluaran uang dilakukan melalui bank dan menggunakan cek sehinggan terdapat pengendalian pencacatan oleh pihak lain e. Penerimaan kas dilakukan melalui bank, untuk keamanan dan pengendalian pencatatan f. Penggunaan sistem imprest kas kecil untuk memenuhi kebutuhan kas dalam jumlah kecil. g. Rekonsiliasi antara pencatatan perusahaan dengan rekening koran bank Sistem Imprest Kas Kecil Terdapat dua sistem kas kecil, yaitu :
  8. 8. 1) Sistem Imprest Kas Kecil adalahmekanisme kas kecil dimana dana dipertahankan tetap. Pada awalnya dibentuk dana kas kecil dalam jumlah tertentu. Setiap ada pengeluaran ajan dibuat bukti pengeluaran tetapi tidak dibuat jurnal. Jika jumlah kas kecil habis, maka akan dilakukan penggantian jumlah dana yang telah dipakai. 2) Fluctuating system, dalam sistem ini tidak ditetapkan sejumlah tertentu sehingga saldonya bervariasi dari awktu ke waktu. Penggantian tidak didasarkan pada jumlah terpakai tetapi sering kali ditetapkan sejumlah tertentu Dalam rangka pengendalian, sistem imprest lebih baik, karena jumlah dana kas kecilnya bisa dikontrol dan tidak akan terjadi penumpukan dana kecil dalam unit pembayar. Sedangkan untuk fluctuating system, jumlah dana di kasir tidak terkontrol dn jumlahnya dapat bertambah terus jika dana tidak dipakai. Dalam kasus tertentu, pada tanggal pelaporan saldo kas kecil perusahaan telah berkurang dan belum dilakukan penggantian. Namun untuk menjaga konsistensi pencatatan periode, pada awal periode dibuat jurnal pembalik sehingga memudahkan pencatatan periode berikutnya . Rekonsiliasi Bank Untuk kas di bank setiap akhir priode dibuat rekonsiliasi antara rekening bank dan saldo kas menurut pencatatan entitas. Tujuan rekonsiliasi adalah untuk mencocokkan antara pencaatan di perusahaan dan pencatatan kas yang dilakukan oleh bank yang menegelola uang perusahaan. Rekonsiliasi ini dapat mengurangi timbulnya kesalahan pencatatan dan hilangnya uang perusahaan. Untuk melakukan rekonsiliasi bank, entitas harus memiliki data catatan penerimaan dan pengeluaran kas yang dilakukan entitas. Berdasarkan data saldo awal dan mutasi kas akan diperoleh saldo kas menurut pencatatan entitas. Entitas akan menerima rekening koran yang berisikanb mutasi pencatatan kas oleh bank. Rekonsiliasi dilakukan dengan membandingkan mutasi kas dalam catatan entitas dan mutasi kas dalam catatan rekening bank jika terda[pat perbedaan baik nilai, transaksi yang ada disalah satu pihak, maka item tersebut harus diteliti lebih lanjut. Secara umum penyebab perbedaan saldo dalam rekening bank dengan saldo kas menurut pencatatan entoitas ialah : 1) Penerimaan yang ndilakukan oleh bank namun belum diketahui oleh entitas 2) Penerimaan yang dilakukan oleh entitas namun belum disetorkan atau sudah disetorkan namun belum terlihat pada rekening koran bank.
  9. 9. 3) Pengeluaran yang dilakukan oleh bank namun belum diketahui oleh entitas 4) Pengeluaran yang dilakukan oleh entitas namun belum diamboil oleh pemegang cek. 5) Kesalahan mencatat dapat terjadi baik oleh bank maupun entitas. 3. Penyajian Kas dalam posisi laporan keuangan disajikan dalam kelompok aset lancar di urutan paling atas. Kas dapat disajikan dalam laporan keuangan sebagai berikut : 1) kas dan setara kas [contoh penyajian di entitas terdaftar BEI] 2) kas Giro pada Bank Indonesia Giro pada Bank lain [contoh penyajian di entitas Bank Indonesia] 3) kas Setara kas 4) Kas Kas di bank Setara Kas 4. Pengungkapan Pengungkapan kas dan laporan keuangan meliputi pengungkapan kebijakan akuntansi dan informasin rincian kas yang dimuiliki perusahaan. Kebijakan akuntansi kas menjelaskan secara umum komponen kas dan bagaimana perusahaan mengklasifikasikan kas. Kebijakan akuntansi juga menjelaskan bagaimana perusahaan menyajikan cerukan.  Piutang dan Pinjaman yang Diberikan 1. Definisi dan Jenis Piutang merupakan klaim suatu perusahaan pada pihak lain. Kategori piutang dipengaruhi oleh jenis usaha entitas. Adapun beberapa bentuk piutang : a. Perusahan pembiayaan selain bank, mengklafikasikan piutang menurut jenis pembiayaan konsumen, piutang pembiayaan sewa, dan piutang pembiayaan kartu kredit. b. Piutang yang didasarkan pada faktur dari transaksi penjualan, disebut piutang dagang. Piutang dagang dalam penyajikan diklasifikasikan sebagai piutang dari pihak berelasi dan piutang dari pihak ketiga.
  10. 10. c. Piutang yang tidak terkait dengan penjualan atau pendaptan disebut piutang lainnya. Jumlah piutang lainnya biasanya tidak signifikan dibandingkan dengan jumlah piutang dagang atau piutang usaha. d. Kredit yang disalurkan oleh bank juga merupakan bentuk piutang 2. Wesel Tagih Wesel tagih (promissory notes atau notes receivable) merupakan klaim perusahaan kepada pihak ketiga yang didukung janji tertulis yang tidak bersyarat untuk membayar dalam jangka waktu tertentu. Penerbit wesel disebut wesel bayar (notes payable) karena penerbit berjanji untuk membayar, sedangkan penerima wesel disebut wesel tagih (notes receivable) karena penerima memiliki hak klaim untuk menagih. Wesel tagih diterbitkan untuk membayar penjualan, piutang jatuh tempo, dan memperoleh pinjaman. Wesel tagih ada yang berbunga dan ada yang tidak berbunga. Wesel tagih yang berbunga akan dilakukan pencatatan pada saat penerimaan wesel, pengakuan bunga dan pelunasan wesel. Perbedaan obligasi dan wesel tagih terletak pada keberadaan pasar, dimana wesel tagih dapat diperjualbelikan namun tidak memiliki pasar sedangkan obligasi diterbitkan dalam jumlah yang besar karena diperjualbelikan di pasar modal. Ilustrasi Transaksi Wesel Tagih PT Sakura menerima wesel tagih dari PT Lily untuk melunasi piutang dagang yang telah jatuh tempo. Wesel tagih tersebut memiliki nilai nominal Rp 30.000.000,- bunga 12%. Wesel tersebut diterbitkan tanggal 1 November 2020 dan jangka waktu 120 hari. Bunga dan pokok akan dibayarkan pada saat jatuh tempo. Wesel tersebut akan jatuh tempo pada tanggal 29 Februari 2020. a. Jurnal yang dibuat PT Sakura: Wesel Tagih Rp 30.000.000,- Piutang Dagang Rp 30.000.000,- b. Pengakuan bunga berjalan 1 Nopember-31 Desember Rp 30.000.000,- x 12% x 60/360 = Rp 600.000,- Jurnal penyesuainnya : Piutang Bunga Rp 600.000,- Pendapatan Bunga Rp 600.000,- c. Perhitungan pada saat pelunasan wesel tagih Bunga 1 Januari-29 Februari 2020
  11. 11. Rp 30.000.000,- x 12% x 60/360 = Rp 600.000,- Jumlah kas diterima = jumlah pokok wesel + bunga selama 120 hari = Rp 30.000.000,- + Rp 1.200.000,- = Rp 31.200.000,- Jurnalnya : Kas Rp 31.200.000,- Pendapatan Bunga Rp 600.000,- Piutang Bunga Rp 600.000,- Wesel Tagih Rp 30.000.000,- 3. Pengakuan Awal Piutang diakui dalam laporan posisi keuangan jika entitas tersebut menjadi bagian dalam kontrak piutang. Sesuai dengan PSAK 55, piutang diakui oleh entitas sebesar nilai wajar. Nilai wajar merupakan harga perolehan atau nilai pertukaran antara kedua belah pihak pada tanggal transaksi. Jika piutang tersebut tidak berbunga, maka akan dihitung dengan menggunakan tingkat suku bunga pasar pada saat pendapatan diterima. Referensi yang digunakan untuk menentukan tingkat suku bunga pasar adalah bunga yang berlaku untuk piutang serupa di pasar. Dalam praktiknya, sering digunakan tingkat suku bunga risk free ditambah risk premium. Untuk piutang yang memiliki nilai wajar, entitas dapat menggunakan nilai wajar pada saat pengukuran awal dan melakukan pengukuran secara konsisten dengan menggunakan nilai wajar. Sebaliknya, jika entitas tidak memilih menggunakan nilai wajar pada pengukuran awal, maka pada pengakuan selanjutnya tidak boleh memilih menggunakan nilai wajar. Biaya Transaksi Standar mengatur untuk aset keuntungan yang tidak diukur dengan nilai wajar (termasuk piutang), pengukuran awal sebesar nilai wajar ditambah dengan biaya transaksi. Biaya transaksi adalah biaya yang dikeluarkan untuk memperoleh keuntungan piutang. Ilustrasi Biaya Transaksi-Biaya Mengurangi Pinjaman yang Diberikan Bank ABC memberikan pinjaman kepada PT Mawar sebesar Rp 30.000.000.000,- dengan tingkat bunga 8%. Bunga dibayarkan setiap akhir tahun bunga dikalikan saldo kredit dalam kontrak. Kredit tersebut dilunasi seluruhnya pada akhir tahun kelima. Dalam rangka pemberian pinjaman tersebut, Bank ABC membebankan biaya administrasi kepada PT
  12. 12. Mawar sebesar Rp971.916.000. Dalam perjanjian disepakati bahwa biaya administrasi tersebut akan mengurangi jumlah pinjaman yang akan diterima oleh PT Mawar. a. Jurnal pada saat pemberian pinjaman Rp 30.000.000.000 – Rp 971.916.000 = Rp 29.028.084.000 Pinjaman yang diberikan Rp 29.028.084.000 Kas Rp 29.028.084.000 b. Jurnal Pembayaran bunga akhir tahun pertama dan amortisasi biaya transaksi Pendapatan bunga = Rp 29.028.084.000 x 9% = Rp 2.612.527.560 Kas yang diterima = Rp 30.000.000.000 x 8% = Rp 2.400.000.0000 Amortisasi = Rp 2.612.527.560 – Rp 2.400.000.000 = Rp 212.527.560 Kas Rp 2.400.000.000 Pinjaman yang diberikan Rp 212.527.560 Pendapatan Bunga Rp 2.612.527.560 Biaya transaksi dalam pemberian pinjaman dapat diperlakukan sebagai pengurangan pinjaman yang diberikan. Diskon Penjualan Potongan penjualan dalam bentuk hargamaupun kuantitas akan mempengaruhi pencatatan pendapatan, namun tidak mempegauhi pencatatan piutang. Piutang akan dicatat sebesar nilai setela dikuangai dison penjualan. Nilai setelah diskon adalah harga wajar dari prolehan piutang tersebut. Pendapatan akan diakui sebesar nilai setelah potongan/diskon. Diskon diberikan jika pembayaran lebih cepat dari yang dijadwalkan dan dinyatkan dalam bentuk 2/10, n/30 artinya akan diberikan diskon sebesar 2 % jika pelanggan membayar sampa dengan 10 hari dan alam kurun waktu 30 hari. Diskon penjuaan yang dikaitkan dengan pembayaran dapatdicatat dengan 2 metode yaitu : a. Metode piutang neto (net method), diasumsikan diskon diambil, sehingga ketika mencatat penjualan an iutang ada saat terjadi penjualan sudah dikurangi diskon tersebut. jika sebagian besar atau pelanggan menggambil diskon, aka pencatatan dengan metode neto lebih mudah dalam proses pncatatan. b. Metode piutag brto (groos method), piutang dagang pada saat penjualan sebesar nilai penjualan sebelum diskon. Jika pelanggan membayar pada periode diskon akan dicatat nilai diskonnyabegitupun sebaliknya.
  13. 13. Saat menggunakan metode bruto, nilai penjualan akan disajikan sebesar penjualan bruto dikurangi dengan nilai diskon penjualan yang terealisasi. Sementara dengan metode neto, penjualan akan disajikan sebesar nilai setelah diskon baik yang terealisasi maupun tidak. 4. Pengukuran Setelah Perolehan Piutang termasuk kategori aset keuangan pinjaman yang dibeikan dan piutang. Menurut PSAK 55 (revisi 2020), LR dikur berdasarkan biaya perolehan yang diamortisasi dengan menggunakan suku bunga efektif. Setiap Tanggal pelaporan entitas mengevaluasi apakah terdapat bukti objektif bahwa piutang engalami penurunan nilai. Jika terjadi penurna nilai maka entitas harus melakukan penurunan nilai sesuai dengan ketentuan penurunan nilai untuk asetkeuanga yang diukur pada biaya peroean diamortisasi Untuk bentuk pinjaman ang diberkan, penukra setelah tanggal perolehan membutuhkan peritungan amortisasi diskon dan preium setiap tanggal pelaporan. Amortisai ersebut akan menyesuaikan nlai tercatat piutang, sehingga nilai piutang akan menunjukan biaya peroehan yang diamortisasi. Dalam praktiknya, bentuk pinjaman dengan bunga banyak diberikan oleh entitas perbankan atau lembaga keuangan. Untuk pinjaman bukan dari lembaga keuangan bentuk in diberikan dalam bentuk weseltagih dalam jangka panjang. 5. Penurunan Nilai Konsep Umum Penurunan Nilai Piutang pada stiap tanggal pelaporan harus dievaluasi apakah terdapat bukti objektif mengalami penurunan nilai. Jika terdapat bukti objektif maka akan diakui kerugianpenurunan nilai. Bukti objektif terjadi akibat dari satu atau lebih peristiwa setelah pengakuan awal yang mrugikan dan berdampak pada aruskas dimasa depan. Peristiwa yang menyebabkan penurunan nilai meliputi data dan informasi yan dapat diobservasi yang menjadi perhatian pemegang aset. Beberapa contoh peristiwa yang menyebabkan penurunan nilai adalah sebagai berikut : a. Piutanag tidak dilunasi saat jatuh tempo. b. Bunga dan pokok tertunggak dalam beberapa kali termin pembayaran. c. Pihak pemberi kelonggaran memberikan kelonggaran akibat kesulitan keuangan yang dialami pihak peminjam, dalam bentuk perpanjangan jangka waktu pelunasan atau penurunan tingkat suku bunga.
  14. 14. d. Peminjam diyatakan pailit oleh pengadilan. e. Memburuknya kondisi ekonomi yang menyebabkan kemampuan membayar pihak peminjam akan menurun. Jika terdapat bukti objektif, jumlah kerugian diukur berdasarkan selisih antara nilai tercatat piutang dengan nila kini estimasi arus kas masa depan (tidak termasuk keruian kredit masa depan yan belum terjadi, bukan estmated loss tetapi incurred loss). Unuk Piuang dagang, bukti objektif yang dapat diobsevasi di antaranya kesulitan signifika pelanggan dan tertundanya pembayaran dala jangka waktu yang melebihi yan disepakati. Jika pelanggan terbukti mengalami kesulitan keuangan maka piutang tersebut tidak dapat dibayar atau dibayar anmun waktu pembayarannya lebih lama dari yang di janjikan. Penentuan bukti objektif piutang pertama kali dievaluasi secara individual atas piutang yang signifikan secara individual. Jika secara individual terdapat bukti objektif, maka perusahaan harus menghitung arus kas masa depan dari piutang tersebut. Selisihnya akan diakui sebagai kerugian penurunan nilai. Jika tidak terdapat bukti objektif penurunan nilai secara individual, maka piutang tersebut akan dimasukan ke dalam kelompok piutang yang memiliki resiko kredit yang serupa dan menilai penurunan secara kolektif. Penghitungan Penurunan Nilai Untuk Piutang yang signifikan secara individu, penentuan penurunan nilai dihitun secara individu. Piutang yang tidak mungkin dibayar karena kegiatan operasi pelanggan tersebut dihentikan atau pailit dan tiak ada pihak lain yang menjamin piutang tersebut, harus diturunkan nilanya secara keseluruhan. Jumlah penuunan nilai adalah seluruh nilai piutang tercatat nilai jaminan yang dikuasai oleh perusahaan (jika ada). Jika tidak ada jaminan maka semua piutanag tersebut dihapuskan dan akan diakui oleh perusahaan sebagai beban. Ada beberapa teknik untuk menghitung tingkat penurunan nilai dengan menggunakan analisis statistic, di antaranya adalah metode pembebanan rata-rata (average charge method) dan metode roll rate. Average charge-off method, mendasarkan jumlah penurunan nilai berdasarkan data historis rata-rata tingkat kerugian pinjaman beberapa tahun sebelumnya. Untuk masing- masing tahun, diperoleh data saldo piutang, jumlah piutang yang harus dihapuskan, serta jumlah piutang yang telah dihapuskan namun dapat ditagih. Dihitung jumlah pinjaman
  15. 15. neto yang dihapuskan yaitu pinjaman neto yang dihapuskan dikurangi pinjaman neto yang telah dihapuska namun dapat ditagih (recovery). Rata-rata kerugian pinjaman tiap tahun dihitung dari pinjaman neto yang dihapuskan dibagi rata-rata pinjaman untuk masing- masing tahun. Rata-rata kerugian pinjaman dihitung berdasarkan data 5 tahun. Presentase tersebut akan digunakan untuk menilai kerugian pinjaman secara kolektif. Metode rool rate menghitung probabilitas piutang pada periode saat ini akan tetapi menjadi periode berikutnya. Presentase roll rate ini dihitung dalam jangka waktu 1 tahun, untuk kemudian dihitung nilai rata-ratanya. Nilai roll rate per tahun digunakan untuk menentukan nilai piutang tidak tertagih untuk masing-masing umur piutang. Caranya dengan mengalikan presentase tertagih pada periode tersebut dan setelahnya. Kedua teknik perhitungan tersebut akan menghasilkan beban penurunan piutang kolektif dalam 1 periode. Nilai tersebut akan ditambahkan dengan beban penurunan piutang individu yang mengalami penuruna nilai untuk mendapatkan total beban penurunan dalam 1 periode. Jika menggunakan metode cadangan, perhitungan penurunan nilai dan cadangan terlihat berikut ini: Cadangan penurunan nilai awal periode xxx Beban penurunan nilai periode tersebut (hasil perhitungan xxx Piutang yang dihapuskan (individu dan kolektif) (xxx) Piutang recovery (yang sudah dihapuskan tertagih) xxx Cadangan penurunan nilai akhir periode xxx Teknik penurunan piutang menurut PSAK 55 (revisi 2020) berbeda dengan PSAK sebelumnya maupun US-GAAP yang mendasarkan pada estimasi piutang tidak tertagih. Ada 2 metode estimasi yang digunakan yaitu estimasi yang didasarkan pada nilai piutang dan nilai penjualan. Metode berdasarkan penjualan menghitung jumlah beban piutang tak tertagih dari penjualan periode tersebut. Nilai penyisihan piutang diitung dari penyisihan piutang awal periode + penyisihan piutang akhir periode tersebut – penghapusan piutang + jika ada piutang yang recovery .metode ini sering disebut income statement approach, karena dihitung berdasarkan item dan income statement yaitu penjualan dan nilai yang dihitung adalah beban piutang tak tertagih periode tersebut.
  16. 16. Metode berdasarkan nilai piutang menggunakan pendekatan neraca karena perhitungan nilai piutang dan jumlah yang dihitung adalah nilai penyisihan piutang pada akhir periode.metode ini menghitung berapa jumlahpenyisihan piutang dari saldo piutang akhir periode, beban penyisihan akan ditambahkan atau dikurangkan untuk mendapatkan saldo penyisihan piutang yang diinginkan. Jurnal Penurunan Nilai Ada 2 metode, yaitu: 1. Metode penghapusan langsung (direct write off method), dimana piutang yang diturunkan nilainya langsung dihapuskan tanpa dibuat akun cadangan penurunan nilai. Metode ini memiliki pengendalian yang kurang baik. Entitas sulit memonitor jumlah piutang yang telah diturunkan sebelumya. 2. Metode pencadangan (allowance method), diman metode ini lebih tepat digunakan dalam mencatat penurunan nilai. Nilai cadangan penurunan nilai pada akhir periode merupakan rekonsiliasi dari cadangan penurunan nilai pada awal periode, koreksi pada periode sebelumnya (jika ada), penambahan penurunan nilai pada periode berjalan, pengurangan karena penghapusan piutang, dan penambahan karena recovery pelunasan piutang dari piutang yang telah dihapuskan. 6. Penghentian pengakuan Penghentian pengakuan (derecognition) akan menyebabkan nilai piutang dan pinjaman tidak lagi dicatat dalam laporan keuangan. Terjadi ketika kontrak tersebut berakhir dan dipenuhi. PSAK 55 secara spesifik menyebutkan, entitas menghentikan pengakuan asset keuangan, jika dan hanya jika : a. Hak kontraktual atas arus kas yang berasal dari asset keuangan tersebut berakhir. b. Entitas mentransfer asset keuangan yang memenuhi criteria penghentian pengakuan. Transfer asset keuangan adalah transfer hak kontraktual penerimaa kas dari asset keuangan atau tetap memiliki hak kontraktual untuk menerima tetapi memiliki kewajiban untuk membayar arus kas yang diterima tersebut kepada pihak lain. Penghentian pengakuan akan dilakukan jika telah terjadi transfer manfaat dan risiko kepada ihak lain. Jika transfer manfaat dan risiko kepada pihak lain sulit untuk diidentifikasi, makatransfer terjadi jika pengendalian atas asset keuangan tersebut telah berpindah kepada pihak lain dengan alasan : a. Perusahaan ingin memperoleh kas lebih cepat dari jangka waktu pelunasan.
  17. 17. b. Perusahaan tidak mau mengurusi penagihan piutang sehingga meminta pihak lain yang mengelola piutang. c. Penagihan piutang sulit dilakukan. Piutang selain dapat ditransfer untuk mendapatkan kas lebih cepat dari tanggal jatuh tempo , juga dapat digunakan sebagai jaminan untuk memperoleh pinjaman. Bentuk jaminan piutang untuk memperoleh pinjaman dapat berbentuk pengikatan jaminan secara formal ataupun tidak. Bentuk penjaminan piutang ini disebut sebagai utang dengan jaminan (secured borrowing). Piutang yang ditransfer kepada pihak lain untuk tujuan mendapatkan kas lebih cepat, diistilahkan sebagai anjak piutang atau factoring. Perusahaan yang melakukan transaksi anjak piutang biasanya adalah bank atau lembaga keuangan bukan bank. Anjak piutang dapat dipisahkan menjadi Disclosed Factoring yaitu penyerahan piutang kepada perusahaan anjak piutang dengan sepengetahuan debitur. Dan Undiclosed Factoring yaitu penyerahan piutang kepada perusahaan anjak piutang tanpa sepengrtahuan debitur atau notifikasi kepada pelangggan. Transfer anjak piutang bermanfaat bagi pemilik piutang karena dapat memanfaatkan dana lebih cepat, menghemat biaya administrasi penagihan piutang, dan menghindari potensi kredit macet Prosedur Anjak Piutang (2) Review Kredit (4) Pembayaran di muka (1) Memesan Barang (5) Mengirim Barang Prosedur diatas adalah bentuk anjak piutang dengan disclosed, bahkan sejak awal perusahaan anjak piutag mengambil tanggung jawab piutang , sehingga pesetujuan kreditdilakukan oleh perusahaan anjak piutang. Perusahaan Anjak Piutang (3) Menyetujui Kredit Pelanggan Retair atau Grosir Perusahaa Penjaual Produsen atau Debitor
  18. 18. Berdasarkan tanggung jawab setelah piutang tersebut ditransfer, transfer piutang dibedakan menjadi Transfer Piutang dengan Jaminan (With Recourse) yaitu jika perusahaan menjamin piutang tersebut ketika pelanggan tidak membayar piutang. Dan Transfer Piutang Tanpa Jaminan (Without Recourse) yaitu perusahaan tidak menjamin jika piutang tersebut tidak dibayar oleh pelanggan. Akuntansi Transfer Piutang Ilustrasi Transaksi Trasfer Piutang Tanpa/Dengan Jaminan Contoh : PT Kantil pada 1 Maert 2020, mentransfer piutang dagangnya dari PT Mulia kepada perusahaanpembiayaan PT Dahlia Finance sebesar Rp400.000.000. PT Kantil tidak menjamin jika PT Mulia tidak dapat membayar piutang tersebut. Atas transfer piutang ini, PT Dahlia Finance membebankan biaya (fee) sebesar 5% dan mencadangkan 4% untuk penurunan nilai piutang. PT Kantil PT Dahlia Finance Kas 364.000.000 Piutang pada PT Dahlia Finance* 16.000.000 Kerugian penjualan piutang 20.000.000 Piutang Dagang 400.000.000 Piutang Dagang 400.000.000 Utang pada PT Kantil 16.000.000 Pendapatan keuangan 20.000.000 Kas 364.000.000 *dapat juga menggunakan istilah Duel to factor TRANSFER PIUTANG Apaah secara substansi semua risiko dan manfaat telah berpindah TIDAK YA Catat utang dengan jaminan  Aset tidak dihapusbukukan  Catat utang yang timbul  Akui beban bunga Catat sebagai penjualan  Aset dihapusbukukan  Akui asset yang diperoleh dan utang yang timbul  Akui keuntungan atau kerugian
  19. 19. Pada transfer dengan jaminan, perusahaan belum mengalihkan secara substansial semua risiko dan manfaat atas piutang tersebut (perusahaan masih menanggung risiko untuk membayar) kepada perusahaan anjak piutang, jika pelanggan tidak melunasi piutang tersebut. Untuk transaksi transfer with recourse, akan diberlakukan sebagai utang dengan jaminan piutang. Entitas akan tidak menghapusbukukan piutang tersebut, utang akan diakui akibat perolehan uang dari perusahaan anjak piutang diakui sebagai utang sehingga akan muncul beben bunga. Jika jangka waktu pembayaran yang dilakukan relatif lama, maka biaya bunga harus dialokasikan ke periode yang terkait dengan menggunakan bunga efaktif, nilai kini sebesar piutang dikurangi dengan beban bunga (kas diterima), nilai kas masa depan adalah nilai piutang. Bentuk transaksi transfer piutang sangat dipengaruhi oleh bentuk perjanjian antara perusahaan yang memiliki piutang, perusahaan anjak piutang, dan pelanggan yang melakukan transaksi penjualan. Bentuk perjanjian tersebut akan menentukan apakah sebenarnya risiko dan manfaat telah berpindah atau masih berada pada perusahaan yang memiliki piutang. Karena PSAK menggunakan principles based, pengetahuan atas kontrak transfer piutang dan professional judgment sangat menentukan bagaimana transaksi akan dicatat. 7. Penyajian Piutang dalam laporan posisi keuangan disajikan dalam kelompok aset lancar. Perusahaan menyajikan piutang dalam beberapa katagori, yaitu : piutang dagang, piutang usaha dan piutang lain. Perusahaan dalam bidang industri khusus yang memiliki klasifikasi penyajian piutang lebih detail. Pada perusahaan yang bergerak di bidang perbankan, piutang disajikan dalam katagori kredit atau pinjaman yang diberikan. Sedangkan, pada perusahaan pembiayaan (multifinance), piutang disajikan sebagai piutang pembiayaan konsumen, pembiayaan anjak piutang dan piutang leasing. Namun ada beberapa perusahaan tidak menyajikan dalam laporan posisi keuangan dan cukup membuat pengungkapan dalam CALK. Nilai piutang disajikan di laporan posisi keuangan setelah dikurangi dengan cadangan kerugian penurunan nilai. 8. Pengungkapan Pengungkapan piutang dibagi menjadi 3 bagian, yaitu : a. Pengungkapan kebijakan akuntansi piutang, diletakkan bersamaan dengan pengungkapan instrumen keuangan. Kebijakan akuntansi yang terdapat dalam kebijakan akuntansi piutang meliputi : metode pengakuan awal, metode pengukuran setelah perolehan, metode
  20. 20. untuk menghitung penurunan nilai, dan penjelasan mengenai penghapusan piutang. Penjelasan piutang dalam kebijakan akuntansi dilakukan secara bersamaan dengan instrumen keuangan yang lain. b. Pengungkapan rincian piutang yang menjelaskan angka dalam laporan keuangan pokok, CALK dalam rincian laporan keuangan dan penjelasan tentang piutang meliputi : 1) Jenis piutang yang dimiliki, contoh : menurut mata uang dan sifat piutang. 2) Rincian piutang yang dilakukan kepada pelanggan dengan jumlah signifikan. 3) Identifikasi piutang yang diklasifikasikan sebagai aset lancar dan aset tidak lancar. 4) Penurunan nilai piutang dan penjelasan penurunan nilai yang dilakukan secara kolektif maupun individu. 5) Piutang yang digunakan sebagai jaminan. 6) Informasi terkait dengan risiko, yang menjelaskan : a) Piutang yang telah jatuh tempo atau mengalami penurunan nilai. b) Nilai terbawa dari piutang yang mengalami penurunan nilai yang telah dinegosiasikan. c) Analisis umur piutang atas piutang yang telah jatuh tempo. 7) Nilai wajar piutang. 8) Semua konsekuensi risiko kredit atas piutang. c. Penjelasan lain yang material dan signifikan, perbankan biasanya akan menjelaskan secara detail kebijakan penurunan nilai yang dilakukan, baik dari cara penentuan signifikansi maupun cara penghitungan cadangan penurunan nilai untuk piutang secara kolektif. Secara khusus pengungkapan piutang mengikuti ketentuan dalam PSAK 50 Instrumen Keuangan : Penyajian dan PSAK 60 Intrumen Keuangan : Pengungkapan. 9. Analisis Piutang Entitas melakukan analisis piutang yang dimiliki perusahaan dengan menekankan pada risiko tidak tertagihnya piutang. Dalam melakukan analisis, pertama harus dicermati kebijakan akuntansi yang dilakukan dalam mengukur serta menilai piutang dan cadangan penurunan nilai. Analisis piutang dilakukan dengan cara melihat perputaran piutang dan umur piutang. Perputaran piutang dihitung dari penjualan dalam satu periode dibagi piutang rata-rata dalam satu tahun. Piutang rata-rata dihitung dari piutang awal ditambah piutang akhir periode dibagi dua. Entitas dengan perputaran piutang tinggi menandakan bahwa entitas tersebut bagus.
  21. 21. Penjualan Perputaran piutang = Piutang rata-rata 365 Umur piutang = Perputaran Piutang Umur piutang dihitung dengan hari dalam satu tahun dibagi dengan perputaran piutang. Jika hasil perhitungan umur piutang 60 hari, padahal kebijakan kredit dinyatakan dalam 2/10. n/30, maka kualitas penagihan piutang perusahaan kurang bagus. PERSEDIAAN  Pengertian Persediaan 1. Definisi Persediaan merupakan salah satu aset yang sangat penting bagi suatu entitas baik bagi perusahaan ritel, manufaktur, jasa, maupun entitas lainnya. PSAK 14 (revisi 2008) mendefinisikan persediaan sebagai aset yang; (i) tersedia untuk dijual dalam kegiatan usaha biasa; (ii) dalam proses produksi untuk penjualan tersebut; (iii) dalam bentuk bahan atau perlengkapan untuk di gunakan dalam proses produksi atau pemberian jasa. Berdasarrkan definisi tersebut dapat dikatakan bahwa suatu asset diklasifikasikan sebagai persediaan tergantung pada nature business suatu entitas. 2. Klasifikasi Persediaan Klasifkasi persediaan antara satu entitas dengan entitas lain dapat berbeda-beda. Entitas perdagangan baik perusahaan ritel maupun perusahaan grosir mencatat persediaan sebagai persediaan barang dagang (merchandise inventory). Bagi entitas manufaktur, klasifikasi persediaan relatif lebih beragam. Sedangkan bagi entitas jasa, biaya jasa yang belum diakui pendapatanya diklasifikasikan sebagai persediaan.
  22. 22. 3. Cakupan Barang dalam Persediaan Salah satu permasalahan yang sering dihadapi oleh suatu entitas adalah terkait dengan pengakuan kepemilikan atas persediaan. Secara teknis, seharusnya suatu entitas mencatat pembelian atau penjualan atas persediaan ketika telah mendapatkan atau melepaskan hak kepemilikan atas barang tersebut. Namun, sering kali penentuan atas perpindahan hak kepemilikan tersebut relative sulit untuk dilakukan. Barang dalam Transit Dalam proses pembelian barang, dapat saja terjadi di mana barang masih berada pada posisi transit-belum diterima oleh pembeli tetapi sudah dikirim oleh penjual-pada akhir periode fiskal. Pada dasarnya suatu barang diakui sebagai persediaan oleh suatu entitas yang memilki tanggung jawab financial terhadap biaya transportasi. Penjualan Konsinyansi Sebagai salah satu upaya meningkatkan penjualan, banyak perusahaan yang saat ini menggunakan metode konsinyansi dalam penjualannya. Perusahaan ritel sering sekali menerima barang-barang konsinyansi untuk dijual. Pada kerja sama penjualan konsinyansi ini pemilik barang mengirimkan barang kepada penjual, dimana penjual setuju untuk menerima barang tanpa ada kewajiban apa pun, kecuali perawatan dan penjagaan terhadap kehilangan dan kerusakan, hingga barang tersebut terjual kepada pihak lain. Barang atas Penjualan dengan Perjanjian Khusus Sering kali dalam perjanjian penjualan barang perusahaan harus melihat substansi atas penjualan tersebut. Ketika transaksi penjualan dilakukan dan hak kepemilikan telah beralih, maka seharusnya risiko dan manfaat dari kepemilikan juga beralih dari penjual kepada pembeli. Namun demikian, dapat terjadi di mana penjual masih memegang risiko dan manfaat dari kepemilikan atas barang tersebut. Dalam kondisi tersebut maka penjual masih harus mengakui kepemilikannya atas barang tersebut dan tidak terjadi pengurangan ats persediaan penjual.  Pengukuran Persediaan Salah satu masalah utama terkait dengan persediaan adalah mengukur nilai persediaan tersebut. PSAK 14 (revisi 2008) menyatakan bahwa persediaan diukur berdasarkan biaya atau nilai realisasi neto, mana yg lebih rendah.
  23. 23. 1. Biaya Persediaan Biaya persediaan meliputi semua biaya pembelian, biaya konversi, dan biaya lain yang timbul sampai persediaan berada dalam kondisi dan lokasi saat ini. Biaya Pembelian Biaya pembelian persediaan meliputi harga beli, bea impor, pajak lainnya (kecuali yang kemudian dapat ditagihkan kembali kepada otoritas pajak), biaya pengangkutan, biaya penanganan, dan biaya lainnya yang secara langsung dapat diatribusikan pada perolehan barang jadi, bahan dan jasa. Biaya Konversi Biaya konversi merupakan biaya yang timbul untuk memproduksi bahan baku menjadi barang jadi atau barang dalam produksi. Biaya Lainnya Biaya lain yang dapat dibebankan sebagai biaya persediaan adalah biaya yang timbul agar persediaan tersebut berada dalam kondisi dan lokasi saat ini. Yang termasuk biaya lainnya misalnya biaya dsain dan biaya praproduksi yang ditujukanuntuk konsumen yang spesifik. 2. Sistem Pencatatan Persediaan dan Asumsi Arus Biaya Dalam melakukan pencatatan persediaan, teknis pencatatan persediaan terkait juga dengan sistem pencatatan persediaan yang digunakan oleh entitas. Entitas dapat menggunakan sistem periodik atau sistem perpetual. Sistem Periodik merupakan sistem pencatatan persediaan di mana kuantitas persediaan ditentukan secara periodik yaitu hanya pada saat perhitungan fisik yang biasanya dilakukan secara stock opname. Sistem Perpetual merupakan sistem pencatatan persediaan di mana pencatatan yang up- to-date terhadap barang persediaan selalu dilakukan setiap terjadi perubahan nilai persediaan. Metode Identifikasi Khusus Identifikasi khusus biaya artinya biaya-biaya tertentu yang diatribusikan ke unit persediaan tertentu. Berdasarkan metode ini maka suatu entitas harus mengidintifikasikan barang yang dijual dengan tiap jenis dalam persediaan secara spesifik. Metode Biaya Masuk Pertama Keluar Pertama
  24. 24. Metode masuk pertama keluar pertama (MPKP) atau first in first out (FIFO) mengasumsikan unit persediaan yang pertama dibeli akan dijual atau digunakan terlebih dahulu sehingga unit yang tertinggal dalam persediaan akhir adalah yang dibeli atau diproduksi kemudian. Metode Rata-Rata Tertimbang Metode rata-rata tertimbang digunakan dengan menghitung biaya setiap unit berdasarkan biaya rata-rata tertimbang dari unit yang serupa pada awal periode dan biaya unit serupa yang dibeli atau diproduksi selama suatu periode. 3. Nilai Realisasi Neto dan Penurunan Nilai Persediaan Persediaan diukur berdasarkan nilai yang lebih rendah antara nilai yang berdasarkan biaya dan nilai realisasi neto (net realizable value-NRV). Nilai realisasi neto merupakan estimasi harga jual dalam kegiatan usaha biasa dikurangi estimasi biaya penyelesaian dan estimasi biaya yang diperlukan untuk membuat penjualan.  Penggunaan Metode Lain Dalm Valuasi Persediaan 1. Metode Laba Bruto Metode ini menghitung persediaan dengan mengestimasikan jumlah persediaan akhir berdasarkan nilai barang yang tersedia untuk dijual, penjualan, dan presentase laba bruto. Metode ini biasanya dipakai untuk mengestimasikan nilai persediaan ketika entitas mengalami kebakaran atau bencana alamyang merusak sebagian besar persediaan perusahaan. 2. Metode Ritel Metode ritel merupakan metode pengukuran nilai persediaan dengan menggunakan rasio biaya untuk menurunkan nilai persediaan akhir yang dinilai berdasarkan nilai ritelnya menjadi nilai biaya. Metode ini banyak dipakai oleh entitas perdagangan yang memiliki banyak sekali jenis barang dengan nilai per barangnya tidak besar seperti supemarket dan department store.  Pengungkapan Terkait dengan persediaan, maka dalam penyajianya pada laporan keuangan suatau entitas harus mengungkapakan bebrapa hal sebagai berikut : 1. Kebijakan akuntansi yang digunakan dalam pengukuran persediaan, termasuk rumus biaya yang digunakan.
  25. 25. 2. Total jumlah tercatat persediaan dan jumlah nilai tercatat menurut klasifikasi yang sesuai bagi entitas. 3. Jumlah tercatat persediaan yang dicatat dengan nilai wajar dikurangi biaya untuk menjual. 4. Jumlah persediaan yang diakui sebagai beban selama periode berjalan. 5. Jumlah setiap penurunan nilai yang diakui sebagai pengurangan jumlah persediaan yang diakui sebagai beban dalam periode berjalan. 6. Jumlah dari setiap pemulihan dari setiap penurunan nilai yang diakui sebagai pengurang jumlah persediaan yang diakui sebagai beban dalam periode berjalan. 7. Kondisi atau peristiwa penyebab terjadinya pemuliahn nilai persediaan yang diturunkan. 8. Nilai tercatat persediaan yang diperuntukkan sebagai jaminan kewajiban.

LinkedIn Corporation © 2020

Share Clipboard

Public clipboards featuring this slide

Select another clipboard

Looks like you’ve clipped this slide to already.

Peringkat broker opsi biner:
Opsi biner dan forex
Tinggalkan Balasan

;-) :| :x :twisted: :smile: :shock: :sad: :roll: :razz: :oops: :o :mrgreen: :lol: :idea: :grin: :evil: :cry: :cool: :arrow: :???: :?: :!: