Strategi Perdagangan Opsi Dijelaskan – Tag Opsi Jual

Peringkat broker opsi biner:

Tag: Opsi Jual

TEORI OPSI (OPTION THEORY)

TEORI OPSI (OPTION THEORY)

Anita Limanto; Fransiska Yuliana; & Daniel Sugama Stephanus

Program Studi Akuntansi – Fakultas Ekonomi Dan Bisnis – Universitas Ma Chung Malang – 2020

1.1 Latar Belakang

Pasar modal menyediakan berbagai pilihan investasi bagi investor. Investor yang memiliki kelebihan dana dapat memilih produk pasar modal berupa saham, obligasi, reksa dana, dan derivatif. Setiap produk yang ada di pasar modal memiliki risiko dan return masing-masing sesuai dengan tipe investor. Investor yang agresif berani menanggung risiko tinggi dengan berinvestasi pada saham. Investor yang moderat lebih memilih untuk berinvestasi pada reksadana. Sedangkan investor yang konservatif dengan tidak berani menanggung risiko tinggi akan memilih untuk berinvestasi pada obligasi.

aAgar pasar modal di Indonesia mengalami perkembangan, BEI opsi sebagai salah satu produk derivatif. Oleh karena itu, pada tanggal 6 Oktober 2004 BEI memulai perdagangan Kontrak Opsi Saham (KOS). Dengan diterbitkannya opsi sebagai salah satu instrumen perdagangan di pasar modal, semakin melengkapi produk yang sudah ada sebelumnya. Dengan mengembangkan opsi, BEI berharap dapat meningkatkan daya tarik investor untuk berinvestasi. Sama seperti produk pasar modal lainnya, opsi juga dapat diperjualbelikan antar investor di bursa.

Sebagai salah satu produk di pasar modal, opsi merupakan suatu perjanjian atau kontrak antara penjual opsi dengan pembeli opsi (buyer). Opsi memiliki peranan untuk menjamin adanya hak yang bukan suatu kewajiban dari pembeli opsi untuk membeli atau menjual saham tertentu pada waktu dan harga yang telah ditetapkan.

Opsi dikelompokkan menjadi dua, yaitu opsi beli dan opsi jual. Opsi beli merupakan opsi yang memberikan hak kepada pemegangnya untuk membeli saham dalam jumlah, waktu, dan harga yang telah ditentukan.Investor yang membeli call option berharap harga saham akan naik agar dapat mendapatkan keuntungan dari kenaikan harga tersebut. Opsi jual merupakan opsi yang memberikan hak kepada pemegangnya untuk menjual saham dalam jumlah, waktu, dan harga yang telah ditentukan. Investor yang membeli put option berharap harga saham turun atau berada di bawah harga harga yang telah disepakati di kontrak opsi (Tandelilin, 2020).

Saat ini, perdagangan opsi di pasar modal Indonesia terdapat lebih dari 40 anggota bursa KOS. Selain itu, perdagangan opsi hanya terbatas untuk beberapa saham perusahaan yang terdaftar di BEI seperti ASII, BBCA, INDF, TLKM, dan HMSP (Tandelilin, 2020). Akan tetapi, perdagangan opsi kurang diminati oleh investor Indonesia dan lebih sering diperdagangkan di luar negeri seperti Amerika dan Eropa. Menurut okezone.com pada 15 November 2020 yang menyatakan bahwa produk derivatif berupa opsi memiliki peminat yang sangat minimal sehingga produk ini sama sekali tidak berkembang. Akan tetapi, di beberapa bursa di luar negeri perkembangan produk derivatif berupa opsi cukup aktif. Hal ini terlihat pada bursa di Singapura sekitar 25% pendapatan bersumber dari transaksi instrumen derivatif.

Menurut okezone.com pada 15 November 2020, transaksi instrumen derivatif berupa opsi yang kurang diminati oleh investor salah satunya disebabkan begitu banyak kasus kebangkrutan perusahaan besar akibat adanya opsi. Investor di Indonesia yang melakukan transaksi derivatif berupa opsi banyak yang mengalami kerugian. Hal ini menjadi pemicu runtuhnya banyak perusahaan besar dan sentimen dari banyak investor. Sebagian investor juga mengaggap bahwa investasi pada derivatif itu haram karena merupakan instrumen yang sangat spekulatif.

  1. LANDASAN TEORI

2.1 Sejarah Opsi

Perdagangan pertama call option dan put option dimulai di Eropa dan di Amerika Serikat pada awal abad ke 18. Dalam tahun 1900-an sebuah group besar membuat asosiasi broker dan dealer put dan dealer call serta mendirikan suatu perusahaan. Tujuan dari perusahaan ini adalah untuk menyediakan suatu mekanisma bagi pembeli dan penjual. Pemodal yang menginginkan untuk membeli suatu opsi dapat menghubungi salah satu dari anggota asosiasi tersebut. Perusahaan tersebut akan berusaha menemukan penjual atau pembeli opsi dari nasabah lainnya. Pasar yang dibuat melalui cara ini dikenal dengan Over The Counter Market, karena penjual dan pembeli tidak bertemu dalam suatu lantai perdagangan. Namun, di dalam mekanisma ini, terdapat beberapa kelemahan antara lain, tidak ada secondary market dimana pembeli opsi tidak memunyai hak untuk menjual ke pihak lain sebelum jatuh tempo dan tidak ada mekanisma untuk menjamin bahwa penjual opsi yang akan memenuhi kontrak (bapepam, 2003).

Kemudian, pada bulan April tahun 1973 dewan perdagangan Chicago membuat bursa baru dengan nama The Chicago Board Opsi Exchange, khususnya untuk tujuan perdagangan stok opsi. Setelah itu, perdagangan opsi menjadi terkenal bagi pemodal. The American Stock Exchange (AMEX) dan the Philadelphia Stock Exchange (PHLX) mulai melakukan perdagangan opsi pada tahun 1975. The Pacific Stock Exchange (PSE) melakukan hal yang sama pada tahun 1976. Pada permulaan 1980, volume perdagangan telah mengalami pertumbuhan yang sangat pesat sehingga jumlah underlying saham kontrak opsi yang terjual setiap hari melebihi voluma saham yang diperdagangkan pada New York Stock Exchange. Pada tahun 1980 pasar yang dikembangkan di Amerika Serikat yaitu antara lain opsi atas indek saham dan opsi atas futures kontrak. The Philadephia Stock Exchange merupakan bursa utama untuk perdagangan opsi luar negeri. The Chicago Board Opsis Exchange memperdagangkan opsi indek saham S&P 100 dan S&P 500. The American Stock Exchange memperdagangkan opsi atas indek saham utama dan The New York Stock Exchange memperdagangkan opsi atas NYSE indeks. Sebagian besar bursa menawarkan kontrak futures dan juga menawarkan opsi atas kontrak futures tersebut. Kemudian, pada tahun 1980-an dan 1990-an terlihat perkembangan pasar Over The Counter (OTC) bagi opsi. Pada mekanisma OTC ini, persetujuan kontrak antara pembeli dan penjual umumnya dilakukan melalui telepon daripada melalui lantai bursa (bapepam, 2003).

2.2 Definisi Opsi

Opsi merupakan suatu perjanjian atau kontrak antara penjual opsi (seller atau writer) dengan pembeli opsi (buyer). Opsi memiliki peranan untuk menjamin adanya hak yang bukan suatu kewajiban dari pembeli opsi untuk membeli atau menjual saham tertentu pada waktu dan harga yang telah ditetapkan. Pihak-pihak yang terlibat dalam opsi adalah para investor dengan investor lain tanpa melibatkan emiten yang dijadikan opsi. Opsi diterbitkan oleh investor untuk dijual kepada investor lainnya dan emiten tidak memunyai kepentingan dalam transaksi opsi (Tandelilin, 2020).

Opsi merupakan suatu tipe kontrak antara dua pihak dimana salah satu pihak memberikan hak kepada pihak lain untuk membeli atau menjual suatu aktiva pada harga dan jangka waktu tertentu. Disebut opsi karena pemegang atau pembeli opsi memililiki pilihan (opsi) untuk menggunakan opsi tersebut kapan saja selama masih berlaku atau tidak menggunakan sampai masa berlakunya berakhir. Pihak yang memiliki hak disebut sebagai pembeli opsi (option buyer). Sedangkan pihak yang menjual opsi harus bertanggung jawab atas keputusan pembeli opsi kapan opsi tersebut digunakan dengan penerbit opsi (option writer) (Jogiyanto, 2020).

Salah satu instrumen derivatif yang memunyai potensi untuk dikembangkan adalah opsi. Pengertian dari opsi adalah suatu kontrak antara dua pihak dimana salah satu pihak (sebagai pembeli) memunyai hak tetapi bukan kewajiban, untuk membeli atau menjual suatu aset atau efek tertentu dengan harga yang telah ditentukan pula, pada atau sebelum waktu yang ditentukan dari atau ke pihak lain (sebagai penjual). Pemegang opsi tidak diwajibkan untuk melaksanakan haknya jika perubahan dari harga underlying asetnya akan menghasilkan keuntungan baik dengan menjual atau membeli underlying aset tersebut (bapepam, 2003).

Berdasarkan definisi opsi menurut para ahli, maka dapat disimpulkan bahwa opsi merupakan suatu kontrak atau perjanjian antara dua pihak yaitu penjual opsi dan pembeli opsi untuk melakukan transaksi jual beli pada harga dan jangka waktu tertentu. Opsi memiliki sifat sebagai hak dan bukan sebagai kewajiban. Pemilik opsi dapat memilih untuk menggunakan atau tidak menggunakan opsi tersebut selama masa berlakunya belum berakhir.

2.3 Dasar Hukum Opsi

Menurut BEI (2020), dasar hukum yang menjadi pedoman dalam opsi saham sebagai salah satu produk derivatif adalah sebagai berikut.

  1. UU No.8 tahun 1995 tentang pasar modal.
  2. Peraturan pemerintah no.45 tahun 1995 tentang penyelenggaraan kegiatan di bidang pasar modal.
  3. SK bapepam No. Kep.07/PM/2003 tanggal 20 Februari 2003 tentang penetapan kontrak berjangka atas indeks efek sebagai efek.
  4. Peraturan bapepam No. III. E. 1 tanggal 31 Okt 2003 tentang kontrak berjangka dan opsi atas efek atau indeks efek.
  5. SE Ketua bapepam No. SE-01/PM/2002 tanggal 25 Februari 2002 tentang kontrak berjangka indeks efek dalam pelaporan MKBD perusahaan efek.
  6. Persetujuan tertulis bapepam No. S-356/PM/2004 tanggal 18 Februari 2004 perihal persetujuan KBIE-LN (DJIA & DJ Japan Titans 100).

2.4 Jenis-Jenis Opsi

Menurut Tandelilin (2020), berdasarkan bentuk hak yang terjadi, opsi dapat dikelompokkan menjadi dua adalah sebagai berikut.

Opsi beli merupakan opsi yang memberikan hak kepada pemegangnya untuk membeli saham dalam jumlah, waktu, dan harga yang telah ditentukan. Investor yang membeli call option berharap harga saham akan naik agar dapat mendapatkan keuntungan dari kenaikan harga tersebut.

Opsi jual merupakan opsi yang memberikan hak kepada pemegangnya untuk menjual saham dalam jumlah, waktu, dan harga yang telah ditentukan. Investor yang membeli put option berharap harga saham turun atau berada di bawah harga harga yang telah disepakati di kontrak opsi. Hal ini dilakukan agar investor dapat menjual saham tersebut kepada penjual call option dengan harga yang lebih tinggi dari harga pasar.

Menurut Jogiyanto (2020), ada dua jenis opsi saham adalah sebagai berikut.

Opsi beli merupakan suatu tipe kontrak yang meberikan hak bagi pembeli opsi untuk membeli dari penjual opsi sejumlah saham pada harga dan jangka waktu tertentu. Kontrak opsi berisi empat hal utama yaitu.

  1. Nama perusahaan yang sahamnya dapat dibeli.
  2. Jumlah lembar saham yang dapat dibeli.
  3. Harga pembelian sahamnya yang disebut dengan exercise price atau strike price.
  4. Tanggal opsi kadaluwarsa yaitu tanggal terakhir opsi dapat digunakan yang disebut dengan expiration date.
  1. Opsi Jual (Put Option)

Opsi jual merupakan suatu tipe kontrak yang memberikan hak kepada pembeli opsi untuk menjual kepada penjual opsi sesuai dengan jumlah lembar saham pada harga dan jangka waktu tertentu. Kontrak opsi berisi empat hal utama yaitu.

  1. Nama perusahaan yang sahamnya dapat dijual.
  2. Jumlah lembar saham yang dapat dijual.
  3. Harga pembelian sahamnya yang disebut dengan exercise price atau strike price.
  4. Tanggal opsi kadaluwarsa yaitu tanggal terakhir opsi dapat digunakan

yang disebut dengan expiration date.

Terdapat dua jenis kontrak opsi yang paling mendasar yaitu call option dan put option. Suatu call option memberikan hak (bukan kewajiban) kepada pembeli untuk membeli suatu aset tertentu dengan jumlah tertentu pada harga yang telah ditentukan selama perioda tertentu pula, serta memasukkan tanggal tertentu. Menurut bapepam (2003), dalam kontrak opsi tersebut ada empat ciri utama adalah sebagai berikut.

  1. Underlying asset yang akan dibeli
  2. Jumlah underlying asset yang dapat dibeli
  3. Harga pembelian underlying asset tersebut, atau yang disebut dengan exerciseprice (atau striking price).
  4. Tanggal berakhirnya hak membeli, atau disebut dengan expiration date.

Sementara, kontrak put option ini memberikan hak kepada pembeli untuk menjual sejumlah saham tertentu dari underlying asset tertentu kepada penjual pada harga tertentu setiap saat atau pada waktu yang telah ditentukan. Ciri utama dalam put option ini hampir sama dengan yang tertuang dalam call option. Dalam transaksi opsi akan terkait dengan pelaksanaan hak, pada umumnya terdapat dua cara yaitu American exercise dan European exercise. Bila dalam transaksi opsi mengunakkan American exercise maka pembeli opsi dapat melaksanakan haknya setiap waktu sejak tanggal pembelian sampai tanggal jatuh tempo. Sedangkan pada European exercise pelaksanaan hak atas opsi dapat dilakukan pada waktu yang sudah ditentukan (bapepam, 2003).

Berdasarkan jenis-jenis opsi menurut para ahli, maka dapat disimpulkan bahwa jenis-jenis opsi ada dua macam yaitu opsi beli dan opsi jual. Opsi beli merupakan opsi untuk melakukan kontrak pembelian hak untuk membeli sejumlah saham dalam harga dan jangka waktu tertentu. Investor yang membeli opsi beli berharap harga saham naik. Sedangkan, investor yang membeli opsi jual berharap saham turun. Opsi jual merupakan opsi untuk melakukan kontrak pembelian hak untuk menjual sejumlah saham pada harga dan jangka waktu tertentu. Investor yang membeli opsi jual berharap harga saham turun.

2.5 Karakteristik Opsi Saham di BEI

Menurut BEI (2020), karakteristik opsi saham yang diperdagangkan di BEI adalah sebagai berikut.

Tabel 1. Karakteristik Opsi Saham

Tag: Teori Opsi

TEORI OPSI (OPTION THEORY)

TEORI OPSI (OPTION THEORY)

Anita Limanto; Fransiska Yuliana; & Daniel Sugama Stephanus

Program Studi Akuntansi – Fakultas Ekonomi Dan Bisnis – Universitas Ma Chung Malang – 2020

1.1 Latar Belakang

Pasar modal menyediakan berbagai pilihan investasi bagi investor. Investor yang memiliki kelebihan dana dapat memilih produk pasar modal berupa saham, obligasi, reksa dana, dan derivatif. Setiap produk yang ada di pasar modal memiliki risiko dan return masing-masing sesuai dengan tipe investor. Investor yang agresif berani menanggung risiko tinggi dengan berinvestasi pada saham. Investor yang moderat lebih memilih untuk berinvestasi pada reksadana. Sedangkan investor yang konservatif dengan tidak berani menanggung risiko tinggi akan memilih untuk berinvestasi pada obligasi.

aAgar pasar modal di Indonesia mengalami perkembangan, BEI opsi sebagai salah satu produk derivatif. Oleh karena itu, pada tanggal 6 Oktober 2004 BEI memulai perdagangan Kontrak Opsi Saham (KOS). Dengan diterbitkannya opsi sebagai salah satu instrumen perdagangan di pasar modal, semakin melengkapi produk yang sudah ada sebelumnya. Dengan mengembangkan opsi, BEI berharap dapat meningkatkan daya tarik investor untuk berinvestasi. Sama seperti produk pasar modal lainnya, opsi juga dapat diperjualbelikan antar investor di bursa.

Sebagai salah satu produk di pasar modal, opsi merupakan suatu perjanjian atau kontrak antara penjual opsi dengan pembeli opsi (buyer). Opsi memiliki peranan untuk menjamin adanya hak yang bukan suatu kewajiban dari pembeli opsi untuk membeli atau menjual saham tertentu pada waktu dan harga yang telah ditetapkan.

Opsi dikelompokkan menjadi dua, yaitu opsi beli dan opsi jual. Opsi beli merupakan opsi yang memberikan hak kepada pemegangnya untuk membeli saham dalam jumlah, waktu, dan harga yang telah ditentukan.Investor yang membeli call option berharap harga saham akan naik agar dapat mendapatkan keuntungan dari kenaikan harga tersebut. Opsi jual merupakan opsi yang memberikan hak kepada pemegangnya untuk menjual saham dalam jumlah, waktu, dan harga yang telah ditentukan. Investor yang membeli put option berharap harga saham turun atau berada di bawah harga harga yang telah disepakati di kontrak opsi (Tandelilin, 2020).

Saat ini, perdagangan opsi di pasar modal Indonesia terdapat lebih dari 40 anggota bursa KOS. Selain itu, perdagangan opsi hanya terbatas untuk beberapa saham perusahaan yang terdaftar di BEI seperti ASII, BBCA, INDF, TLKM, dan HMSP (Tandelilin, 2020). Akan tetapi, perdagangan opsi kurang diminati oleh investor Indonesia dan lebih sering diperdagangkan di luar negeri seperti Amerika dan Eropa. Menurut okezone.com pada 15 November 2020 yang menyatakan bahwa produk derivatif berupa opsi memiliki peminat yang sangat minimal sehingga produk ini sama sekali tidak berkembang. Akan tetapi, di beberapa bursa di luar negeri perkembangan produk derivatif berupa opsi cukup aktif. Hal ini terlihat pada bursa di Singapura sekitar 25% pendapatan bersumber dari transaksi instrumen derivatif.

Menurut okezone.com pada 15 November 2020, transaksi instrumen derivatif berupa opsi yang kurang diminati oleh investor salah satunya disebabkan begitu banyak kasus kebangkrutan perusahaan besar akibat adanya opsi. Investor di Indonesia yang melakukan transaksi derivatif berupa opsi banyak yang mengalami kerugian. Hal ini menjadi pemicu runtuhnya banyak perusahaan besar dan sentimen dari banyak investor. Sebagian investor juga mengaggap bahwa investasi pada derivatif itu haram karena merupakan instrumen yang sangat spekulatif.

  1. LANDASAN TEORI

2.1 Sejarah Opsi

Perdagangan pertama call option dan put option dimulai di Eropa dan di Amerika Serikat pada awal abad ke 18. Dalam tahun 1900-an sebuah group besar membuat asosiasi broker dan dealer put dan dealer call serta mendirikan suatu perusahaan. Tujuan dari perusahaan ini adalah untuk menyediakan suatu mekanisma bagi pembeli dan penjual. Pemodal yang menginginkan untuk membeli suatu opsi dapat menghubungi salah satu dari anggota asosiasi tersebut. Perusahaan tersebut akan berusaha menemukan penjual atau pembeli opsi dari nasabah lainnya. Pasar yang dibuat melalui cara ini dikenal dengan Over The Counter Market, karena penjual dan pembeli tidak bertemu dalam suatu lantai perdagangan. Namun, di dalam mekanisma ini, terdapat beberapa kelemahan antara lain, tidak ada secondary market dimana pembeli opsi tidak memunyai hak untuk menjual ke pihak lain sebelum jatuh tempo dan tidak ada mekanisma untuk menjamin bahwa penjual opsi yang akan memenuhi kontrak (bapepam, 2003).

Kemudian, pada bulan April tahun 1973 dewan perdagangan Chicago membuat bursa baru dengan nama The Chicago Board Opsi Exchange, khususnya untuk tujuan perdagangan stok opsi. Setelah itu, perdagangan opsi menjadi terkenal bagi pemodal. The American Stock Exchange (AMEX) dan the Philadelphia Stock Exchange (PHLX) mulai melakukan perdagangan opsi pada tahun 1975. The Pacific Stock Exchange (PSE) melakukan hal yang sama pada tahun 1976. Pada permulaan 1980, volume perdagangan telah mengalami pertumbuhan yang sangat pesat sehingga jumlah underlying saham kontrak opsi yang terjual setiap hari melebihi voluma saham yang diperdagangkan pada New York Stock Exchange. Pada tahun 1980 pasar yang dikembangkan di Amerika Serikat yaitu antara lain opsi atas indek saham dan opsi atas futures kontrak. The Philadephia Stock Exchange merupakan bursa utama untuk perdagangan opsi luar negeri. The Chicago Board Opsis Exchange memperdagangkan opsi indek saham S&P 100 dan S&P 500. The American Stock Exchange memperdagangkan opsi atas indek saham utama dan The New York Stock Exchange memperdagangkan opsi atas NYSE indeks. Sebagian besar bursa menawarkan kontrak futures dan juga menawarkan opsi atas kontrak futures tersebut. Kemudian, pada tahun 1980-an dan 1990-an terlihat perkembangan pasar Over The Counter (OTC) bagi opsi. Pada mekanisma OTC ini, persetujuan kontrak antara pembeli dan penjual umumnya dilakukan melalui telepon daripada melalui lantai bursa (bapepam, 2003).

2.2 Definisi Opsi

Opsi merupakan suatu perjanjian atau kontrak antara penjual opsi (seller atau writer) dengan pembeli opsi (buyer). Opsi memiliki peranan untuk menjamin adanya hak yang bukan suatu kewajiban dari pembeli opsi untuk membeli atau menjual saham tertentu pada waktu dan harga yang telah ditetapkan. Pihak-pihak yang terlibat dalam opsi adalah para investor dengan investor lain tanpa melibatkan emiten yang dijadikan opsi. Opsi diterbitkan oleh investor untuk dijual kepada investor lainnya dan emiten tidak memunyai kepentingan dalam transaksi opsi (Tandelilin, 2020).

Opsi merupakan suatu tipe kontrak antara dua pihak dimana salah satu pihak memberikan hak kepada pihak lain untuk membeli atau menjual suatu aktiva pada harga dan jangka waktu tertentu. Disebut opsi karena pemegang atau pembeli opsi memililiki pilihan (opsi) untuk menggunakan opsi tersebut kapan saja selama masih berlaku atau tidak menggunakan sampai masa berlakunya berakhir. Pihak yang memiliki hak disebut sebagai pembeli opsi (option buyer). Sedangkan pihak yang menjual opsi harus bertanggung jawab atas keputusan pembeli opsi kapan opsi tersebut digunakan dengan penerbit opsi (option writer) (Jogiyanto, 2020).

Salah satu instrumen derivatif yang memunyai potensi untuk dikembangkan adalah opsi. Pengertian dari opsi adalah suatu kontrak antara dua pihak dimana salah satu pihak (sebagai pembeli) memunyai hak tetapi bukan kewajiban, untuk membeli atau menjual suatu aset atau efek tertentu dengan harga yang telah ditentukan pula, pada atau sebelum waktu yang ditentukan dari atau ke pihak lain (sebagai penjual). Pemegang opsi tidak diwajibkan untuk melaksanakan haknya jika perubahan dari harga underlying asetnya akan menghasilkan keuntungan baik dengan menjual atau membeli underlying aset tersebut (bapepam, 2003).

Berdasarkan definisi opsi menurut para ahli, maka dapat disimpulkan bahwa opsi merupakan suatu kontrak atau perjanjian antara dua pihak yaitu penjual opsi dan pembeli opsi untuk melakukan transaksi jual beli pada harga dan jangka waktu tertentu. Opsi memiliki sifat sebagai hak dan bukan sebagai kewajiban. Pemilik opsi dapat memilih untuk menggunakan atau tidak menggunakan opsi tersebut selama masa berlakunya belum berakhir.

2.3 Dasar Hukum Opsi

Menurut BEI (2020), dasar hukum yang menjadi pedoman dalam opsi saham sebagai salah satu produk derivatif adalah sebagai berikut.

  1. UU No.8 tahun 1995 tentang pasar modal.
  2. Peraturan pemerintah no.45 tahun 1995 tentang penyelenggaraan kegiatan di bidang pasar modal.
  3. SK bapepam No. Kep.07/PM/2003 tanggal 20 Februari 2003 tentang penetapan kontrak berjangka atas indeks efek sebagai efek.
  4. Peraturan bapepam No. III. E. 1 tanggal 31 Okt 2003 tentang kontrak berjangka dan opsi atas efek atau indeks efek.
  5. SE Ketua bapepam No. SE-01/PM/2002 tanggal 25 Februari 2002 tentang kontrak berjangka indeks efek dalam pelaporan MKBD perusahaan efek.
  6. Persetujuan tertulis bapepam No. S-356/PM/2004 tanggal 18 Februari 2004 perihal persetujuan KBIE-LN (DJIA & DJ Japan Titans 100).

2.4 Jenis-Jenis Opsi

Menurut Tandelilin (2020), berdasarkan bentuk hak yang terjadi, opsi dapat dikelompokkan menjadi dua adalah sebagai berikut.

Opsi beli merupakan opsi yang memberikan hak kepada pemegangnya untuk membeli saham dalam jumlah, waktu, dan harga yang telah ditentukan. Investor yang membeli call option berharap harga saham akan naik agar dapat mendapatkan keuntungan dari kenaikan harga tersebut.

Opsi jual merupakan opsi yang memberikan hak kepada pemegangnya untuk menjual saham dalam jumlah, waktu, dan harga yang telah ditentukan. Investor yang membeli put option berharap harga saham turun atau berada di bawah harga harga yang telah disepakati di kontrak opsi. Hal ini dilakukan agar investor dapat menjual saham tersebut kepada penjual call option dengan harga yang lebih tinggi dari harga pasar.

Menurut Jogiyanto (2020), ada dua jenis opsi saham adalah sebagai berikut.

Opsi beli merupakan suatu tipe kontrak yang meberikan hak bagi pembeli opsi untuk membeli dari penjual opsi sejumlah saham pada harga dan jangka waktu tertentu. Kontrak opsi berisi empat hal utama yaitu.

  1. Nama perusahaan yang sahamnya dapat dibeli.
  2. Jumlah lembar saham yang dapat dibeli.
  3. Harga pembelian sahamnya yang disebut dengan exercise price atau strike price.
  4. Tanggal opsi kadaluwarsa yaitu tanggal terakhir opsi dapat digunakan yang disebut dengan expiration date.
  1. Opsi Jual (Put Option)

Opsi jual merupakan suatu tipe kontrak yang memberikan hak kepada pembeli opsi untuk menjual kepada penjual opsi sesuai dengan jumlah lembar saham pada harga dan jangka waktu tertentu. Kontrak opsi berisi empat hal utama yaitu.

  1. Nama perusahaan yang sahamnya dapat dijual.
  2. Jumlah lembar saham yang dapat dijual.
  3. Harga pembelian sahamnya yang disebut dengan exercise price atau strike price.
  4. Tanggal opsi kadaluwarsa yaitu tanggal terakhir opsi dapat digunakan

yang disebut dengan expiration date.

Terdapat dua jenis kontrak opsi yang paling mendasar yaitu call option dan put option. Suatu call option memberikan hak (bukan kewajiban) kepada pembeli untuk membeli suatu aset tertentu dengan jumlah tertentu pada harga yang telah ditentukan selama perioda tertentu pula, serta memasukkan tanggal tertentu. Menurut bapepam (2003), dalam kontrak opsi tersebut ada empat ciri utama adalah sebagai berikut.

  1. Underlying asset yang akan dibeli
  2. Jumlah underlying asset yang dapat dibeli
  3. Harga pembelian underlying asset tersebut, atau yang disebut dengan exerciseprice (atau striking price).
  4. Tanggal berakhirnya hak membeli, atau disebut dengan expiration date.

Sementara, kontrak put option ini memberikan hak kepada pembeli untuk menjual sejumlah saham tertentu dari underlying asset tertentu kepada penjual pada harga tertentu setiap saat atau pada waktu yang telah ditentukan. Ciri utama dalam put option ini hampir sama dengan yang tertuang dalam call option. Dalam transaksi opsi akan terkait dengan pelaksanaan hak, pada umumnya terdapat dua cara yaitu American exercise dan European exercise. Bila dalam transaksi opsi mengunakkan American exercise maka pembeli opsi dapat melaksanakan haknya setiap waktu sejak tanggal pembelian sampai tanggal jatuh tempo. Sedangkan pada European exercise pelaksanaan hak atas opsi dapat dilakukan pada waktu yang sudah ditentukan (bapepam, 2003).

Berdasarkan jenis-jenis opsi menurut para ahli, maka dapat disimpulkan bahwa jenis-jenis opsi ada dua macam yaitu opsi beli dan opsi jual. Opsi beli merupakan opsi untuk melakukan kontrak pembelian hak untuk membeli sejumlah saham dalam harga dan jangka waktu tertentu. Investor yang membeli opsi beli berharap harga saham naik. Sedangkan, investor yang membeli opsi jual berharap saham turun. Opsi jual merupakan opsi untuk melakukan kontrak pembelian hak untuk menjual sejumlah saham pada harga dan jangka waktu tertentu. Investor yang membeli opsi jual berharap harga saham turun.

2.5 Karakteristik Opsi Saham di BEI

Menurut BEI (2020), karakteristik opsi saham yang diperdagangkan di BEI adalah sebagai berikut.

Tabel 1. Karakteristik Opsi Saham

Tipe KOS Call option dan put option
Satuan Perdagangan 1 kontrak=10.000 opsi saham
Masa Berlaku 1,2 dan 3 bulan
Pelaksanaan hak Metoda Amerika (Setiap saat dalam jam tertentu di
(exercise) hari bursa, selama masa berlaku KOS)
Penyelesaian Secara tunai pada T+1, dengan pedoman:
call option=WMA – strike price
pelaksanaan hak
put option = strike price – WMA
Margin awal 10% dari nilai kontrak
WMA (Weighted Adalah rata-rata tertimbang dari saham acuan opsi
selama 30 menit dan akan muncul setelah 15 menit
Moving Average)
berikutnya
Adalah harga tebus (exercise price) untuk setiap seri
Strike price KOS yang ditetapkan tujuh seri untuk call option dan
tujuh seri untuk put option berdasarkan closing price
saham acuan opsi saham
Diberlakukan apabila:
Automatic exercise jika WMA 110% dari strike>call option, jika
WMA price 90% dari strike price E. Penjual opsi beli akan rugi sebesar nilai yang sama.

P (Harga Pasar Saham)

Gambar 1.

Gambar payoff untuk pembeli opsi beli.

Sumber: Jogiyanto, 2020

0 E P (Harga Pasar Saham)

Gambar 2.

Gambar payoff untuk penjual opsi beli.

Sumber: Jogiyanto, 2020

  1. Payoff dan Laba untuk Opsi Jual

Pembeli opsi jual akan menggunakan opsi untuk menjual saham pada harga yang sudah ditentukan (exercise price). Jika harga opsi tidak diperhitungkan, maka pembeli tidak akan menggunakan opsi ini untuk menjual saham pada saat harga lebih tinggi atau sama dengan exercise. Jika harga saham di pasar lebih tinggi atau sama dengan nilai exercise (E) opsi, maka akan lebih murah menjual saham langsung di pasar dibandingkan dengan menggunakan opsi jualnya. Jika harga pasar lebih tinggi atau sama dengan harga exercise, maka opsi jual tidak akan digunakan sehingga tidak terjadi payoff atau nilai payoff adalah nol.

P (Harga Pasar Saham)

Gambar 3.

Gambar payoff untuk pembeli opsi jual.

Sumber: Jogiyanto, 2020

0 E P (Harga Pasar Saham)

Gambar 4.

Gambar payoff untuk penjual opsi jual.

Sumber: Jogiyanto, 2020

2.11 Penggunaan Opsi untuk Lindung Nilai

Tujuan investor membeli opsi adalah untuk perlindungan (hedging) dari aktiva yang akan dilindungi untuk spekulasi. Melindungi nilai saham dengan suatu opsi ini disebut dengan hedge yang didefinisikan sebagai suatu cara menggunakan turunan-turunan untuk mengurangi atau kalau mungkin saling menghilangkan (offset) risiko dari aktiva yang akan dilindungi. Opsi jual (put option) digunakan untuk melindungi dari penurunan harga saham yang dimiliki oleh investor. Strategi penggunaan opsi untuk perlindungan penurunan harga suatu saham disebut dengan protective put. Jika opsi beli digunakan untuk perlindungan kenaikan harga saham yang harus dibeli oleh investor yang melakukan transaksi penjualan pendek (short selling) (Jogiyanto, 2020).

2.11.1 Perlindungan Penurunan Harga Saham

Investor membeli suatu saham dengan harapan harganya akan naik, sehingga jika dijual akan mendapatkan return yang positif meskipun kenyataannya harga saham tersebut turun. Agar terhindar dari kerugian yang besar akibat penurunan harga saham, investor dapat menggunakan melakukan opsi jualnya. Oleh karena itu, opsi jual dapat digunakan untuk memproteksi (hedge) penurunan harga saham. Strategi lindung harga nilai saham dengan opsi jual ini disebut dengan nama jual terproteksi (protected put) (Jogiyanto, 2020).

2.11.2 Perlindungan Kenaikan Harga Saham

Opsi beli digunakan untuk melindungi harga saham yang naik dan untuk lindung nilai penjualan pendek (short sale). Dalam penjualan pendek, investor mengharapkan menjual terlebih dahulu suatu saham pada saat harga sahamnya masih tinggi dan membelinya kembali pada saat harganya turun sehingga investor dpaat memperoleh keuntungan. Pada penjualan pendek, investor memiliki harapan bahwa harga saham akan turun untuk dibeli kembali meskipun pada kenyataannya harga saham dapat naik. Jika investor memiliki opsi beli untuk menghindari kerugian yang besar akibat kenaikan harga saham, investor dapat menggunakan opsi belinya untuk membeli saham dengan harga yang tertentu yang lebih murah dari harga naiknya. Dengan demikian, opsi jual dapat digunakan untuk melindungi dari penjualan pendek.

2.12 Mekanisma Perdagangan Opsi

Menurut Tandelilin (2020), opsi dapat diperdagangkan pada bursa efek ataupun pada bursa paralel (over the counter market). Pada perdagangan opsi terdapat lembaga kliring opsi yang disebut Option Clearing Corporation (OCC) yang memiliki fungsi sebagai perantara antara broker yang mewakili pembeli dengan pihak yang menjual opsi. Selain itu, OCC juga berfungsi untuk memastikan bahwa masing-masing pihak memenuhi kewajibannya. Menurut Tandelilin (2020), mekanisma dalam perdagangan opsi adalah sebagai berikut.

  1. Pihak penjual call option melalui broker yang ditunjuk menyerahkan sejumlah saham yang dijadikan patokan kepada OCC, dan pembeli opsi yang akan melaksanakan call option membeli saham tersebut dari OCC sehingga transaksi pelaksanaan opsi dilakukan dengan perantara OCC. Dalam hal ini, OCC menjadi pembeli untuk semua penjual dan sekaligus menjadi penjual untuk setiap pembeli. Oleh karena itu, OCC memberikan jaminan bahwa semua hak dapat terpenuhi sesuai dengan yang ditetapkan pada kontrak opsi.
  2. Investor yang akan melaksanakan opsi akan menghubungi broker
  3. Broker tersebut akan menghubungi OCC untuk melaksanakan opsi tersebut.
  4. OCC secara random akan memilih broker yang menjual opsi tersebut dan menunjuk mereka untuk melaksanakan kewajibannya. Dalam proses tersebut, penjual opsi tidak boleh melaksanakan transaksi yang sebaliknya untuk menghindari kewajiban, sehingga penjual call option yang menerima

penugasan dari OCC harus menjual saham yang sudah disepakati, dan untuk penjual put option harus membeli saham tersebut.

Menurut BEI (2020), mekanisma perdagangan opsi saham di bursa adalah sebagai berikut.

  1. Persyaratan Saham Induk
    1. Tercatat di bursa sekurang-kurangnya 12 bulan
    2. Transaksi dalam 12 bulan terakhir menunjukkan frekuensi transaksi per bulan ≥ 2.000, intraday volatility > 0,5%, harga saham > Rp500, kapitalisasi pasar > Rp500 miliar
  2. Hal-hal Umum
    1. Pelaksanaan perdagangan menggunakan fasilitas JOTS.
    2. Hanya dapat dilakukan oleh AB (Anggota Bursa) yang sudah menjadi AK (Anggota Kliring) opsi saham KPEI.
    3. AB wajib terlebih dahulu menyetor agunan (peraturan KPEI).
    4. AB wajib membuka rekening opsi Saham untuk setiap nasabah.
    5. AB dikenakan sanksi suspensi wajib yaitu melakukan transaksi saling hapus, mengalihkan posisi terbuka tersebut kepada AB lain sesuai dengan peraturan KPEI, dan AB suspended dapat melakukan exercise pada hari bursa yang sama dengan dikenakannya suspensi.
  3. Jam Perdagangan

Tabel 2. Jam Perdagangan

Senin s.d Kamis Sesi I 09:30 – 12:00 Waktu JOTS
Sesi II 13:30 – 16:00 Waktu JOTS
Jumat Sesi I 09:30 – 11:30 Waktu JOTS
Sesi II 14:00 – 16:00 Waktu JOTS

Exercise dan automatic exercise setiap hari bursa pukul 10:00 – 16:15 WIB

Sumber: BEI, 2020

  1. Weighted Moving Average Price (WMA)
    1. WMA terbit setiap 15 menit dengan menggunakan data transaksi 30 menit sebelumnya.
    2. Jadwal penerbitan WMA yaitu.

Tabel 3. Jadwal Penerbitan WMA

Senin s.d Kamis Sesi I 10:00 – 12:00 Waktu JOTS
Sesi II 13:45 – 16:00 Waktu JOTS
Jumat Sesi I 10:00 – 11:30 Waktu JOTS
Sesi II 14:15 – 16:00 Waktu JOTS
Sumber: BEI, 2020
  1. Pesanan Nasabah
    1. Setiap pesanan wajib tercatat di bagian pemasaran termasuk jenis transaksi (short/long), dan status posisi pesanan (open/close)
    2. Bentuk order yaitu open short, open long, close short, close long
    3. Satuan perdagangan & fraksi premium
    4. Satuan perdagangan 1 KOS=10.000 opsi saham
    5. Fraksi premium Rp1,-
  2. Penetapan Seri KOS
    1. Awal perioda perdagangan ditetapkan tujuh seri call dan tujuh seri putoption atas satu Underlying Stock
    2. Tujuh seri terdiri dari tiga seri out the money, tiga seri in the money, dan satu at the money.
    3. Bursa dapat menetapkan suatu seri KOS baru sebelum berakhirnya perioda perdagangan KOS apabila dilakukan automatic exercise atas suatu seri KOS serta adanya tindakan korporasi dari perusahaan tercatat.
  3. Pengakhiran seri KOS
    1. Apabila WMA>batas WMA
    2. Berakhirnya masa berlaku
    3. Adanya tindakan korporasi (posisi opsi saham akan dilikuidasi)
  4. Interval (rentang strike price)

Tabel 4. Interval Strike Price

Closing Price *) Interval
Rp1.000,- Rp50,-
Rp1.000,- s.d Rp5.000,- Rp100,-
Rp5.000,- s.d Rp 0.000,- Rp200,-
Rp10.000,- Rp500,-

*) Closing price 1 hari bursa sebelum dimulainya perioda perdagangan

Sumber: BEI, 2020

  1. Tawar Menawar dan Transaksi Bursa
    1. Setiap order terlebih dahulu divalidasi oleh KPEI
    2. Teknis perdagangan KOS sama dengan teknis perdagangan ekuitas di pasar reguler
  2. Exercise, Automatic Exercise & Likuidasi
    1. Penyelesaian transaksi exercise & automatic exercise dilakukan oleh KPEI pada hari bursa berikutnya setelah transaksi exercise (T+1) sesuai dengan peraturan KPEI.
    2. Transaksi automatic exercise dilakukan oleh KPEI untuk kepentingan taker.
    3. KPEI melakukan likuidasi semua posisi seri KOS apabila masa berlaku seri KOS berakhir.
  3. Penyelesaian Transaksi Opsi Saham

Penyelesaian transaksi opsi saham dilaksanakan oleh KPEI pada hari bursa berikutnya setelah terjadinya transaksi opsi saham (T+1)

  1. Penghentian Perdagangan Opsi Saham
    1. Bursa dapat melakukan penghentian perdagangan opsi saham dalam hal.
      1. JATS dan atau JOTS tidak berfungsi sebagaimana mestinya.
      2. Adanya permintaan tertulis dari KPEI sehubungan dengan tidak berfungsinya sistem pengendalian risiko (risk management system) dan atau sistem kliring KPEI.
      3. Terjadinya force majeure.
    2. Bursa dapat melakukan penghentian perdagangan atas seri KOS tertentu karena.
      1. Suspensi atas perdagangan underlying stock yang bersangkutan.
      2. Automatic exercise atas seri KOS tersebut.
    3. Apabila terjadi penghentian perdagangan seri KOS karena penghentian perdagangan underlying stock, AB tetap dapat melakukan exercise dengan mengacu pada WMA yang berlaku.
    4. Apabila terjadi penghentian karena JOTS tidak berfungsi, namun underlying stock tetap diperdagangkan, maka.
      1. Bursa tetap menerbitkan WMA sampai dengan akhir perioda perdagangan seri KOS.
      2. AB tetap dapat melakukan
    5. Biaya Transaksi
      1. AB yang melakukan transaksi wajib membayar biaya transaksi, kliring dan penyelesaian sebesar Rp2.000,- per KOS
      2. Transaksi opsi Saham untuk exercise atau automatic exercise hanya dikenakan biaya transaksi kepada taker sebesar Rp2.000,- per KOS
  1. Biaya transaksi opsi saham per bulan minimum sebesar Rp2.000.000,-
  2. AB wajib menyetor dana jaminan transaksi opsi saham sebesar 0,01% (nol koma nol satu perseratus) dari nilai transaksi opsi saham untuk transaksi yang dijamin oleh KPEI
  3. Kewajiban pembayaran biaya transaksi, dana jaminan dan pajak sesuai aturan perdagangan ekuitas

2.13 Strategi Perdagangan Opsi

Berdasarkan pengetahuan tentang karakteristik keuntungan dan kerugian opsi, investor akan dapat menggunakan opsi untuk melindungi portofolio terhadap risiko penurunan harga pasar (bedging), dan untuk melakukan spekulasi terhadap pergerakan harga saham (speculasi). Investor yang memunyai ekspektasi bahwa harga saham akan mengalami kenaikan akan membeli call option dan atau menjual put option. Sebaliknya, jika investor berharap bahwa harga saham akan turun maka investor akan membeli put option dan/ atau menjual call option. Dengan demikian, dalam prakteknya, investor bisa saja kombinasi beberapa transaksi pembelian atau menjual opsi pada waktu bersamaan agar dapat mendapat keuntungan yang lebih tinggi, dan atau untuk meminimalkan kerugian yang harus ditanggungnya (Tandelilin, 2020).

Dalam nyatanya ada banyak strategi perdagangan opsi yang dilakukan investor. Menurut Tandelilin (2020), strategi-strategi tersebut pada dasarnya dapat dikelompokkan menjadi lima adalah sebagai berikut.

  1. Naked strategy merupakan strategi yang hanya memilih satu posisi dari empat posisi dasar di atas, sedangkan ketiga stratgi lainnya menerapkan kombinasi keempat posisi tersebut untuk menyeimbangkan keuntungan dan kerugian. Naked Strategy merupakan strategi perdagangan opsi yang memilih satu dari empat posisi di atas, yaitu sebagai pembeli call, penjual call, pembeli put ataukah penjual put option. Disebut dengan naked strategy karena strategi tersebut tidak melakukan tindakan yang berlawanan atau mengambil posisi lain yang dapat mengurangi kerugian dengan cara memiliki saham yang dijadikan patokan.
  2. Hedge strategy berbeda dengan naked strategy karena pada hedge strategy investor selain mengambil satu posisi dalam perdagangan opsi, ia juga mengambil posisi yang lain dalam perdagangan saham yang dijadikan patokan dalam opsi tersebut. tujuan strategi ini adalah untuk mengurangi kerugian jika terjadi pergerakan harga tidak sesuai dengan yang diharapkan. Ada dua jenis hedge strategy yang umum dikenal, yaitu.
    1. Covered call writing strategy

Strategi ini dimaksudkan untuk melindungi portofolio yang dimiliki terhadap penurunan harga saham dengan cara menjual call option terhadap saham yang telah dimiliki dalam portofolio (investor menjual call option dan memiliki saham yang dijadikan patokan secara fisik). Jika harga saham mengalami penurunan, maka investor dan akan mengalami kerugian (pada posisi pemilikan saham), tetapi ia masih memunyai kesempatan untuk mendapatkan keuntungan dari investasi kembali pendapatan yang diperoleh dari penjualan call option.

Strategi ini dilakukan oleh investor yang ingin melindungi portofolio yang dimiliki terhadap risiko penurunan nilai pasar dengan cara membeli put option terhadap saham yang ada dalam portofolio tersebut (investor membeli put option dan memiliki saham yang dijadikan patokan).

Straddle strategy dilakukan dengan cara membeli atau menjual, baik berupa call option yang memunyai saham patokan, experiation date dan strike price yang sama. Penerapan strategi ini akan melibatkan dua opsi yang memiliki karakteristik sama, tetapi di antara kedua opsi tersebut, salah satunya adalah call option dan yang lainnya adalah put option. Strategi ini dapat dilakukan dengan dua cara adalah sebagai berikut.

Tidak seperti naked strategy (posisi sebagai opsi) yang memperoleh keuntungan jika pergerakan harga saham yang dijadikan patokan sesuai dengan yang diharapkan, strategi long straddle akan memberikan keuntungan jika terjadi pergerakan harga saham memadai, baik untuk kenaikan harga maupun penurunan harga.

Strategi ini dilakukan oleh investor yang memunyai estimasi bahwa pergerakan harga saham (bukan arah pergerakannya) tidak terlalu besar atau harga saham relatif tidak berubah.

Pada long struddle investor akan membeli put dan call option, sedangkan pada short straddle investor akan menjual kedua opsi tersebut (put dan call option). Berbagai variasi strategi straddle diantaranya adalah strategi strip dan strap. Dalam strategi strip dibutuhkan dua put option dan satu call option pada saham yang sama, sehingga keuntungan potensial yang diperoleh pada strategi strip akan lebih besar jika pergerakan harga saham cenderung turun.

Strategi kombinasi sama seperti strategi straddle, yaitu mengombinasikan call dan put option dengan patokan saham yang sama, tetapi strike price dan/ atau expiration date, strategi kombinasi juga bisa dilakukan dengan cara membeli (long position) atau menjual (short position) kedua jenis opsi (call dan put) secara bersama-sama.

Pada strategi spread, investor membeli satu seri dalam suatu jenis option dan secara simultan menjual seri lain dalam kelas option yang sama. Dengan kata lain, strategi spread merupakan strategi di mana pembelian sebuah kelas opsi dibiayai secara keseluruhan oleh hasil penjualan opsi yang lain. Opsi dikatakan dalam satu kelas jika sekelompok opsi (put atau call) memunyai strike price dan expiration date yang sama. berbagai variasi antara lain spread horisontal (spread waktu), spread vertikal (spread harga), bull spread, dan bearish spread. Spread horisontal merupakan spread dengan menggunakan opsi-opsi yang memunyai strike price yang sama tetapi memunyai expiration date yang berbeda. Spread vertikal adalah spread antar opsi-opsi yang memunyai expiration date yang sama tetapi strike price berbeda. Sedangkan bull spread adalah strategi spread yang didasarkan pada harapan bahwa pasar akan mengalami kenaikan dan untuk bearish adalah kebalikannya, yaitu pada saat pasar mengalami penurunan.

Menurut BAPEPAM (2003), dalam perdagangan opsi terdapat beberapa strategi adalah sebagai berikut.

Strategi terbuka (naked strategies) melibatkan penggunaan terpisah dari setiap posisi opsi yaitu, strategi pembelian call (long position), strategi penjualan call option (short/writing position), strategi penjualan put dan strategi pembelian put. Posisi-posisi tersebut disebut strategi terbuka, karena tidak melibatkan posisi pemyeimbangan (off-setting) atau posisi cegah risiko pada opsi. Laba rugi yang dihasilkan dari masing-masing strategi tergantung dari harga saham yang mendasari pada tanggal kadaluarsa (dengan asumsi opsi tidak dilaksanakan atau dijual sebelum tanggal kadaluarsa). Kerugian maksimal yang ditanggung oleh pembeli opsi adalah sebesar harga opsi. Pada saat yang bersamaan, pembeli opsi dapat memperoleh keuntungan dari pergerakan harga saham yang baik (peningkatan harga bagi call option dan penurunan harga bagi put option) dikurangi dengan harga opsi. Sebaliknya, laba maksimal yang dapat diperoleh oleh penjual opsi adalah sebesar harga opsi. Sementara itu, penjual opsi tetap menghadapi seluruh risiko yang berhubungan dengan pergerakan harga yang tidak baik. Strategi pembelian call merupakan strategi opsi yang paling langsung dalam memperoleh keuntungan dari peningkatan harga saham, dan pada saat yang bersamaan membatasi kerugian maksimal terhadap harga opsi. Daya tarik spekulatif dari cal option adalah opsi ini memberikan kesempatan bagi investor untuk menangkap pergerakan harga dari lebih banyak saham dalam nilai tertentu. Investor yang merasa harga saham akan mengalami penurunan atau perubahan yang sangat kecil, dapat memperoleh pendapatan dengan jalan menjual call option. Laba rugi yang diterima penjual opsi merupakan refleksi dari laba rugi pembeli opsi.

  1. Strategi tertutup / cegah risiko

Berlawanan dengan strategi terbuka, strategi tertutup (covered or hedge strategies) melibatkan posisi dalam opsi dan juga posisi dalam saham yang mendasari. Tujuan strategi ini adalah mengimbangi setiap pergerakan harga yang tidak diinginkan melalui perolehan keuntungan dari posisi lainnya. Dua strategi tertutup yang paling sering digunakan adalah strategi penjualan call tertutup (covered call writing strategy) dan strategi pembelian put terlindungi (protective put buying strategy). Strategi penjualan call tertutup melibatkan posisi penjualan call option atas saham yang dimiliki investor dalam portofoilionya yaitu, investor mengambil posisi jual pada call option atas saham dengan posisi beli. Jika harga saham menurun, akan timbul kerugian akibat posisi beli saham. Namun, pendapatan yang diperoleh dari penjualan call option akan mengganti seluruh kerugian, sebagian kerugian, atau lebih besar dari kerugian yang ditanggung sehingga memberikan laba bagi investor. Sementara itu, investor yang ingin melindungi nilai saham pada portofolionya dari risiko penurunan nilai pasar akan menggunakan strategi pembelian put terlindungi. Salah satu cara yang dapat dilakukan adalah dengan membeli put option atas saham. Dengan cara demikian, investor memperoleh jaminan bahwa harga pelaksanaan put option akan lebih rendah daripada biaya option. Jika harga saham mengalami peningkatan, investor dapat berpartisipasi pada peningkatan harga tersebut dengan laba yang diperoleh akan berkurang sebesar biaya opsi. Strategi ini disebut strategi pembelian put terlindungi. Strategi ini melibatkan posisi pembelian put dan posisi beli saham yang mendasari dalam portofolio.

Dalam strategi kombinasi, call option dan put option dari saham mendasari yang sama dengan harga pelaksanaan tanggal kadaluarsa yang sama dijual atau dibeli. Jika posisi dan jumlah call option sama dengan put option, maka strategi ini disebut straddle yang merupakan jenis strategi gabungan yang paling terkenal. Tidak seperti opsi beli terbuka yang menberikan keuntungan jika harga saham bergerak ke arah yang telah diantisipasi sebelumnya, long straddle memberikan keuntungan jika terdapat pergerakan harga yang cukup besar kearah manapun sehingga keuntungan atas satu opsi akan lebih besar daripada biaya penetapan posisi. Investor yang menerapkan strategi long straddle harus dapat memperkirakan tingkat perubahan harga di masa depan dan bulan pada arah pergerakan harga. Dalam strategi short straddle, investor memperoleh pendapatan komisi jika harga tidak memiliki pergerakan yang cukup untuk menghapus komisi yang diterima untuk kedua opsi baik call option maupun put option.

  1. Strategi selisih hasil (spread strategy)

Dalam strategi ini melibatkan posisi pada satu atau lebih opsi sehingga biaya pembelian opsi didanai sepenuhnya atau sebagian dari hasil penjualan opsi lain dengan aktiva mendasari (underlying asset) yang sama. Strategi spread memiliki beberapa bentuk seperti bull spread, bear spread, vertical spread, horizontal spread, diagonal spread, dan butterfly spread. Sebagai contoh dalam bull spread, investor membeli put opsi out of the money yang dananya berasal dari penjualan call opsi out of money dengan underlying asset yang sama.

2.14 Penilaian Opsi

Penilaian opsi terhadap sebuah opsi perlu dilakukan untuk mengestimasi nilai intrinsik suatu opsi, dan selanjutnya juga akan berguna untuk menentukan harga sebuah opsi. Dalam penilaian opsi, terkadang kita menemui situasi di mana harga premi opsi melebihi nilai intrinsiknya opsi. Kelebihan ini disebut dengan nilai waktu atau premi waktu. Penentuan nilai intrinsik opsi dengan memperhatikan adanya premi waktu yaitu nilai intrinsik sebuah opsi adalah nilai ekonomis jika opsi tersebut dilaksanakan. Nilai intrinsik juga sering disebut sebagai nilai ekonomis. Jika tidak ada nilai ekonomis yang positif dari suatu opsi maka nilai intrinsik opsi tersebut adalah nol. Dengan demikian, call option akan memunyai nilai intrinsik yang positif jika harga saham lebih besar dari strike price. Besarnya nilai intrinsik tergantung dari selisih antara harga saham yang sebenarnya dengan harga strike price. Tetapi, jika ternyata harga strike price lebih besar dari harga saham, maka nilai intrinsik dari call option adalah nol (Tandelilin, 2020).

Menurut Jogiyanto (2020), mengetahui nilai sebenarnya (intrinsic value) dari suatu opsi adalah hal yang penting. Jika seseorang dapat menentukan nilai intrinsik ini, maka nilai pasar dari opsi akan dapat ditentukan. Kenyataannya, menentukan nilai intrinsik suatu opsi tidaklah sederhana, karena banyak ditentukan oleh faktor-faktor eksternal. Menurut Jogiyanto (2020), nilai-nilai intrinsik ada tiga adalah sebagai berikut.

  1. Nilai Intrinsik Opsi Beli

Jika harga pasar saham (P) lebih besar dari exercise price (E) dari opsi beli atau posisi beli adalah in the money, maka nilai intrinsik opsi beli adalah P – E. Sebaliknya jika harga pasar saham (P) lebih kecil dari exercise price (E) dari opsi beli atau posisi beli adalah out the money, maka nilai intrinsik opsi beli adalah 0. Hal ini dikarenakan opsi beli tidak akan digunakan jika membeli saham di pasar modal lebih murah.

  1. Nilai Intrinsik Opsi Jual

Nilai intrinsik opsi jual (put option) berlawanan dengan nilai intrinsik opsi beli. Jika harga pasar saham (P) lebih kecil dari exercise price (E) dari opsi jual atau posisi opsi jual adalah in the money, maka nilai intrinsik opsi jual adalah E-P. Sebaliknya jika harga pasar saham (P) lebih besar dari exercise price (E) dari opsi jual jual atau posisi opsi jual adalah out the money, maka nilai intrinsik opsi jual adalah 0, karena opsi jual tidak akan digunakan disebabkan menjual saham di pasar modal lebih tinggi.

Nilai pasar dari opsi tidak mungkin lebih rendah dari nilai intrinsiknya. Jika terjadi maka arbitrageurs, yaitu spekulator-spekulator yang memanfaatkan keuntungan akibat penyimpangan tidak berisiko akibat penyimpangan, akan membeli opsi ini dan menggunakan (exercise) opsi tersebut untuk mendapatkan keuntungan. Kalau banyak spekulator melakukannya, maka harga opsi akan naik, sehingga tidak akan terjadi arbitrase lagi. Kebalikannya mungkin terjadi, yaitu harga suatu opsi (nilai pasar opsi) akan lebih tinggi tinggi dari intrinsiknya. Yaitu harga suatu opsi (nilai pasar opsi) akan lebih tinggi dari nilai intrinsiknya. Hal ini disebabkan karena adanya nilai waktu (time value). Waktu memunyai nilai yang positif. Semakin pendek waktu jatuh tempo opsi, semakin kecil fluktuasi dari harganya dan semakin rendah harga dari opsi. Demikian juga sebaliknya, semakin panjang waktu jatuh tempo opsi, semakin besar fluktuasi dari harganya dan semakin tinggi nilai pasar opsi. Nilai dari waktu dapat dihitung sebagai perbedaan antara nilai intrinsiknya seagai berikut ini.

Jika strike price suatu call option lebih besar dari harga saham maka opsi tersebut dikatakan out of the money. Bila strike price besarnya sama dengan harga saham maka opsi itu dikatakan at the money. Opsi yang berada pada posisi baik itu at the money maupun out of the money akan memunyai nilai intrinsik sebesar nol karena kedua posisi tersebut tidak memberikan keuntungan kepada pembeli opsi jika opsi tersebut dilaksanakan. Jumlah harga opsi yang melebihi nilai intrinsiknya disebut dengan premi waktu. Pembeli opsi berharap pada suatu saat sebelum expiration date perubahan harga pasar saham akan meningkatkan nilai opsi. Untuk itu pembeli opsi mau membayar lebih besar dari nilai intrinsik dari opsi itu sendiri (Tandelilin, 2020).

Menurut Tandelilin (2020), “jumlah harga opsi yang melebihi nilai intrinsiknya disebut dengan premi waktu.” Premi waktu itu dapat dihitung dengan

rumus berikut ini.
= ℎ
Tabel 5.
Nilai intrinsik sebuah opsi
Harga saham>strike price Put option
Call option
Nilai Intrinsik Positif (harga saham- Nol
strike price)
Istilahnya In the money Out of the money
Harga saham -rt N(d2)
dengan
d1= ( / )
d2= d1- √
  • tingkat suku bunga bebas risiko jangka pendek
  • sisa waktu sampai dengan expiratiion date (dalam tahun)
  • standar deviasi harga saham

N(.): fungsi densitas kumulitas dari d2 dan d1. Nilai N(.) dihasilkan dari tabel distribusi normal)

Dari persamaan di atas, terlihat bahwa rumus Black-Scholes hanya memasukkan lima faktor dari enam faktor yang dianggap memengaruhi harga opsi. Faktor kemungkinan saham memberikan dividen tidak dimasukkan dalam rumus karena model Black-Scholes digunakan untuk opsi yang tidak memberikan dividen. Empat varaiabel dari model Black-Scholes, yaitu strike price, harga saham, expiration date, dan tingkat bunga bebas risiko dapat dengan mudah diketahui, sedangkan untuk standar deviasi harga saham harus dilakukan estimasi terlebih dahulu.

Harga opsi yang dihasilkan oleh perhitungan model Black-Scholes adalah harga yang fair sehingga harga suatu opsi berbeda dengan harga tersebut maka akan ada kemungkinan untuk mendapatkan laba arbritase bebas risiko dengan cara mengambil posisi yang berlawanan terhadap saham yang dijadikan patokan. Misalmya ada sebuah call option yang diperdagangkan dengan harga yang lebih tinghgi dari harga yang dihasilkan oleh model Black-Scholes maka seorang arbritrator akan menjual call option tersebut dan kemudian membeli saham. Sebaliknya, jika harga call option ternyata lebih rendah dari harga yang dihasilkan dari model Black-Scholes maka investor dapat membeli call option dan menjual sejumlah saham yang dijadikan patokan.

Proses hedging dengan melakukan perdagangan saham yang dijadikan patokan akan memberikan kesempatan kepada investor untuk mendapatkan profit arbritase bebas risiko. Jumlah lembar saham yang dibutuhkan sangat tergantung dari faktor-faktor yang memengaruhi harga opsi.

Meskipun model Black-Scholes ini dutujukan untuk penilaian call option, teteapi model ini dapat juga digunakan untuk menghitung nilai dari put option dengan menggunkan hubungan keseimbangan antara put-call option. Hubungan antara harga saham, harga call option, dan harga put option dapat dinyatakan dalam persamaan berikut ini (Tandelilin, 2020).

Harga put option – Harga call option = nilai sekarang dari strike price + nilai

sekarang dividen – harga saham

Disamping itu, harga put option juga dapat ditentukan menggunakan rumus sebagai berikut (Tandelilin, 2020).

Cput= X/(e n )-S+Ccall
  • tingkat suku bunga bebas risiko

Penggunaan model Black-Scholes ini sangat berguna bagi investor untuk menilai apakah harga opsi yang terjadi di pasar sudah merupakan harga yang dianggap fair bagi opsi tersebut. Seandainya harga opsi tidak sama dengan harga yang dihasilkan dari model Black-Scholes maka hal itu akan menciptakan peluang bagi investor untuk mendapatkan keuntungan.

2.20 Opsi Indeks

Menurut Jogiyanto (2020), selain opsi dihubungkan dengan suatu saham tertentu, opsi juga dapat dihubungkan dengan nilai indeks pasar, misalnya indeks S&P 500, indeks Nasdaq-100 dan lainnya. Opsi yang dihubungkan dengan nilai indeks ini disebut dengan opsi indeks-saham (stock-index option). Investor dapat membeli opsi beli ataupun opsi jual untuk opsi indeks-saham ini. Dengan opsi indeks-saham ini investor dapat bertransaksi berdasarkan pergerakan dari pasar. Dengan membeli opsi indeks-saham ini, investor hanya perlu mengambil keputusan berdasarkan pergerakan dari pasar saham. Misalnya, investor mengekspetasi bahwa pasar akan membaik (bullish), maka dia dapat membeli opsi beli beli dan sebaliknya jika mengekspektasi pasar akan turun (bearish), maka dia dapat membeli opsi jual.

  1. KONTROVERSI DAN GAP

Menurut Copeland & Weston (1995), pada awalnya hak opsi merupakan suatu perjanjian yang memberikan hak kepada pemiliknya untuk membeli atau menjual aset dengan harga yang sudah titetapkan sebelumnya dalam suatu perioda tertentu. Model penetapan harga opsi (Option Pricing Model (OPM)) telah disusun sehingga dapat meramalkan harga pasar opsi dengan tingkat ketelitian yang tinggi. Semakin meningkatnya perhatian terhadap hak opsi dan penetapan harga opsi dapat dikatikan dengan pertumbuhan pasar opsi serta dengan perkembangan teori baru yang penting.

Menurut Keown, et al., (2000), sebelum tahun 1973 pada saat Chicago Board Options Exchange (CBOE) dibuka, tidak ada pasar terpusat untuk put option dan call option. Pada saat itu, transaksi put option dan call option dilangsungkan di pasar sampingan yang disebut Put and Call Dealer Association dengan hanya dengan 20 pialang dan agen aktif dalam pasar. Transaksi put option dan call option terjadi melalui hubungan telepon dengan adanya agen yang bertindak sebagai perantara penjual dan pembeli opsi yang potensial. Transaksi setiap opsi memiliki spesifikasi yang dinegosiasikan secara langsung antara penjual dan pembeli opsi sehingga sangat jarang ada dua opsi yang sama. Pada umumnya setiap opsi memiliki tanggal kadaluwarsa yang berbeda dan harga pelaksanaan yang berbeda. Oleh karena itu, sedikit kemungkinan opsi individual masuk pasar sekunder, dan penjual serta pembeli biasanya harus memegang posisi masing-masing hingga kadaluwarsa atau opsi dilakukan.

Menurut Keown et al. (2000), tahun 1973 CBOE mulai memperdagangkan opsi yang terdaftar atas 16 saham berbeda. Menurut Copeland & Weston (1995), pada April 1973 perdagangan opsi membeli yang teroganisasi mulai berjalan di CBOE kemudian diikuti di America Stock Exchange (Opsi AMEX). Copeland & Weston mengutip artikel yang menggemparkan dari Black & Scholes (1973) pada saat yang bersamaan. Dalam artikel tersebut, ditetapkan persamaan untuk penetapan harga opsi pada keadaan yang seimbang dan melakukan uji coba empiris. Black & Scholes (1973), juga berusaha meyakinkan bahwa model penetapan harga opsi dapat juga diterapkan pada berbagai aspek lain dalam masalah keuangan perusahaan. Berdasarkan pengamatannya dapat disimpulkan bahwa prinsip-prinsip penetapan harga opsi dapat digunakan untuk menilai aset dengan hak bersyarat lainnya seperti modal perusahaan yang menggunakan utang. Pada sudut pandang ini, para pemegang saham perusahaan memiliki call yang membeikan hak untuk membeli kembali perusahaan kepada para pemegang obligasi dengan cara membayar obligasi sebesar nilai nominal.

Menurut Copeland & Weston (1995), pada tahun sesudah 1973 sejumlah penerapan model penetapan harga opsi mulai dilakukan. Copeland & Weston (1995) mengutip artikel dari Smith (1976) yang menyatakan bahwa model ini juga digunakan oleh Merton (1974) untuk menganalisis dampak risiko pada nilai utang perushaan diterapkan oleh Galai & Masulis (1976) dalam menguji akibat merger, akusisi, perluasan kapasitas dan pemecahan perusahaan pada nilai relatif dari utang dan modal perusahaan dalam rangka menilai dana bertujuan ganda (dual purpose funds).

  1. PEMBAHASAN DAN OPINI

4.1 Opsi Jual dan Opsi Beli

Opsi merupakan suatu perjanjian antara penjual opsi yang menjamin hak dan bukan kewajiban dari pembeli opsi pada harga dan waktu tertentu. Opsi juga merupakan bagian dari turunan saham. Dengan membeli opsi beli, investor dapat melakukan spekulasi untuk memperoleh keuntungan di masa depan dari kenaikan harga saham tanpa harus memiliki saham tersebut. Sedangkan investor yang memiliki opsi jual dapat melakukan spekulasi untuk memperoleh keuntungan di masa depan dari penurunan harga saham tanpa harus memiliki saham tersebut.

4.1.1 Contoh Opsi Beli dan Opsi Jual

  1. Seorang investor membeli call option dengan harga Rp100 dan saham yang dijadikan patokan adalah saham ASII. Pada saat itu exercise price ditetapkan sebesar Rp1.200. Expiration date adalah tiga bulan dari sekarang dan menggunakan model Amerika yang dapat dilaksanakan kapan saja sampai expiration date. Pembahasan adalah sebagai berikut. Dari sisi pembeli, dengan membeli call option maka investor tersebut dapat memilih untuk membeli atau tidak membeli saham ASII dari penjual opsi kapan saja sampai batas waktu tiga bulan dengan harga Rp1.200. Investor akan menggunakan opsi tersebut jika harga pasar saham ASII lebih besar daripada Rp1.200. Akan tetapi, jika sampai expiration date harga saham di bawah Rp1.200 maka investor hanya mengalami kerugian sebesar premi opsi Sedangkan dari sisi penjual, keuntungan yang diperoleh sebesar premi opsi Rp100 atau sebesar kerugian pembeli. Kerugian yang ditanggung penjual opsi tidak terbatas dan tergantung pada kenaikan harga saham ASII.
  2. Pak Ahmad memiliki keyakinan bahwa saham BBCA memiliki prospek yang bagus dan mengalami kenaikan dalam waktu dekat ini. Oleh karena itu, Pak Ahmad memerintahkan brokernya untuk membeli call option pada bulan Oktober dengan strike price500. Premi opsi setelah proses tawar menawar di bursa telah disepakati sebesar Rp225. Sehingga Pak Ahmad harus menyediakan dana pembelian sebesar Rp225 x 10.000 saham = Rp2.250.000 ditambah dengan komisi broker.

Pembahasan adalah sebagai berikut. Dalam kasus ini, ada tiga tindakan yang dapat diambil oleh Pak Ahmad adalah sebagai berikut.

  1. Opsi berakhir begitu saja tidak bernilai jika harga saham BBCA menurun hingga Rp2.200 pada expiration date yang jatuh pada akhir bulan Oktober. Dengan kondisi seperti ini, Pak Ahmad dapat membeli saham BBCA di pasar saham dengan harga Rp2.200. Oleh karena itu, Pak Ahmad tidak akan menggunakan hak belinya. Hal ini dikatakan opsi berakhir begitu saja tanpa nilai.
  2. Opsi mungkin dilaksanakan jika harga saham BBCA mengalami kenaikan. Pak Ahmad dapat melakukan menggunakan hak belinya dengan membayar uang tebusan sebanyak Rp2.500 x 10.000 saham = Rp25.000.000 dan menerima 10.000 saham BBCA. Penyelesaian seerti ini merupakan penyelesaian secara fisik (physical delivery). Misalnya
  1. harga saham BBCA naik menjadi Rp2.800 sebelum expiration date. Pak Ahmad yang melaksanakan hak beli saham BBCA pada harga Rp2.500 dan dapat segera menjualnya pada harga Rp2.800. Dari transaksi ini, Pak Ahmad dapat memperoleh keuntungan sebesar (Rp2.800 x 10.000 saham)

– [(Rp2.500 x 10.000 saham) + Rp2.250.000 pembelian opsi)] = Rp750.000 di luar komisi broker. Akan tetapi BEI telah menetapkan untuk tidak menggunakan penyelesaian secara fisik ketika pemegang call option maupun put option melaksanakan haknya. Penyelesaian dilakukan secara tunai dan Pak Ahmad sebagai pemegang call option akan memperoleh premium exercise call per saham secara tunai dari selisih antara Weighted Moving Average (WMA) dengan strike price. WMA untuk harga saham induk adalah harga rata-rata dibobot voluma lembar yang ditransaksikan selama perioda 30 menit. Di BEI, WMA akan muncul setiap 15 menit setiap hari. Pada kasus ini, WMA atas BBCA sebesar Rp2.750. Ketika Pak Ahmad melaksanakan haknya, dia akan memperoleh premium exercise call sebesar Rp2,750 – Rp2.500 = Rp250 dikalikan 10.000 lembar saham = Rp2.500.000. Dengan demikian, informasi WMA adalah penting dalam perdagangan Kontrak Opsi Saham (KOS). Investor yang telah berada dalam posisi dapat secepatnya menghubungi anggota bursa KOS untuk melaksanakan haknya.

  1. Opsi dapat dijual di pasar sekunder. Jika harga saham BBCA naik, maka nilai call option juga akan naik. Pak Ahmad dapat menjual call option yang dimilikinya kepada investor lain di pasar sekunder.

4.1.2 Contoh Return Opsi

Pak Feri membeli sebuah kontrak call option 10.000 saham INDF dengan strike price Rp500 pada harga Rp200.000. Jika harga saham naik menjadi Rp600 per lembar sebelum expiration date, apakah Pak Feri seharusnya melakukan exercise? Jika Pak Feri melakukan exercise, berapa % return atas investasinya? Jika tidak melakukan exercise, berapa % return atas investasinya? Pembahasan adalah sebagai berikut.

Besarnya satu KOS di BEI adalah 10.000 lembar saham. Jika Pak Feri melakukan exercise opsi, dia akan memperoleh Rp100 x 10.000 lembar saham dikurangi dengan Rp200.000 harga pembelian call option. Sehingga total keuntungan Rp800.000/Rp200.000 = 400%. Jika Pak Feri tidak melakukan exercise, dia mengalami kerugian sebesar Rp200.000 dari harga pembelian call option sehingga rugi 100%. Oleh karena itu, Pak Feri seharusnya melaksanakan hak belinya.

4.1.3 Contoh Perbandingan Return Opsi dan Saham

Bu Rina membeli 10.000 saham INDF pada harga Rp500 per lembar. Jika harga saham INDF turun menjadi Rp400 per lembar, berapa % return atas investasi Ibu Rina? Jika harga saham turun menjadi Rp400, apakah Pak Feri seharusnya melakukan exercise? Jika Pak Feri melakukan exercise, berapa % return atas investasinya? Jika tidak melakukan exercise, berapa % return atas investasinya?

Pembahasan adalah sebagai berikut. Jika harga saham turun menjadi Rp400 per lembar, Ibu Rina mendapatkan rugi sebesar (Rp400-Rp500)/Rp500 = (20%). Jika Pak Feri melakukan exercise opsi, maka dia akan mengalami kerugian sebesar (Rp400-Rp500) x 10.000 lembar saham = Rp1.000.000 ditambah Rp200.000 dari harga pembelian cal option. Jadi total kerugian Pak Feri sebesar Rp1.200.000/Rp200.000 = 600%. Jika Pak Feri tidak melakukan exercise, dia akan membayar harga pembelian call option sebesar Rp200.000 sehingga rugi 100%.

4.1.4 Contoh Keuntungan dan Kerugian Opsi Beli

Seorang investor memiliki call option terhadap saham TLKM dengan strike price sebesar Rp1.000. Saham TLKM pada saat itu adalah Rp1.000 dan premi opsi sebesar Rp50.

Skenario 1: Pada saat expiration date harga pasar saham TLKM Rp1.050 Skenario 2: Pada saat expiration date harga pasar saham TLKM Rp950 Pembahasan adalah sebagai berikut.

Pada skenario 1, investor pemegang call option dikatakan mencapai titik impas atau tidak untung dan tidak rugi. Hal ini terjadi karena harga saham pada expiration date sama dengan strike price ditambah premi opsi. Sedangkan pada skenario 2, investor pemegang call option mengalami kerugian maksimum sebesar harga premi opsi yaitu Rp50. Karakteristik keuntungan dan kerugian call option sedikit berbeda dengan karakteristik keuntungan dan kerugian yang diperoleh jika investor membeli saham. Jika kerugian investor yang membeli call option bersifat terbatas, kerugian investor yang membeli saham bersifat tidak terbatas. Kondisi ini dapat ditunjukkan pada gambar yang memperlihatkan perbedaan karakteristik tersebut.

Keuntungan Pembeli saham

1000 1050 Harga Saham
0 TLKM

Gambar 9. Profil kerugian/keuntungan pembeli call option dan saham

Sumber: Tandelilin, 2020

Tabel 6. Profil kerugian/keuntungan pembeli call option vs pembeli saham

Harga Saham TLKM Keuntungan (kerugian) untuk:
Pembeli call option 1) Pembeli saham TLKM 2)
1.200 150 200
1.150 100 150
1.100 50 100
1.050 0 50
1.000 (50) 0
950 (50) (50)
900 (50) (100)
500 (50) (500)

1) Keuntungan (kerugian) investor pembeli call option = harga pasar saham TLKM – 1.000 – Rp50

2) Keuntungan (kerugian) yang diperoleh pembeli saham = harga pasar saham TLKM – 1.000

Sumber: Tandelilin, 2020

Pada tabel tersebut tampak perbandingan keuntungan (kerugian) investor yang membeli call option atas saham TLKM dan investor yang membeli saham TLKM. Besarnya keuntungan (kerugian) yang bisa diperoleh kedua investor tersebut tergantung pada harga saham TLKM pada saat expiration date. Tabel dan gambar diatas menunjukkan bahwa investor yang membeli saham TLKM akan memperoleh keuntungan Rp1 untuk setiap kenaikan harga saham TLKM sebesar Rp1. Demikian juga dengan kerugian yang akan dialami oleh investor tersebut, setiap penurunan harga saham sebesar Rp1 maka investor juga akan mengalami kerugian sebesar Rp1.

Pembeli call
+50 option
1000 1050 Harga Saham
0 TLKM
-50 Penjual call option
Kerugian

Gambar 10. Profil kerugian/keuntungan penjual dan pembeli call option Sumber: Tandelilin, 2020

Pada gambar tersebut terlihat bahwa keuntungan maksimum yang dapat diperoleh penjual call option adalah sebesar premi opsi yaitu Rp50. Sedangkan kerugian maksimum yang bisa dialami penjual call option tidak terbatas karena ditentukan oleh harga tertinggi yang bisa dicapai saham TLKM sampai dengan expiration date. Apabila keuntungan (kerugian) yang diperoleh pembeli dan penjual call option dijumlahkan maka hasilnya akan nol. Hal ini dikarenakan kerugian yang dialami penjual call option merupakan keuntungan bagi pembeli.

4.1.5 Contoh Keuntungan dan Kerugian Opsi Jual

Seorang investor membeli put option terhadap saham TLKM dengan maturitas satu bulan dengan strike price ditetapkan sebesar Rp1.000. Put option tersebut dijual dengan harga Rp50 dan harga saham, TLKM pada saat ini adalah Rp1.000. Untuk dapat lebih melihat profil risiko dan return pembeli put option maka dilakukan perbandingan keuntungan (kerugian) antara pembeli put option dengan investor yang melakukan short selling terhadap saham TLKM. Short selling merupakan transaksi yang memungkinkan seseorang membuat order penjualan atas suatu saham tertentu dengan keyakinan bahwa harga suatu saham akan menurun meskipun tidak memiliki saham tersebut secara fisik.

Keuntungan Penjual saham

950 1000 Harga Saham
0 TLKM
Pembeli put option

Gambar 11. Profil kerugian/keuntungan pembeli put option dan investor yang melakukan short selling pada saham TLKM

Sumber: Tandelilin, 2020

Tabel 7. Profil kerugian/keuntungan pembeli put option dan investor yang melakukan short selling pada saham TLKM

Harga Saham TLKM Keuntungan (kerugian) untuk:
Pembeli put option 1) Short selling saham
TLKM 2)
1.200 (50) (200)
1.150 (50) (150)
1.100 (50) (100)
1.050 (50) (50)
1.000 (50) 0
950 0 50
900 50 100
500 450 500

1) Keuntungan (kerugian) investor pembeli put option = 1.000 – harga saham TLKM – Rp50

2) Keuntungan (kerugian) yang diperoleh dari short selling saham = 1.000 – harga saham TLKM

Sumber: Tandelilin, 2020

Pada gambar dan tabel tersebut terlihat bahwa keuntungan maksimum yang dapat diperoleh pembeli put option bila harga saham turun sampai dengan angka nol, sedangkan kerugian maksimalnya sebesar premi put option. Sedangkan untuk investor yang melakukan short selling akan mengalami keuntungan (kerugian) yang sama besarnya dengan penurunan (kenaikan) harga saham yang terjadi.

+50 Penjual put option
950 1000 Harga Saham
0 TLKM
Pembeli put option

Gambar 12. Profil kerugian/keuntungan penjual dan pembeli put option Sumber: Tandelilin, 2020

Berdasarkan gambar diatas maka dapat terlihat bahwa kerugian maksimum yang dapat ditanggung penjual put option adalah tidak terbatas tergantung kenaikan harga saham pada expiration date. Keuntungan maksimum dari penjualan put option hanya sebesar premi opsi. Sedangkan keuntungan maksimum dari pembeli put option adalah tidak terbatas tergantung pada penurunan harga saham dan kerugian maksimumnya hanya sebesar premi opsi. Jika keuntungan penjual put option dijumlahkan dengan kerugian pembeli put option maka jumlahnya adalah nol.

4.2 Strategi Perdagangan Opsi

Pada kenyataannya ada banyak strategi perdagangan opsi yang dilakukan investor. Strategi tersebut adalah sebagai berikut.

Naked strategy merupakah pilihan posisi sebagai pembeli call, penjual call, pembeli put atau penjual put option yang diambil investor berdasarkan estimasi mengenai kondisi pasar di masa datang.

Tabel 8. Naked strategy dan prakiraan kondisi pasar

Prakiraan kondisi pasar Strategi
Sangat baik Membeli call option
Agak baik Menjual put option
Agak buruk Menjual call option
Sangat buruk Membeli put option

Sumber: Tandelilin, 2020

Dari tabel tersebut di atas, terdapat empat skenario kondisi pasar yang mungkin doperkirakan oleh investor. Strategi membeli call option menunjukkan bahwa investor memunyai perkiraan bahwa kondisi pasar sangat baik, dengan adanya kondisi pasar yang sangat baik ini merupakan strategi membeli call option untuk mendapatkan keuntungan maksimal jika harga saham mengalami kenaikan dan pada saat yang sama kerugian maksimal yang dapat alami hanya sepesar premi opsi. Dalam skenario yang lain, jika investor percaya bahwa harga beberapa saham akan mengalami penurunan atau berubah tetapi tidak banyak maka investor akan memilih menjual call option. Strategi membeli put option merupakan strategi yang berusaha untuk memperoleh keuntungan maksimal dari penurunan harga saham di masa datang serta membatasi kerugian jika ternyata harga saham di masa mendatang mengalami kenaikan.

Pada strategi ini selain mengambil satu posisi dalam perdagangan, investor mengambil posisi yang lain dalam perdagangan saham yang dijadikan patokan dalam opsi untuk mengurangi kerugian jika terjadi pergerakan harga tidak sesuai dengan yang diharapkan. Terdapat dua jenis dalam strategi ini yaitu covered call writing strategy dan protective put buying strategy. Covered call writing strategy berguna untuk melindungi portofolio terhadap saham penurunan harga saham dengan menjual call option terhadap saham yang telah dimiliki dalam portofolio, jika harga saham turun maka investor akan mengalami kerugian. Tetapi investor disini masih memiliki kesempatan untuk mendapatkan keuntungan dari investasi kembali pendapatan yang diperoleh dari penjualan call option. Protective buying trategy digunakan untuk melindungi portofolio yang dimiliki terhadap risiko penurunan pasar dengan membeli put option terhadap saham yang ada dalam portofolio tersebut.

Straddle strategy ini merupaka strategi membeli atau menjual call option atau put option yang memilliki saham patokan, expiration date dan strike pice yang sama. Strategi ini terbagi menjadi dua yaitu strategi long straddle dimana investor akan membeli put dan cal option dan strategi short straddle dimana investor akan menjual kedua opsi tersebut. Strategi long straddle ini akan memberikan keuntungan apabila terjadi pergerakan harrga saham yang naik maupun turun. Sedangkan strategi short straddle dilakukan oleh investor yang memiliki estimasi bahwa pergerakan harga saham tidak terlalu beasr atau harga saham relatif tidak berubah. Berbagai variasi strategi straddle telah dilakukan, diantaranya adalah strategi strip dan strap. Dalam strategi strip dibutuhkan dua put option dan saru call option pada saham yang sama, sehingga keuntungan potensial yang diperoleh pada strategi strip akan lebih besar jika pergerakan harga saham cenderung turun.

Pada strategi spread ini investor akan membeli satu seri option dan secara simultan akan menjual seri lain dalam kelas option yang sama. Dan opsi dikatakan dalam satu kelas apabila put atau call memunyai patokan saham yang sama. Strategi spread ini memiliki berbagai variasi antara lain spread horisontal (spread waktu), spread vertikal (spread harga), bull spread, dan bearish spread.

4.2.1 Contoh Covered Call Writing Strategy

Pak Gatot memunyai saham HMSP sebanyak 100 lembar, dan harga saham HMSP sekarang adalah Rp1.000. Nilai total yang dimiliki Pak Gatot adalah Rp100.000. misalnya pada saat itu call option untuk 100 lembar saham HMSP pada strike sebesar Rp1.000 dapat dijual pada harga Rp5.000. Jika kemudian Pak Gatot memutuskan untuk tetap memiliki 100 lembar saham HMSP dan menjual satu call option, maka keuntungan (kerugian) dari strategi tersebut akan dipengaruhi oleh harga saham HMSP pada saat expiration date. Pembahasan adalah sebagai berikut. Pada saat expiration date, salah satu skenario berikut bisa terjadi.

  1. Jika harga saham HMSP per lembar lebih besar dari Rp1.000, maka pembeli call option akan melaksanakan opsi tersebut dan membayar penjual opsi sebesar Rp5.000. sebanyak 100 lembar saham HMSP yang dimiliki Pak Gatot akan dibeli oleh pembeli opsi dengan harga Rp100.000, sehingga Pak Gatot akan memperoleh yang sebesar Rp105.000. Pada kenyataannya, Pak Gatot dapat memperoleh pendapatanyang lebih besar dari Rp105.000, karena Pak Gatot memunyai kesempatan untuk menginvestasikan kembali yang Rp5.000 yang didapat dari hasil penjualan opsi, sehingga keuntungan minimum yang diperoleh Pak Gatot ketika harga saham HMSP per lembar lebih lembar dari Rp1.000 adalah sebesar Rp5.000 (Rp105.000-Rp100.000).
  1. Jika harga saham HMSP sama dengan strike price (Rp1.000), maka pembeli call option tidak akan menyelesaikan opsinya, maka total nilai portofolio yang dimiliki Pak Gatot adalah Rp105.000, yaitu 100 lembar saham HMSP senilai Rp100.000 dan yang sebesar Rp5.000 yang merupakan hasil penjualan opsi.
  2. Jika harga saham HMSP kurang dari Rp1.000 akan tetapi lebih besar dari Rp950, dan pembeli opsi tidak melaksanakan opsinya, maka Pak Gatot akan memperoleh keuntungan tetapi jumlahnya kurang dari Rp5.000. misalnya harga saham Pak Gatot per lembar pada saat expiration date adalah Rp960, maka 100 saham HMSP yang dimiliki Pak Gatot nilainya turun menjadi Rp96.000. sedangkan dari penjualan opsi, Pak Gatot akan memperoleh keuntungan sebesar Rp5.000. dengan demikian, nilai portofolio yang dimiliki Pak Gatot adalah Rp101.000 atau profitnya sebesar Rp1.000.
  3. Jika harga per lembar saham HMSP sama dengan Rp950, dan pembeli opsi tidak melaksanakan opsinya, maka Pak Gatot tidak mendapat profit maupun rugi alias impas, karena nilai portofolio yang dimiliki tetap Rp100.000.

Seratus lembar saham HMSP yang dimiliki Pak Gatot pada saat expiration date hanya bernilai Rp95.000 ditambah dengan Rp5.000 maka nilainya adalah Rp100.000 atau sama dengan nilai portofolio sebelumnya.

  1. Misalnya harga saham HMSP kurang dari Rp950, dan pembeli opsi tidak melaksanakan opsinya, maka Pak Gatot akan mengalami kerugian. Misalnya harga saham HMSP pada saat expiration date adalah Rp900 maka nlai portofolio Pak Gatot hanya akan bernilai Rp95.000 (100 lembar saham HMSP dengan harga Rp900/lembar ditambah dengan Rp5.000), sehingga Pak Gatot akan mengalami kerugian sebesar Rp5.000 (Rp100.000-Rp95.000). Kondisi paling buruk yang bisa dihadapi oleh Pak Gatot adalah ketika harga saham HMSP jatuh mencapai titik nol, Pak Gatot akan mengalami kerugian sebesar Rp95.000 (Rp100.000-Rp5.000).

Gambar 13. Keuntungan (Kerugian) Covered Writing Strategy

Sumber: Tandelilin, 2020

Dari penjelasan diatas tampak adanya dua hal penting. Pertama, covered writing strategy dapat digunakan untuk mengurangi risiko terhadap penurunan nilai portofolio yang dimiliki. Pada contoh tersebut, harga strike price sama dengan harga saham, sehingga risiko terjadinya penurunan harga dapat dikurangi sebesar harga opsi. Hal yang kedua adalah profil keuntungan (kerugian) pada strategi ini sama dengan profil keuntungan (kerugian) pada strategi menjual put option.

4.2.2 Contoh Protective Put Buying Strategy

Pak Ajib memunyai saham PWON sebanyak 100 lembar dan harga saham PWON sekarang adalah Rp1.000. Nilai portofolio total yang dimiliki Pak Ajib adalah Rp100.000. Pada saat itu put option untuk 100 lembar saham PWON pada strike price sebesar Rp1.000 dapat dijual pada harga Rp5.000 pada saat expiration date.

Pembahasan adalah sebagai berikut. Keuntungan (kerugian) yang dapat diperoleh Pak Ajib adalah sebagai berikut.

  1. Jika harga saham PWON per lembar lebih besar dari Rp1.050, maka Pak Ajib tidak akan melaksanakan opsinya, sehingga akan memperoleh keuntungan dari strategi protective put buying yang dilakukannya. Sebagai contoh harga saham PWON di pasar ternyata Rp1.000 maka nilai pasar dari 100 lembar saham yang dimiliki adalah Rp110.000, sehingga keuntungan yang diperoleh Pak Ajib adalah selisih nilai pasar saham yang dimiliki pada expiration date dengan sebelumnya, dikurangi harga opsi yang dibayar atau sebesar Rp5.000 (Rp110.000 – Rp100.000 – Rp5.000).
  2. Jika harga saham PWON sama dengan Rp1.050, maka Pak Ajib tidak memperoleh keuntungan ataupun kerugian.
  3. Pak Ajib mengalami kerugian jika saham PWON kurang dari Rp1.050, tetapi lebih besar dari Rp1.000. sebagai contoh harga saham PWON pada saat expiration date adalah Rp1.020 maka Pak Ajib akan mengalami kerugian sebesar Rp3.000, karena capital gain dari kepemilikan saham sebesar Rp2.000, lebih kecil dari biaya pembelian put option (Rp5.000).
  4. Jika harga saham PWON di bawah Rp1.000, maka dapat dipastikan investor akan melaksakan opsinya, sehingga tetap memperoleh Rp100/lembar untuk 100 lembar saham atau nilainya tetap Rp100.000. kerugian yang ditanggung Pak Ajib adalah sebesar biaya yang telah dikeluarkan untuk membeli putoption tersebut, yaitu sebesar Rp5.000.

Gambar 14. Keuntungan (Kerugian) Protective Put Buying Strategy

Sumber: Tandelilin, 2020

Dari Gambar 14, tampak bahwa dengan Menggunakan strategi put buying investor dapat memastikan bvahwa ia minimal akan menerima uang sebesar Rp950 per lembar saham yang dimilikinya, sehingga strategi tersebut bisa membatasi kerugian yang dapat dialami investor (yaitu sebesar harga opsi). Hal penting yang perlu diperhatikan dalam strategi protective put buying adalah strike price yang ditentukan dalam put option. Semakin tinggi strike price yang ditentukan dalam put option, maka semakin tinggi harga minimum yang didapatkan investor untuk setiap lembar saham yang dimiliki. Tetapi, hal ini bukan tanpa biaya, karena semakin tinggi strike price akan semakin tinggi pula harga opsi. Bagi investor institusional yang ingin menerapkan protective put buying tentu memerlukan dana yang mahal, karena biasanya investor institusional memiliki saham yang relatif beragam. Untuk melindungi portofolionya terhadap penurunan harga, maka investor harus membeli put option untuk setiap saham yang dimiliki, dan ini tentu saja akan membutuhkan biaya yang banyak. Investor institusional dapat mengurangi biaya tesebut dengan cara membeli put option terhadap saham-saham yang memunyai korelasi dengan pasar yang sangat kuat saja.

4.2.3 Contoh Strategi Long Straddle

Pak Salmon membeli call dan put option terhadap saham INDF, dan kedua opsi tersebut memiliki expiration date dan strike price yang sama. Misalnya kedua opsi tersebut memiliki strike price sebeasr Rp1.000 dan expiration date-nya satu bulan. Kedua opsi tersebut pada saat dibeli diasumsikan sedang berada pada posisi at the money (harga saham sekarang sama dengan strike price). Sedangkan harga call dan put option tersebut adalah Rp50 dan Rp25. Pembahasan adalah sebagai berikut.

INDF harus mengeluarkan biaya sebesar harga kedua opsi tersebut untuk memperoleh kedua opsi yaitu sebesar Rp75 (Rp50 + Rp25). Oleh karena itu, Pak Salmon mengalami titik impas, jika pada saat expiration date harga saham INDF menjadi Rp1.075 atau Rp925 maka Pak Salmon akan melaksanakan call option, yaitu membeli saham INDF dengan harga Rp1.000 dan kemudian Pak Salmon dapat menjual saham tersebut pada harga pasar (Rp1.075). Dengan demikian, keuntungan yang diperoleh sama dengan biaya yang dikeluarkan untuk membeli kedua opsi. Sebaliknya jika harga saham INDF pada saat expiration date ternyata menjadi Rp925 maka Pak Salmon akan melaksanakan put option yang dimilikinya, yaitu Pak Salmon menjual kepada penjual opsi saham INDF pada harga Rp1.000. Keuntungan yang diperoleh Pak Salmon adalah Rp75 (karena Pak Salmon bisa memperoleh saham INDF dengan harga Rp925 dan menju/.alnya pada harga Rp1.000) atau sama dengan biaya pembelian kedua opsi tersebut. Pergerakan harga di atas Rp1.075 atau di bawah Rp925 akan memberikan keuntungan kepada Pak Salmon. Secara teknis, keuntungan potensial yang didapatkan Pak Salmon bersifat tidak terbatas karena call option yang dimilikinya menyebabkan Pak Salmon dapat membeli saham pada harga Rp1.000 dan kemudian dia dapat menjual saham tersebut pada harga pasar tertinggi. Sedangkan kerugian maksimal yang ditanggung oleh Pak Salmon adalah sebesar harga kedua opsi tersebut.

Profil keuntungan (kerugian) yang dapat diperoleh investor dengan menggunakan strategi long straddle dapat dilihat pada Gambar berikut ini.

Gambar 15. Profil Keuntungan (Kerugian) Strategi Long Straddle

Sumber: Tandelilin, 2020

4.2.4 Contoh Soal Strategi Short Straddle

Dengan menggunakan contoh yang sama seperti strategi long straddle, Pak Salmon memunyai estimasi bahwa harga saham INDF akan mengalami pergerakan tetapi tidak akan mencapai harga di atas Rp1.075 atau di bawah Rp925. Kemudian Pak Salmon menggunakan strategi short straddle, yaitu dengan menjual call dan put option saham INDF dengan expiration date dan strike price yang sama, sehingga jika estimasinya benar (harga saham INDF tidak lebih dari Rp1.075 atau tidak kurang dari Rp925 pada saat expiration date) maka Pak Salmon akan memperoleh keuntungan sebesar harga kedua opsi tersebut, yaitu Rp75. Jika harga saham tidak seperti yang diestimasikan maka Pak Salmon memperoleh keuntungan kurang dari Rp75, bahkan Pak Salmon akan mengalami kerugian jika pergerakan harga saham INDF ternyata cukup besar. Pembahasan adalah sebagai berikut.

Profil keuntungan (kerugian) pembeli opsi merupakan kerugian (keuntungan) bagi penjual. Dengan demikian, keuntungan maksimal yang bisa diperoleh strategi short straddle adalah jumlah harga kedua opsi yang dijual, yaitu Rp75 dan potensi kerugiannya bersifat tidak terbatas.

4.2.5 Contoh Strategi Strip and Strap

Pak Amin membeli satu call option dan dua put option pada saham TLKM. Jika pada saat expiration date ternyata harga saham TLKM turun menjadi Rp850 maka masing-masing put option akan memunyai nilai intrinsik sebesar Rp150. Apabila keuntungan yang diperoleh Pak Amin yaitu sebesar Rp300 (2 x Rp150) dikurangi biaya pembelian ketiga opsi yaitu sebeasr Rp100 (Rp50 untuk satu call option, dan Rp100 untuk dua put option). Berapa total keuntungan Pak Amin?

Pembahasan adalah sebagai berikut. Keuntungan yang diperoleh Pak Amin adalah Rp200. Pada strategi strap Pak Amin akan membeli dua call option dan satu put option pada saham yang sama. Jika saham TLKM mengalami kenaikan menjadi Rp1.150 pada saat expiration date maka masing-masing call option akan memberikan keuntungan sebesar Rp150. Keuntungan total yang diperoleh Pak Amin adalah Rp175 (Rp300– Rp125). Dapat disimpulkan bahwa strategi strip dan strap merupakan variasi dari strategi straddle, tetapi investor memunyai estimasi pergerakan harga saham di suatu sisi lebih kuat dibandingkan dengan sisi yang lain.

4.2.6 Contoh Spread Strategy

Pada strategi spread ini investor akan membeli satu seri option dan secara simultan akan menjual seri lain dalam kelas option yang sama. Dan opsi dikatakan dalam satu kelas apabila put atau call memunyai patokan saham yang sama. Strategi spread ini memiliki berbagai variasi antara lain spread horisontal (spread waktu), spread vertikal (spread harga), bull spread, dan bearish spread. Pembahasan adalah sebagai berikut.

Saham INDF memunyai dua kelas opsi, yaitu put option dan semua call option yang menggunakan saham INDF sebagai patokannya. Masing-masing kelas tersebut terdiri dari berbagai seri opsi yang memiliki strike price dan expiration date yang berbeda. Investor yang menerapkan strategi spread akan membeli satu seri dalam sebuah kelas opsi dan akan menjual seri lain, tetapi opsi tersebut ada dalam kelas opsi yang sama. Posisi menjual dan membeli secara simultan tersebut akan menurunkan risiko seandainya investor hanya membeli atau menjual opsi. Disamping itu, strategi spread juga akan memberikan potensi profit yang lebih besar dibandingkan jika investor hanya membeli atau menjual opsi saja.

4.3 Penilaian Opsi

Penilaian opsi perlu dilakukan untuk mengestimasi nilai intrinsik suatu opsi serta untuk menentukan harga saebuah opsi. Terdapat nilai intrinsik dan premi waktu dimana nilai intrinsik ini disebut nilai ekonomis dan premi waktu yang digunakan untuk menentukan nilai intrinsik opsi. Apabila dalam suatu opsi tidak terdapat snilai ekonomis yang positif maka nilai intrinsik tersebut adalah nol. Call option memiliki nilai intrinsik positif jika harga saham lebih besar dari strike price.

4.3.1 Contoh Penilaian Opsi

  1. Sebuah call option dengan strike price sebesar Rp950 dan harga saham pada saat ini adalah Rp1.000, maka nilai intrinsik dari opsi terebut adalah Rp50. Investor yang membeli opsi tersebut akan melaksanakan opsinya, yaitu membeli saham dengan harga Rp950 dan kemudian ia dapat menjual saham terebut di pasar dengan harga Rp1.000. Ketika sebuah opsi memiliki nilai intrinsik yang positif maka opsi itu dikatakan in the money.
    1. Sebuah call option dengan strike price sebessar Rp1.000, dijual dengan harga opsi Rp125 pada dsst harga saham sebesar Rp1.100, sehingga premi waktu opsi tersebut sebesar, premi waktu= Rp125 – Rp100 = Rp25.

Pembahasan adalah sebagai berikut. Pada saat sebuah opsi berada dalam posisi at the money maupun out of the money maka premi waktu opsi tersebut adalah sebesar harga opsi, karena nilai intrinsik dsari opsi tersebut adalah nol. Jika semua faktor lain dianggap tetap, maka nilai premi waktu suatu opsi akan semakin besar dan semakin meningkatnya lama waktu expiration date karena kesempatan untuk mendapatkan perubahan harga saham yang menguntungkan dan semakin besar.

Banyak faktor-faktor yang memengaruhi harga opsi, dan pengaruh masing-masing faktor tersebut tergantung dari jenis opsi tersebut, apakah opsi tersebut jenis call atau put option. Berikut merupakan pengaruh masing-masing faktor tersebut terhadap harga put dan call option.

Tabel 9. Faktor-faktor yang memengaruhi harga opsi

No Jenis Faktor Dampak adanya peningkatan pada
masing-masing faktor terhadap:
Harga call option Harga put option
1 Harga saham Meningkat Menurun
2 Strike price Menurun Meningkat
3 Expiration date Meningkat Meningkat
3 Volatilitas harga Meningkat Meningkat
yang diharapkan
5 Tingkat suku Meningkat Menurun
bunga jangka
pendek
7 Dividen yang Menurun Meningkat
diharapkan

Sumber: Tandelilin, 2020

4.4 Black-Scholes

Dalam menilai call option dapat menggunakan Black-Scholes yang dikembangkan oleh Fisher Black dan Myron Scholes. Black-Scholes ini hanya memasukkan lima faktor yang memengaruhi harga opsi. Dividen atau saham yang tidak memberikan dividen tidak dapat digunakan dalam perhitungan Black-Scholes.

4.4.1 Contoh Penilaian Black-Scholes

Strike Price = X = Rp1.000

Expiration date = t = 183 hari = 0,5 tahun

Harga saham sekarang = S = Rp1.045

Volatilitas harga yang diharapkan = standar deviasi = s = 0,25

Tingkat bunga bebas risiko = r = 10%

Pembahasan adalah sebagai berikut.

Dari data-data-data tersebut kita akan mendapatkan nilai d1 dan d2 yaitu.

d1 = [ , , ( , ) ] ,
,
,
d2 = 0,6021 – 0,25 = 0,4433
0,5

dari tabel distribusi normal didapatkan nilai.

N(0,602) = 0,7257 dan N(0,4433) = 0,6700

Harga fair untuk call option dapat ditentukan sebagai berikut.

C= 1045(0,7257)-1000(e -(0,1)(0,5) (0,6700) = 121,04

Seandainya volatilitas harga saham yang diharapkan adalah 0,40 maka nilai d1 dan

d1 = [ , , ( , ) ] ,
,
,
d2 = 0,4738 – 0,40 = 0,1909
0,5

Dengan demikian menentukan harga fair untuk call option adalah.

C= 1045(0,6808)-1000(e -(0,1)(0,5) (0,5753) = 164,20

Dari kedua contoh tersebut dapat terlihat bahwa semakin tinggi asumsi volatilitas harga saham, maka semakin besra harga yang fair untuk opsi tersebut. Untuk faktor lain seperti tingkat suku bunga bebas risiko dan expiration date juga berlaku sama, yaitu semakin rendah (tinggi) tingkat suku bunga bebas risiko maka akan semakin rendah (tinggi) harrga opsi dan semakin pendek (lama) waktu expiration date maka akan semakin rendah (tinggi) harga opsi tersebut.

5.1 Simpulan

Opsi merupakan suatu kontrak atau perjanjian antara dua pihak yaitu penjual opsi dan pembeli opsi untuk melakukan transaksi jual beli pada harga dan jangka waktu tertentu. Opsi terdiri dari opsi beli dan opsi jual. Opsi beli merupakan opsi untuk melakukan kontrak pembelian hak untuk membeli sejumlah saham dalam harga dan jangka waktu tertentu. Investor yang membeli opsi beli berharap harga saham naik. Sedangkan, investor yang membeli opsi jual berharap saham turun.

Pembelian call option atau penjualan put option dapat memberikan keuntungan bagi investor jika harga saham yang menjadi patokan mengalami kenaikan. Pembelian call option akan memberikan keuntungan potensial yang bersifat tidak terbatas dengan kerugian maksimum sebatas premi opsi. Sedangkan, penjualan put option akan memberikan keuntungan terbatas sebesar premi opsi dengan kerugian maksimum ketika harga saham turun menjadi nol.

Pembelian put option dan penjualan call option akan memberikan keuntungan bagi investor bila harga saham yang menjadi patokan mengalami penurunan. Pembelian put option akan memberikan keuntungan maksimum ketika harga saham turun menjadi nol dan kerugian yang mungkin dialami terbatas sampai dengan premi opsi. Sedangkan, penjualan call option akan memberikan keuntungan maksimum sebesar premi opsi tetapi kerugian yang mungkin dialami tidak terbatas tergantung dari kenaikan harga saham yang terjadi di pasar.

Dalam melakukan perdagangan opsi ada beberapa strategi yang dilakukan oleh investor seperti naked strategy, hedge strategy, straddle strategy, strategi kombinasi, dan spread strategy. Selain itu Black & Scholes(1973) ada beberapa hal yang menentukan harga opsi seperti exercise price, waktu sisa jatuh tempo, deviasi standar, harga saham, tingkat suku bunga dan dividen kas. Ada salah satu model untuk menghitung nilai pasar dari opsi yaitu model harga opsi Black Scholes (Black Scholes Option Pricing Model) dengan menggunakan beberapa asumsi.

DAFTAR PUSTAKA

Jogiyanto, H. M. 2020. Teori Portofolio dan Analisis Investasi. Yogyakarta: BPF-UGM.

Keown, A. J., Scott, D. F., Martin, J. J. D., & Petty, J. W. 2000. Dasar-dasar Manajemen Keuangan. Jakarta: Salemba Empat.

Merton, R. C. 1974. on The Pricing of Corporate Debt: The Risk Structure of Interest Rates. Journal of Finance. Vol. 29;449-470.

Smith, A. 1976. An Inquiry into The Nature and Causes of The Wealth Nations. The University of Chicago Press.

Tandelilin, E. 2020. Analisis Investasi dan Manajemen Portofolio. Yogyakarta: BPFE.

Weston, J. F., & Copeland, T. E. 1995. Manajemen Keuangan. Jakarta: Binarupa Aksara

http://www.idx.co.id (Diakses pada tanggal 5 April 2020, pukul 17.45).

http://www.bapepam.go.id (Diakses pada tanggal 5 April 2020, pukul 18.03).

TEORI OPSI (OPTION THEORY)

TEORI OPSI (OPTION THEORY)

Archadia Hana Puspitasari; Carolina Budiman; & Daniel Sugama Stephanus

Program Studi Akuntansi – Fakultas Ekonomi & Bisnis – Universitas Ma Chung – Kabupaten Malang – 2020

1.1 Latar Belakang

Seiring dengan pesatnya kemajuan perekonomian di berbagai negara berkembang saat ini, sistem yang dijalankan pun ikut berkembang pula, hal ini dapat dilihat dari banyaknya negara-negara tersebut yang telah menganut sistem perekonomian modern, dahulunya masih menganut sistem barter atau sistem saling tukar menukar barang antara satu orang dengan orang lain. Tetapi seiring perkembangan jaman saat ini, sistem yang digunakan juga berubah, yang pada awalnya sistem barter, kemudian menggunakan satuan mata uang untuk proses pembelian suatu barang. Memasuki era globalisasi saat ini, tidak hanya satuan mata uang saja yang dapat digunakan untuk menopang perekonomian suatu negara berkembang, tetapi terdapat berbagai jenis investasi yang dapat dijadikan pilihan. Beberapa contoh bentuk investasi yang dapat menjadi pilihan para investor adalah emas, properti, tanah, deposito, namun dengan perkembangan sekarang ini juga terdapat berbagai instrumen yang ada pada pasar uang maupun pasar modal. Pada pasar modal terdapat beberapa jenis instrumen yang dibagi pada empat bagian, yaitu sekuritas di pasar ekuitas, sekuritas di pasar obligasi, sekuritas di pasar derivatif dan reksadana.

Produk derivatif atau produk turunan merupakan efek turunan dari efek utama, baik efek yang bersifat penyertaan, yaitu saham, maupun efek yang bersifat utang, yaitu obligasi. Efek turunan dapat berarti turunan langsung dari efek utama maupun turunan selanjutnya. Derivatif merupakan kontrak atau perjanjian yang nilai atau peluang keuntungannya terkait dengan kinerja aset lain yang mendasarinya atau disebut juga underlying assets. Derivatif juga merupakan kontrak finansial antara dua atau lebih pihak-pihak guna memenuhi janji untuk membeli atau menjual suatu aset komoditas yang dijadikan sebagai objek yang diperdagangkan pada waktu dan harga yang merupakan kesepakatan bersama antara pihak penjual dan pihak pembeli. Nilai pada masa mendatang dari objek yang diperdagangkan tersebut sangat dipengaruhi oleh instrumen induknya yang ada pada di spot market. Secara umum opsi dibagi menjadi dua jenis, yaitu call option atau opsi beli dan put option atau opsi jual. Setiap investor mempunyai hak untuk menjual atau membeli opsi (tergantung pada jenis opsi) pada waktu tertentu dan pada harga yang telah ditetapkan sebelumnya yang terdapat pada perjanjian opsi tersebut.

1.2 Sejarah Opsi

Meskipun tidak diketahui secara pasti sejak kapan pertama kalinya kontrak opsi diperdagangkan, nama diperkirakan oleh para ahli matematika dan ahli filsuf sejak jaman Romawi dan Yunani dulu telah menggunakan metode yang sama seperti kontrak opsi. Para ahli matematika dan filsuf pada saat itu meyakini akan prospek buah Zaitun yang akan membaik di masa mendatang pada saat itu, sehingga menggunakan opsi untuk mengantisipasi harga di kemudian hari. Saat musim sepi, dimana permintaan akan buah Zaitun tidak ada, mereka memperoleh hak pada harga yang sangat rendah dan kemudian menunggu hingga permintaan meningkat sehingga harga juga meningkat. Sehingga mereka yang mempunyai hak untuk membeli di harga perjanjian yang rendah tadi, akan menggunakan haknya guna mendapatkan keuntungan yang berlipat ganda.

Di Belanda pada awal tahun 1660-an, perdagangan kontrak opsi untuk bunga tulip mulai dikembangkan. Pada awalnya pedagang bunga tulip menggunakan call option untuk memastikan harga yang layak untuk memenuhi permintaan. Di saat yang bersamaan para petani bunga tulip menggunakan put options untuk memastikan harga jual yang memadai. Tetapi perdagangan kontrak opsi di Belanda tidak bertahan lama, setelah para spekulan saat itu ikut memperdagangkan kontrak opsi untuk mencari keuntungan. Saat harga pasar sedang jatuh, banyak sekali spekulan-spekulan yang tidak mampu memenuhi kewajiban mereka sehingga membuat perekonomian hancur pada saat itu. Dalam situasi pasar yang tidak ada regulasi pada saat itu, para spekulan telah mencemari kepentingan pihak-pihak yang terkait atau berkepentingan terhadap kontrak opsi tersebut, yaitu para petani maupun para pedagang bunga tulip. Kejadian yang kurang lebih serupa seperti di Belanda terulang di Inggris kira-kira 100 tahun kemudian sejak kejadian di Belanda.

1.2.1 Awal Permulaan Opsi di Amerika

Di Amerika perdagangan kontrak opsi pertama kali diadakan tidak lama setelah adanya perdagangan saham. Di awal abad ke-19 kontrak opsi (call option maupun put option) dikenal sebagai privileges (hak istimewa), tetapi tidak diperdagangkan di bursa. Karena terdapat bermacam-macam perjanjian yang bisa dibuat, maka saat itu hanya tergantung pada pihak pembeli dan penjual yang sepakat untuk menemukan satu sama lain. Kemudian diikuti oleh perusahaan-perusahaan yang mulai menawarkan dengan lebih spesifik melalui iklan-iklan di koran. Tidak seperti kejadian yang terjadi di Belanda dan Inggris pada jaman dahulu, opsi di Amerika secara spesifik dirumuskan dengan penelitian-penelitian yang serius dan cermat. Sekalipun telah diresmikan oleh Investment Act pada tahun 1934, didirikan badan khusus untuk mengawasi perdagangan dengan nama Securities & Exchange Commission (SEC).

Pada awalnya perkembangan opsi relatif lambat, saat tahun 1968 jumlah kontrak opsi yang diperdagangkan tidak lebih dari tiga ratus ribu kontrak, karena saat itu para investor melakukan perjanjian lewat telepon, sedangkan di satu sisi mereka sulit untuk mengetahui apa yang sedang terjadi di pasar pada saat itu dan kendala-kendala lainnya. Joseph W. Sullivan sebagai wakil presiden bagian perencanaan pada Chicago Board of Trade (CBOT) saat itu, yang pertama kali meneliti kemungkinan-kemungkinan untuk diversifikasi ke pasar opsi. Dia menghitung dari dua segi kemungkinan yang adil bagi kedua belah pihak dalam berbagai situasi dan keadaan pasar yang bisa terjadi. Kemudian dia menyimpulkan bahwa dua unsur kunci yang hilang atau tidak ada. Dia menyadari bahwa unsur-unsur yang mempengaruhi harga opsi itu terdiri dari banyak variabel atau faktor tak tetap. Lalu dirumuskan standarisasi harga perjanjian masing-masing kontrak (strike price), waktu kadaluwarsa kontrak opsi (expired date), ukuran (size) yang sekarang, umumnya kita kenal seratus lembar untuk setiap 1 kontrak opsi, dan unsur-unsur lain yang bersangkutan. Yang paling penting adalah dia merekomendasikan atau memperkenalkan ciptaannya sebagai perantara resmi dari kontrak yang ada, dan menjamin penyelesainnya (settlement), dimana saat ini dikenal sebagai Options Clearing House.

Guna menggantikan dealer opsi yang dulunya hanya sebagai perantara antara pembeli dan penjual, CBOT mendirikan Chicago Board Options Exchange (CBOE) dan mulai memperdagangkan call option pada 16 saham pada 26 April 1973. Pada hari pertama terjadi transaksi sebesar 911 kontrak dan kemudian meningkat menjadi 200.000 kontrak lebih di tahun berikutnya. Kemudian bank-bank dan perusahaan-perusahaan asuransi memasukkan opsi ke dalam portofolio mereka sehingga membuat perkembangan opsi berkembang semakin pesat, hingga pada akhir tahun 1974 saja, rata-rata jumlah kontrak opsi yang diperdagangkan telah mencapai rata-rata 200.000 kontrak perhari.

  1. LANDASAN TEORI

2.1 Pengertian Opsi

Opsi merupakan instrumen keuangan yang akhir-akhir ini dikembangkan. Opsi merupakan instrumen derivatif karena nilainya diperoleh berdasarkan keturunan dari instrumen lainnya. Setiap manajer keuangan perlu memahami sifat-sifat opsi, sebab hal ini akan membantu struktur keuangan perusahaan.

Menurut Tandelilin (2020) opsi adalah suatu perjanjian atau kontrak antara penjual opsi (seller/writer) dengan pembeli opsi (buyer), penjual opsi menjamin adanya hak (bukan suatu kewajiban) dari pembeli opsi, untuk membeli atau menjual saham tertentu pada waktu dan harga yang telah ditetapkan. Pihak-pihak yang terlibat dalam opsi adalah para investor dengan investor lainnya dan tidak melibatkan emiten. Opsi diterbitkan oleh investor dan dijual kepada investor lainnya sehingga perusahaan yang merupakan emiten dari saham yang dijadikan patokan tersebut tidak mempunyai kepentingan dalam transaksi opsi tersebut. Emiten saham bersangkutan tidak bertanggung jawab dalam pembuatan,penghentian atau pelaksanaan kontrak opsi. Dalam prakteknya, jenis sekuritas yang bisa dijadikan patokan dalam opsi tidak hanya saham, tetapi bisa sekuritas lain seperti indeks pasar.

Jenis opsi terbagi menjadi beberapa jenis, tergantung pada sudut pandang yang digunakan. Berdasarkan cara atau tempat opsi tersebut diperdagangkan, opsi terbagi menjadi tiga golongan yaitu:

  1. Opsi yang diperdagangkan di bursa (listed options), yang meliputi opsi saham, opsi komoditi, opsi obligasi, opsi indeks saham, opsi kontrak berjangka.
  2. Opsi yang diperdagangkan antara dua pihak dan seringkali diperdagangkan di luar bursa (Over The Counter – OTC), yang meliputi opsi suku bunga, opsi valuta asing, dan opsi swap (swap options).
  3. Opsi saham karyawan (employee stock option), yaitu opsi yang diterbitkan perusahaan sebagai kompensasi atau bonus bagi para karyawan.

Berdasarkan metode exercise-nya, opsi terbagi menjadi dua jenis, yaitu opsi tipe Amerika dan opsi tipe Eropa. Opsi tipe Amerika (American Option) memberikan kesempatan kepada taker (pemegang opsi) untuk meng-exercise haknya setiap saat hingga waktu jatuh tempo. Sedangkan opsi tipe Eropa (European Option) hanya memberikan kesempatan pada taker untuk meng-exercise haknya pada saat waktu jatuh tempo.

Berdasarkan bentuk hak yang terjadi,opsi bisa dikelompokkan menjadi dua, yaitu:

  1. Opsi beli (call option) : opsi yang memberikan hak kepada pemegangnya untuk membeli saham dalam jumlah tertentu pada waktu dan harga yang telah ditentukan. Investor yang membeli call option akan berharap harga saham akan naik dan akan meraih keuntungan dari kenaikan harga tersebut. Dengan membeli opsi, investor dapat melakukan spekulasi terhadap kenaikan harga saham tanpa harus mempunyai saham tersebut. Suatu kontrak opsi biasanya meliputi empat hal yang dinyatakan secara jelas, yaitu :
  2. Sejumlah saham yang bisa dibeli.
  3. Nama perusahaan
  4. Modal saham yang diberikan kepada pembeli hak dalam kontrak opsi disebut exercise price.
  5. Tanggal jatuh tempo yaitu jangka waktu hak pada suatu kontrak yang menyangkut kapan dimulainya suatu hak dan kapan berakhirnya.

Option buyer diberi hak untuk membeli instrumen keuangan atau kekayaan seperti obligasi pada harga yang telah ditetapkan (exercise price / E ). Option buyer membayar option writer suatu fee yang ditentukan yang disebut dengan call premium. Harga ini merupakan harga yang ditetapkan dan disepakati. Option buyer hanya akan mendapatkan keuntungan jika harga instrumen keuangan sesuai kontrak bertambah pada perioda selama memunyai hak untuk melakukan hak tersebut dan option buyer melakukan hak tersebut. Option buyer akan memperoleh keuntungan jika harga instrumen keuangan naik di atas call premium (C) yang sudah dibayar. Apabila harga pasar meningkat,kesempatan option buyer untuk mendapatkan keuntungan akan meningkat. Demikian pula sebaliknya.

Option writer memperoleh keuntungan sebesar perbedaan antara call premium dan exercise price. Jika harga pasar instrumen naik,maka keuntungan option writer (penjual hak call option ) menurun. Jadi apabila harga opsi turun maka bunga naik sehingga option writter memperoleh keuntungan. Keuntungan dibatasi oleh call premium dan exercise price. Hal ini dikarenakan dua harga tersebut ditentukan oleh kontrak dan tidak dapat diubah. Apabila harga opsi naik maka bunga akan turun sehingga option writter mempunyai kemungkinan mendapat kerugian yang bertambah besar.

  1. Opsi jual (put option) : opsi yang memberikan hak kepada pemiliknya untuk menjual saham tertentu pada jumlah waktu dan harga yang telah ditentukan. Jika kontrak put option dilaksanakan, maka pemegang opsi akan mempunyai hak untuk menjual saham yang telah ditentukan kepada penjual opsi, pada waktu, jumlah dan harga yang ditentukan pula. Empat hal yang biasa dinyatakan secara jelas dalam tipe kontrak put option:
  2. Sejumlah saham yang dapat dibeli
  3. Nama perusahaan saham yang dibeli
  4. Harga pembayaran, umumnya harga yang ditetapkan (exercise price), yaitu harga suatu instrumen keuangan atau aset dapat dijual atau dibeli oleh pembeli hak pada suatu kontrak.
  5. Tanggal jatuh tempo, yaitu tanggal dimana hak kontrak dipertimbangkan habis masa berlakunya.

Perusahaan yang sahamnya dijual maupun dibeli tidak ikut campur dalam kontrak tersebut. Perusahaan tidak secara langsung melakukan transaksi uang di pasar. Selain itu, pemegang opsi tidak menerima dividen maupun mendapatkan hak suara untuk memilih direktur perusahaan, mereka hanya berhak setelah melakukan pembelian saham perusahaan. Pembeli put option memunyai hak untuk menjual instrumen keuangan pada option writer pada harga yang telah ditetapkan. Sebagai imbalannya, option buyer membayar put premium kepada option writer. Mengenai hubungan tingkat bunga dan harga sekuritas, diketahui bahwa apabila bunga naik, maka harga sekuritas akan turun. Hal ini berarti bahwa option buyer mempunyai kemungkinan untuk memperoleh keuntungan. Hal tersebut dikarenakan harga sekuritas turun, sedangkan exercise price telah ditetapkan sesuai kontrak dan tidak biasa diubah. Option buyer mendapat keuntungan apabila harga instrumen keuangan dalam kontrak opsi turun di bawah put premium. Jika bunga tingkat bunga turun, maka harga sekuritas naik, sehingga option buyer mempunyai kemungkinan mengalami kerugian. Tetapi kerugian maksimal dibatasi pada put premium.

2.1.1.1 Istilah Penting Terkait Sekuritas Opsi

  1. Exercise (strike) price yaitu harga per lembar saham yang dijadikan patokan pada saat jatuh tempo. Untuk call option, exercise price berarti harga yang harus dibayar pemilik opsi beli pada saat jatuh tempo. Sedangkan bagi pemegang put option ,exercise price berarti harga yang akan diterima oleh pemilik put option dari penjual put option.
  2. Expiration date yaitu batas waktu dimana opsi tersebut dapat dilaksanakan. Ada 2 model expiration date yang bisa diterapkan,yaitu model Amerika dan model Eropa. Opsi dengan gaya Amerika dapat dilakukan kapan saja sampai dengan batas waktu yang telah ditentukan. Sedangkan opsi gaya Eropa dilaksanakan hanya pada saat expiration date.
  3. Premi opsi adalah harga yang dibayarkan oleh pembeli opsi kepada penjual opsi.

Sebagai contoh seorang investor (X) membeli call option dengan harga Rp100, dan saham yang dijadikan patokan adalah saham ABC. Informasi lain mengenai call option adalah sebagai berikut.

  1. Exercise price ditetapkan sebesar Rp1.200.
  2. Expiration date adalah 3 bulan dari sekarang,dan opsi tersebut dapat dilaksanakan kapan saja,sampai dengan expiration date dan juga pada saat expiration date (gaya Amerika).

Setelah membeli call option tersebut,si X dapat memutuskan untuk membeli atau tidak menjual saham ABC dari penjual opsi,kapan saja sampai batas waktu tiga bulan dengan harga Rp1.200. Si X akan melaksanakan opsi tersebut jika kondisinya menguntungkan (harga pasar saham ABC lebih dari Rp1.200). Untuk memperoleh opsi tersebut, X membayar premi opsi sebesar Rp100 kepada penjual opsi. Dalam kasus di atas kerugian maksimum yang bisa dialami si X adalah sejumlah harga premi opsi,yaitu Rp100, karena bila kondisinya tidak menguntungkan (harga saham ABC di bawah Rp1.200), maka si X tidak akan melaksanakan opsi tersebut, karena opsi tersebut hanya memberi hak bagi si X, dan bukannya kewajiban untuk membeli berapapun harga pasarnya. Sebaliknya, dari sisi penjual opsi, keuntungan maksimum yang bisa didapatkan oleh penjual opsi hanyalah sebesar harga premi opsi, karena kerugian membeli opsi juga merupakan keuntungan penjual opsi. Sedangkan potensi keuntungan dan kerugian yang bisa diperoleh pembeli opsi adalah tidak terbatas.

2.1.2 Faktor-Faktor yang Menentukan Premium

  1. Harga pasar sekuritas yang diperdagangkan dalam kontrak opsi.

Harga pasar suatu sekuritas akan berpengaruh terhadap premium. Pada kasus call option, apabila harga sekuritas naik maka premium juga meningkat. Kenaikan harga ditandai bahwa option buyer akan untung ketika ia melakukan haknya. Pada kasus put option jika harga sekuritas naik maka keuntungannya turun, put premium juga turun.

Harga exercise ditentukan pada saat mereka melakukan kontrak. Apabila option writer mau menerima harga call premium tinggi dari suatu hak dalam kontrak, berarti harga suatu exercise rendah. Dan apabila ia menerima call premium rendah, berarti harga exercise dari hak yang ada di kontrak tinggi.

  1. Tanggal jatuh tempo suatu opsi.

Suatu opsi akan menjadi tidak berlaku setelah tanggal yang ditentukan dalam perjanjian kontrak habis masa berlakunya. Semakin panjang waktu jatuh tempo, semakin tinggi kesempatan harga di pasar akan naik dan semakin besar kemungkinan pembeli opsi akan melaksanakan haknya. Selanjutnya, dana dari investor akan ditarik, sehingga investor tidak bisa investasi di tempat lain, karena kekayaan investor ditahan pada opsi. Investor harus memperoleh kompensasi yang cukup tinggi, agar investor tertarik untuk melakukan kontrak opsi tersebut. Jadi, sesuai dengan risiko waktu premium yang ditawarkan tinggi.

  1. Harga yang diharapkan dari suatu opsi tidak dapat diramalkan (fluktuatif) sehingga menyulitkan besarnya premium.

Apabila pembeli opsi memperkirakan bahwa suatu aset akan naik, maka premium yang dibayarakan menjadi tinggi. Tetapi sebaliknya, apabila diperkirakan harga suatu aset akan turun, maka premium yang dibayar akan rendah.

2.1.3 Manfaat Opsi bagi Perusahaan (Emiten)

  1. Mengamankan hasil investasi

Opsi merupakan jaminan bagi penanam modal terhadap laba dari investasinya. Investor melakukan pengamanan dengan menetapkan harga yang akan datang sebagai suatu agunan bagi penanam modal. Sebagai contoh diperkirakan investor akan membeli 20.000 sekuritas. Harga sekuritas tersebut sekarang Rp18.000 meskipun investor memperkirakan bahwa harga akan naik menjadi Rp19.000 pada bulan yang akan datang,investor tidak mempunyai dana pada saat itu. Kemudian ia membuat kontrak call option pada harga Rp18.500. Apabila harga sekuritas meningkat dari Rp18.500 ke Rp19.500 (atau bisa naik berapa saja). Investor akan melakukan haknya pada kontrak opsi sebab dia akan untung. Ia akan membeli sekuritas dari option writer pada harga rp18.500 dan menjualnya kepada masyarakat seharga Rp19.500 , sehingga ia mendapatkan keuntungan Rp1000 per sekuritas. Transaksi tersebut disebut hedging, dimana risiko sekuritas bisa dipindahkan ke institusi atau ke individu lain. Individu atau institusi yang menerima risiko tersebut dibayar ,dalam kasus ini diberi premium

  1. Mengamankan kenaikan bunga

Debitur menjaga supaya terhindar dari tingkat pinjaman bunga yang tinggi. Sebagai contoh,institusi yang sering meminjam dana dari pasar keuangan,dimana diperkirakan tingkat bunga mengalami kenaikan secara rutin. Tingkat bunga sekarang 8% , tetapi pada saat mendatang bunga diperkirakan mencapai 11%. Harga sekuritas pada kontrak put option dilakukan sebesar Rp1.000. Apabila tingkat bunga naik maka harga sekuritas akan turun yaitu di bawah Rp1.000,sehingga ia akan untung apabila melakukan haknya menjual sekuritas tersebut dengan harga exercise tersebut.

2.1.4 Mekanisme Perdagangan Opsi

Pembahasan mekanisme perdagangan opsi ini lebih menekankan pada Gaya Amerika. Pada pedagangan opsi ada sejenis lembaga kliring opsi (Option Clearing Corporation/OCC) yang berfungsi sebagai perantara antara broker yang mewakili pembeli dengan pihak yang menjual opsi. Lembaga kliring opsi tersebut bertugas untuk memastikan bahwa masing-masing pihak memenuhi kewajibannya. Dalam mekanisme perdagangan opsi, pihak penjual call option melalui broker yang ditunjuk menyerahkan sejumlah saham yang dijadikan patokan pada OCC dan pembeli opsi yang akan melaksanakan call option membeli saham tersebut dari OCC, sehingga transaksi pelaksanaan opsi dilakukan dengan menggunakan perantara OCC, OCC menjadi pembeli untuk semua penjual dan sekaligus menjadi penjual untuk setiap pembeli. Selanjutnya, investor yang akan melaksanakan opsi akan menghubungi broker mereka dan broker tersebut akan menghubungi OCC. Kemudian, OCC secara acak akan memilih broker yang menjual opsi tersebut dan menunjuk mereka untuk melaksanakan kewajibannya. Dalam proses tersebut, penjual opsi tidak boleh melaksanakan transaksi yang sebaliknya untuk menghindari kewajiban sehingga penjual call option yang menerima penugasan dari OCC harus menjual saham yang sudah disepakati dan untuk penjual put option harus membeli saham tersebut.

2.1.5 Strategi Perdagangan Opsi

Berdasarkan pengetahuan tentang karakteristik keuntungan dan kerugian opsi, investor dapat menggunakan opsi untuk melindungi portofolio terhadap risiko penurunan harga pasar (hedging) dan untuk melakukan spekulasi terhadap pergerakan harga saham (speculation). Investor yang memiliki ekspektasi bahwa harga saham yang mengalami kenaikan akan membeli call option atau menjual put option. Sebaliknya, jika investor berharap harga saham akan turun, maka investor akan membeli put option atau menjual call option. Dengan demikian, dalam prakteknyam investor biasa saja melakukan berbagai strategi perdagangan opsi dengan menerapkan kombinasi beberapa transaksi pembelian atau menjual opsi pada saat yang bersamaan agar biasa memperoleh keuntungan yang lebih besar dan untuk meminimalkan kerugian yang harus dihadapi.

Dalam kenyataannya ada banyak strategi perdagangan opsi yang dilakukan oleh investor tetapi pada dasarnya strategi dikelompokkan menjadi lima, yaitu :

Naked strategy merupakan strategi perdagangan opsi yang memilih satu dari empat posisi, yaitu sebagai pembeli call, penjual call, pembeli put atau penjual put option. Disebut dengan naked strategy karena strategi tersebut tidak melakukan tindakan yang berlawanan atau mengambil posisi lain yang dapat mengurangi kerugian dengan cara memiliki saham yang dijadikan patokan. Pilihan posisi yang akan diambil investor tergantung dari estimasi kondisi pasar di masa yang akan datang.

Tabel 1. Naked strategy dan perkiraan kondisi pasar.

Perkiraan Kondisi Pasar Strategi
Sangat baik Membeli call option
Agak baik Menjual put option
Agak buruk Menjual call option
Sangat buruk Membeli put option

Dari tabel di atas, terlihat adanya empat skenario kondisi pasar yang mungkin diperkirakan oleh investor. Setiap skenario kondisi pasar tersebut bisa dimanfaatkan untuk memperoleh keuntungan dengan menerapkan strategi tertentu. Strategi membeli call option menunjukkan bahwa investor mempunyai perkiraan bahwa kondisi pasar akan sangat baik, karena dengan melakukan strategi membeli call option, investor akan mendapatkan keuntungan maksimal jika harga saham mengalami kenaikan dan pada saat yang sama kerugian maksimal yang bisa diderita hanya sebesar premi opsi. Dalam skenario yang lain, jika investor percaya bahwa harga beberapa saham akan mengalami penurunan atau berubah tetapi tidak banyak maka investor akan memilih untuk menjual call option.

Sedangkan strategi membeli put option merupakan strategi yang berusaha untuk memperoleh keuntungan maksimal dari penurunan harga saham di masa yang akan datang, dan membatasi kerugian jika ternyata harga saham di masa datang akan mengalami kenaikan (tidak sesuai dengan yang diharapkan). Strategi yang keempat, yaitu strategi menjual put option, dipilih oleh investor yang memperkirakan bahwa harga saham akan naik dengan tingkat yang cukup signifikan.

Dalam hedge strategy, investor selain mengambil satu posisi dalam perdagangan opsi, ia juga mengambil posisi yang lain dalam perdagangan saham yang dijadikan patokan dalam opsi tersebut. Tujuan dari strategi ini adalah untuk mengurangi kerugian jika terjadi pergerakan harga yang tidak sesuai dengan yang diharapkan. Ada dua jenis hedge strategy yang umum dikenal, yaitu covered call writing strategy dan protective put buying strategy.

Covered call writing strategy dimaksudkan untuk melindungi portofolio yang dimiliki terhadap penurunan harga saham dengan cara menjual call option terhadap saham yang telah dimiliki dalam portofolio (investor menjual call option dan memiliki saham yang dijadikan patokan secara fisik). Jika harga saham mengalami penurunan, maka investor akan mengalami kerugian (pada posisi pemilikan saham), tetapi ia masih mempunyai kesempatan untuk mendapatkan keuntungan dari investasi kembali pendapatan yang diperoleh dari penjualan call option.

Sebagai contoh, misalnya seorang investor A mempunyai saham XYZ sebanyak 100 lembar, dan harga saham XYZ sekarang adalah Rp1.000. Nilai total yang dimiliki A adalah Rp100.000. Misalnya, pada saat itu call options untuk 100 lembar saham XYZ pada strike price sebesar Rp1.000 dapat dijual pada harga Rp5.000. Jika kemudian si A memutuskan untuk tetap memiliki 100 lembar saham XYZ dan menjual 1 call option, maka keuntungan (kerugian) dari strategi tersebut akan dipengaruhi oleh harga saham XYZ pada saat expiration date. Pada saat expiration date, salah satu skenario berikut ini bisa terjadi, sebagai berikut.

  1. Jika harga saham XYZ per lembar lebih besar dari Rp1.000, maka pembeli call option akan melaksanakan opsi tersebut dan membayar kepada penjual opsi sebesar Rp5.000. Sebanyak 100 lembar saham XYZ yang dimiliki A akan dibeli oleh pembeli opsi dengan harga Rp100.000, sehingga A akan memperoleh uang sebesar Rp105.000. Pada kenyataannya, A bisa memperoleh pendapatan yang lebih besar dari Rp105.000, karena A mempunyai kesempatan untuk menginvestasikan kembali uang Rp5.000 yang didapat dari hasil penjualan opsi tersebut, sehingga keuntungan minimum yang diperoleh A ketika harga saham XYZ per lembar lebih besar dari Rp1.000 adalah sebesar Rp5.000 (Rp105.000 – Rp100.000).
  2. Jika harga saham XYZ sama dengan strike price (Rp1.000), maka pembeli call option tidak akan melaksanakan opsinya, maka total nilai portofolio yang dimiliki A adalah Rp105.000, yaitu 100 lembar saham XYZ senilai Rp100.000 dan uang sebesar Rp5.000 yang merupakan hasil penjualan opsi.
  3. Jika harga saham XYZ kurang dari Rp1.000 tetapi lebih besar dari Rp950, dan pembeli opsi tidak melaksanakan opsinya, maka A akan memperolah keuntungan tetapi jumlahnya kurang dari Rp5.000. Misalnya harga saham XYZ per lembar pada saat expiration date adalah Rp960, maka 100 saham XYZ yang dimiliki A nilainya turun menjadi Rp96.000. Sedangkan dari penjualan opsi, A akan memperoleh keuntungan sebesar Rp5.000. Dengan demikian, nilai portofolio yang dimiliki A adalah Rp101.000 atau profitnya sebesar Rp1.000.
  4. Jika harga per lembar saham XYZ sama dengan Rp950, dan pembeli opsi tidak melaksanakan opsinya, maka A tidak mendapat profit maupun rugi atau sama dengan impas, karena nilai portofolio yang dimiliki tetap Rp100.000. 100 lembar saham XYZ yang dimiliki A pada saat expiration date hanya bernilai Rp95.000 ditambah dengan Rp5.000 maka nilainya adalah Rp100.000 atau sama dengan nilai portofolio sebelumnya.
  5. Misalnya harga saham XYZ kurang dari Rp950, dan pembeli opsi tidak melaksanakan opsinya, maka A akan mengalami kerugian. Misalnya harga saham XYZ pada saat expiration date adalah Rp900 maka nilai portofolio A hanya akan bernilai Rp95.000 (100 lembar saham XYZ dengan harga Rp900 per lembar ditambah dengan Rp5.000), sehingga A akan mengalami kerugian sebesar Rp500 (Rp100.000-Rp95.000). Kondisi paling buruk yang bisa dihadapi oleh A adalah ketiga harga saham XYZ jatuh mencapai titik nol, dimana A akan mengalami kerugian sebesar Rp95.000 (Rp100.000 – Rp5.000).

Protective put buying strategy dilakukan oleh investor yang ingin melindungi portofolio yang dimiliki terhadap risiko penurunan nilai pasar dengan cara membeli put option terhadap saham yang ada dalam portofolio tesebut (investor membeli put option dan memiliki saham yang dijadikan patokan). Sebagai contoh, seorang investor Z mempunyai saham XYZ sebanyak 100 lembar dan harga saham XYZ sekarang adalah Rp1.000. Nilai total portofolio yang dimiliki Z adalah Rp100.000. Seandainya pada saat itu put option untuk 100 lembar saham XYZ pada strike price sebesar Rp1.000 dapat dijual pada harga Rp5.000 pada saat expiration date, maka keuntungan (kerugian) yang dapat diperoleh Z adalah sebagai berikut.

  1. Jika harga saham XYZ per lembar lebih besar dari Rp1.050, maka Z tidak akan melaksanakan opsinya, sehingga akan memperoleh keuntungan dari strategi protective put buying yang dilakukannya. Sebagai contoh harga saham XYZ di pasar ternyata Rp1.100 maka nilai pasar dari 100 lembar yang dimiliki adalah Rp110.000, sehingga keuntungan yang diperoleh Z adalah selisih nilai pasar saham yang dimiliki pada expiration date dengan sebelumnya, dikurangi harga opsi yang dibayar atau sebesar Rp5.000 (Rp110.000 – Rp100.000 – Rp5.000).
  2. Jika harga saham XYZ sama dengan Rp1.050, maka Z tidak memperoleh keuntungan ataupun kerugian.
  3. Z akan mengalami kerugian jika saham XYZ kurang dari Rp1.050, tetapi lebih besar dari Rp1.000. Sebagai contoh harga saham XYZ pada saat expiration date adalah Rp1.020 maka Z akan mengalami kerugian sebesar Rp3.000, karena capital gain dari kepemilikan saham sebesar Rp2.000, lebih kecil dari biaya pembelian put option (Rp5.000).
  4. Jika harga saham XYZ di bawah Rp1.000, maka dapat dipastikan investor akan melaksanakan opsinya, sehingga tetap memperoleh Rp100 per lembar untuk 100 lembar saham atau nilainya tetap Rp100.000. Kerugian yang diderita Z adalah sebesar biaya yang telah dikeluarkan untuk membeli put option tersebut, yaitu sebesar Rp5.000.

Hal penting yang perlu diperhatikan dalam strategi protective put buying adalah strike price yang ditentukan dalam put option. Semakin tinggi strike price, maka semakin tinggi harga minimum yang bisa didapatkan investor untuk setiap lembar saham yang dimiliki. Tetapi hal ini bukan tanpa biaya, karena semakin tinggi strike price akan semakin tinggi pula harga opsi. Bagi investor institusional yang ingin menerapkan protective put buying tentu memerlukan dana yang mahal, karena biasanya investor institusional memiliki saham yang relatif beragam. Untuk melindungi portofolionya terhadap penurunan harga, maka investor harus membeli put option untuk setiap saham yang dimiliki, dan ini tentu saja akan membutuhkan biaya yang tidak sedikit. Investor institusional dapat mengurangi harga tersebut dengan cara hanya membeli put option terhadap saham-saham yang mempunyai korelasi dengan pasar yang sangat kuat saja.

Straddle strategy dilakukan dengan cara membeli atau menjual, baik berupa call option maupun put option yang mempunyai saham patokan, expiration date dan strike price yang sama. Penerapan strategi ini akan melibatkan dua opsi yang memiliki karakteristik yang sama, tetapi di antara kedua opsi tersebut, salah satunya adalah call option dan yang lainnya adalah put option. Strategi ini dapat dilakukan dengan dua cara, yaitu strategi long straddle atau short straddle. Pada long straddle investor akan membeli put dan call option, sedangkan pada short straddle investor akan menjual kedua opsi tersebut (put dan call option).

Strategi long straddle tidak seperti naked strategi (posisi sebagai pembeli opsi) yang memperoleh keuntungan jika pergerakan harga saham yang dijadikan patokan sesuai dengan yang diharapkan, strategi long straddle akan memberikan keuntungan jika terjadi pergerakan harga saham yang memadai, baik untuk kenaikan harga maupun penurunan harga.

Dengan melakukan strategi long straddle, investor dapat mengantisipasi pergerakan saham XYZ baik itu harga naik maupun turun. Jika harga saham XYZ naik, put option akan memberikan keuntungan. Sebaliknya jika harga saham XYZ turun, maka put opsi yang akan memberikan keuntungan.

Pergerakan harga di atas Rp1.075 atau di bawah Rp925 akan memberikan keuntungan kepada X. Secara teknis, keuntungan potensial yang bisa di dapatkan X bersifat tidak terbatas karena call option yang di milikinya menyebabkan X dapat membeli saham pada harga Rp1.000 dan kemudian ia dapat menjual saham tersebut pada harga pasar yang tertinggi. Sedangkan kerugian maksimal yang bisa diderita oleh X adalah sebesar kedua harga opsi tersebut.

Strategi short straddle dilakukan oleh investor yang mempunyai estimasi bahwa pergerakan harga saham (bukan arah pergerakannya) tidak terlalu besar atau harga saham relatif tidak berubah.

Berbagai variasi strategi straddle telah banyak dilakukan, di antaranya adalah strategi strip dan strap. Dalam strategi strip dibutuhkan dua put option dan satu call option pada saham yang sama, sehingga keuntungan potensial yang diperoleh pada strategi strip akan lebih besar jika pergerakan harga saham cenderung turun. Sedangkan strategi strap akan memperoleh keuntungan yang semakin besar jika terjadi penurunan harga saham. Pada strategi strap, investor membeli dua call option dan satu put option pada saham yang sama.

Strategi kombinasi sama dengan strategi straddle, yaitu mengkombinasikan call dan put option dengan patokan saham yang saham, tetapi strike price dan atau expiration date masing-masing opsi berbeda. Seperti halnya strategi straddle, strategi kombinasi juga bisa dilakukan dengan cara membeli (long position) atau menjual (short position) kedua jenis opsi (call dan put) secara bersama-sama.

Pada strategi spread, investor membeli satu seri dalam suatu jenis option dan secara simultan menjual seri lain dalam kelas option yang sama. Dengan kata lain strategi spread merupakan strategi pembelian sebuah kelas opsi dibiayai secara keseluruhan oleh hasil penjualan opsi yang lain. Opsi dikatakan dalam satu kelas jika sekelompok opsi (put atau call) mempunyai patokan saham yang sama. Suatu kelas opsi akan terdiri dari opsi-opsi yang mempunyai strike price dan expiration date yang sama.

Sebagai contoh saham XYZ mempunyai dua kelas opsi, yaitu semua put option dan semua call option yang menggunakansaham XYZ sebagai patokannya. Masing-masing kelas tersebut terdiri dari berbagai seri opsi yang mempunyai strike price dan expiration date yang berbeda. Investor yang menerapkan strategi spread akan membeli satu seri dalam sebuah kelas opsi dan akan menjual seri lain, tetapi opsi tersebut ada dalam kelas opsi yang sama. Posisi menjual dan membeli secara simultan tersebut akan menurunkan risiko seandainya investor hanya membeli atau menjual opsi. Di samping itu, strategi spread juga akan memberikan potensi profit yang lebih besar di bandingkan jika investor hanya membeli atau menjual opsi saja.

Strategi spread dapat digunakan oleh investor dengan berbagai variasi, antara lain spread horizontal (spread waktu), spread vertikal (spread harga), bull spread, dan bearish spread. Spread horizontal adalah spread dengan menggunakan opsi-opsi yang mempunyai strike price yang sama tetapi mempunyai expiration date yang berbeda. Spread vertikal adalah spread antara opsi-opsi yang mempunyai expiration date yang sama tetapi strike price-nya berbeda. Sedangkan untuk bull spread adalah strategi spread yang di dasarkan pada harapan bahwa pasar akan mengalami kenaikan dan untuk bearish adalah kebalikannya yaitu pada saat pasar mengalami penurunan.

2.2 Penilaian Opsi

Penilaian terhadap opsi perlu dilakukan untuk mengestimasikan nilai intrinsik suatu opsi dan selanjutnya juga akan berguna untuk menentukan harga sebuah opsi. Dalam penilaian opsi, terkadang kita menemui dimana harga premi opsi melebihi nilai intrinsiknya. Kelebihan ini disebut dengan nilai waktu atau premi waktu.

2.2.1 Nilai Intrinsik dan Premi Waktu

Nilai intrinsik opsi adalah nilai ekonomis jika opsi tersebut dilaksanakan. Jika tidak ada nilai ekonomis yang positif dari suatu opsi maka nilai intrinsik opsi adalah nol. Dengan demikian, call option akan mempunyai nilai intrinsik yang positif jika harga saham lebih besar dari strike price . Besarnya nilai intrinsik tergantung dari selisih antara harga saham yang sebenarnya dengan harga strike price. Tetapi jika ternyata harga strike price lebih besar daripada harga saham, maka nilai intrinsik dari call option adalah nol. Sebagai contoh sebuah call option dengan strike price Rp950 dan harga sahamnya adalah Rp1.000, maka nilai intrinsik dari opsi tersebut adalah Rp50. Investor yang membeli opsi tersebut akan melaksanakan opsinya yaitu dengan membeli saham dengan harga Rp950 dan menjual saham tersebut di pasar dengan harga Rp1.000. Ketika sebuah opsi mempunyai nilai intrinsik yang positif maka opsi itu dikatakan in the money.

Jika strike price suatu call option lebih besar dari harga saham maka opsi tersebut dikatakan out of the money. Bila strike price sama dengan call option maka opsi itu dikatakan at the money. Opsi yang berada di posisi at the money atau out of the money memiliki nilai intrinsik sama dengan nol karena tidak memberikan keuntungan apapun bagi pembeli opsi. Sedangkan nilai intrinsik put option adalah perbedaan antara strike price dengan harga saham. Sebuah put option akan mempunyai nilai intrinsik yang positif jika harga saham berada di bawah strike price.

Tabel 2. Nilai intrinsik sebuah opsi

Harga saham >Strike price
Call option Put option
Nilai intrinsik Positif (harga saham-strike price) Nol
Istilahnya In the money Out of the money
Harga saham strike price, maka dikatakan in the money. Sedangkan pada put option , jika harga saham strike price maka dikatakan out of the money dan bila harga saham = strike price maka dikatakan at the money.
  • Manfaat opsi adalah manajemen risiko, waktu yang fleksibel, sarana spekulasi, leverage, diversifikasi, penambahan pendapatan, discount, dan strategi investasi.
  • Risiko opsi adalah opsi bersifat kompleks, berisiko, dan tidak cocok bagi kebanyakan investor, pada saat memberi opsi atau ketika writing a covered call option, investasi yang dilakukan mungkin akan mengalami kerugian 100%, banyak faktor yang mempengaruhi harga dari sebuah kontrak option, kondisi atau pembatasan perdagangan sementara, opsi indeks memiliki karakteristik khusus dan risiko-risiko lainnya.
  • DAFTAR PUSTAKA

    Manurung, Jonni dan Adler Haymans Manurung. 2008. Ekonomi Keuangan dan Kebijakan Moneter. Jakarta : Salemba Empat

    Tandelilin, Eduardus. 2020. Teori Portofolio dan Investasi edisi 1. Yogyakarta : Kanisius

    Peringkat broker opsi biner:
    Opsi biner dan forex
    Tinggalkan Balasan

    ;-) :| :x :twisted: :smile: :shock: :sad: :roll: :razz: :oops: :o :mrgreen: :lol: :idea: :grin: :evil: :cry: :cool: :arrow: :???: :?: :!: