Pertukaran Minyak Valas – Rupiah Jeblok, BRI Perketat Penyaluran Kredit Valas

Peringkat broker opsi biner:

Rupiah Jeblok, Keuangan Pertamina & PLN Semakin Sulit

Jakarta, CNBC Indonesia – PT PLN (Persero) mencatat kerugian sebesar Rp 18,48 triliun untuk kinerja kuartal III tahun ini. Kerugian itu terjadi karena terus melemahnya nilai tukar rupiah terhadap dolar AS dan naiknya harga bahan bakar (komoditas).

Kinerja PLN tahun ini berbalik dengan tahun lalu, di mana perseroan bisa mencetak laba bersih Rp 3,05 triliun. Berdasar laporan keuangan yang dipublikasikan di situs Bursa Efek Indonesia, kerugian dipicu kenaikan beban usaha 12%.

Beban terbesar masih berasal dari beban bahan bakar dan pelumas yang naik dari Rp 85,28 triliun menjadi Rp 101,88 triliun. PLN juga menderita pembengkakan kerugian karena selisih kurs. Jika pada kuartal III-2020 rugi dari selisih kurs mencapai Rp 2,23 triliun, maka pada kuartal III-2020 menjadi Rp 17,33 triliun.

Direktur Eksekutif ReforMiner Institute Komaidi Notonegoro menilai, jika kondisi ini terus berlangsung, tentunya akan semakin memberatkan PLN, dan bisa berpotensi merugi semakin dalam.

Kuartal III-2020 PLN Rugi Rp 18 T, Bagaimana Nasib Pertamina?
Tahun Politik, Subsidi Energi Bengkak Rp 4,1 T
“Tarif Listrik Tak Naik, PLN Bisa Rugi Rp 30 T di 2020”

“Hitungan persisnya belum ada, tetapi estimasi kasarnya, kerugian PLN bisa mencapai sekitar Rp 30 triliun sampai akhir tahun ini,” ujar Komaidi kepada CNBC Indonesia saat dihubungi Selasa (30/10/2020).

Lebih lanjut, ia mengatakan, dalam kondisi energi primer pembangkit dan rupiah melemah pilihannya memang dua, merugi atau menaikkan tarif listrik. Menurutnya, pemerintah sebagai pemegang saham sudah memilih pilihan pertama, sehingga ketika kondisi seperti saat ini terjadi, maka konsekuensinya memang harus ditanggung.

Pengamat ekonomi dari Universitas Indonesia (UI) Telisa Aulia mengatakan, memang sudah saatnya PLN melakukan diversifikasi produk, dan melakukan restrukturisasi jangka panjang, agar kerugian tidak semakin dalam.

“Misalnya diversifikasi sumber energi listrik, seperti mengembangan tenaga air dan matahari, dan melakukan hedging kewajiban valas juga penting,” pungkas Telisa.

Lalu, bagaimana dengan nasib PT Pertamina (Persero) yang memikul beban distribusi BBM di kala harga komoditas naik gila-gilaan dan rupiah anjlok?

Peringkat broker opsi biner:

Sampai saat ini belum ada yang bersuara soal laporan keuangan perusahaan migas pelat merah terbesar di RI ini, tak ada pengumuman untuk kinerja semester I maupun kuartal III. Sudah lama tidak ada kabar.

Berdasarkan informasi yang diterima CNBC Indonesia, keuangan Pertamina saat ini masih seret. Tidak merugi, tapi keuntungan yang dipetik merosot sangat dalam dibanding kinerja tahun lalu. Kabarnya, Pertamina hanya mencetak laba US$ 60 juta atau sekitar Rp 900 miliar hanya untuk kuartal III.

Untuk semester I perusahaan disebut hanya sanggup bukukan laba di bawah Rp 5 triliun. Hal itu sebagaimana pernah diungkap Deputi Bidang Pertambangan, Industri Strategis, dan Media Kementerian BUMN Fajar Harry Sampurno.

Komaidi mengakui, memang kondisi yang berat pun dialami Pertamina, namun ia berpendapat, kondisi Pertamina relatif bisa lebih baik, karena dibantu dengan industri di hulu migas perusahaan. “Yang terjadi hanya untungnya saja yang berkurang,” imbuh Komaidi.

Hal serupa juga disampaikan oleh pengamat energi Fabby Tumiwa. Menurutnya, karena Pertamina memiliki diversifikasi produk dan harga yang lebih luas dibandingkan PLN, ditambah struktur biaya produksi yang lebih fleksibel. Sehingga, pada dasarnya pendapatan dari bisnis Pertamina lebih beragam dan Pertamina masih positif keuangannya walaupun margin keuntungan berkurang.

“Saya kira dengan harga minyak sekarang, Pertamina masih aman, tapi kalau harga minyak tinggi Pertamina bisa bahaya kalau harga BBM jenis Premium (Ron 88) tidak dinaikkan,” tutur Fabby ketika dihubungi CNBC Indonesia, Selasa (30/10/2020).

Adapun, ketika dikonfirmasi terkait laporan keuangan perusahaan, Pertamina belum memberikan jawaban pasti. External Communication Manager Pertamina Arya Dwi Paramita hanya menyebut laporan keuangan masih dikonsolidasi. “Sampai kuartal III sepertinya lagi dikonsolidasikan,” ujarnya, Selasa (30/10/2020).

Harga Minyak Naik, ‘Luka’ Rupiah Kian Menganga

Jakarta, CNBC Indonesia – Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) masih melemah di perdagangan pasar spot hari ini. Rupiah tidak kunjung menemukan momentum untuk kembali perkasa.

Pada Senin (4/3/2020) pukul 09:00 WIB, US$ 1 dibanderol Rp 14.150. Rupiah melemah 0,28% dibandingkan posisi penutupan perdagangan akhir pekan lalu.

Seiring perjalanan, depresiasi rupiah agak menipis. Pada pukul 09:07 WIB, US$ 1 dihargai Rp 14.145 di mana rupiah melemah 0,25%.

Kala pembukaan perdagangan pasar spot, rupiah hanya melemah 0,04%. Pelemahan yang tipis itu membuka harapan bahwa rupiah bisa bangkit setelah 3 hari beruntun terjebak di zona merah.

Namun kini harapan itu justru semakin jauh. Bukan tanpa alasan, sebab kini rupiah masih menyandang ‘gelar’ sebagai mata uang terlemah di Asia. Dalam hal melemah di hadapan dolar AS, rupiah adalah jagonya.

Berikut perkembangan nilai tukar dolar AS terhadap mata uang utama Benua Kuning pada pukul 09:09 WIB:

Peringkat broker opsi biner:
Opsi biner dan forex
Tinggalkan Balasan

;-) :| :x :twisted: :smile: :shock: :sad: :roll: :razz: :oops: :o :mrgreen: :lol: :idea: :grin: :evil: :cry: :cool: :arrow: :???: :?: :!: